Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Asia bergerak bervariasi pada perdagangan Kamis setelah investor mencermati kinerja keuangan perusahaan teknologi besar Amerika Serikat (AS). Selain itu, investor juga tengah menelaah dampak keputusan Bank Sentral AS atau The Fed terhadap pasar saham.
Mengutip CNBC, Kamis (29/10/2026), indeks Nikkei 225 Jepang naik lebih dari 0,58 persen, sementara Topix bergerak mendatar. Indeks Kospi Korea Selatan menguat 0,11 persen saat pembukaan, sedangkan Kosdaq turun 0,97 persen.
Advertisement
Indeks S&P/ASX 200 Australia naik 0,51 persen.
Untuk kontrak berjangka Nasdaq-100 turun 1,2 persen, sedangkan kontrak berjangka S&P 500 melemah 0,5 persen.
Dalam perdagangan setelah jam bursa, saham Microsoft naik 3 persen. Pertumbuhan bisnis infrastruktur komputasi awan Azure membantu perusahaan tersebut membukukan pendapatan dan laba di atas perkiraan pada kuartal I tahun fiskal, menurut data LSEG.
Sebaliknya, saham Alphabet merosot 9 persen setelah laba per saham yang disesuaikan dan pendapatan kuartal III tidak memenuhi ekspektasi. Perusahaan juga mencatat arus kas bebas negatif US$ 9,07 miliar dan mempertahankan proyeksi belanja modal tahunan sebesar US$ 195 miliar hingga US$ 205 miliar.
Investor Pantau Keputusan The Fed dan Data Inflasi AS
Pergerakan saham teknologi menjadi perhatian investor di tengah tren investasi kecerdasan buatan. Saham sektor semikonduktor dan memori sempat tertekan sepanjang sebagian besar Oktober, sebelum mulai menguat dalam beberapa hari terakhir.
Pada perdagangan reguler Rabu, saham Micron Technology melonjak hampir 6 persen dan Broadcom naik lebih dari 2 persen. Kenaikan saham semikonduktor membantu indeks S&P 500 menguat untuk hari ketiga berturut-turut. Nasdaq Composite juga naik 0,3 persen.
Di sisi kebijakan moneter, Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,75-4 persen. The Fed menyatakan inflasi “masih tinggi” dan membutuhkan tambahan data sebelum menentukan langkah selanjutnya.
Daniel Siluk dari Janus Henderson Investors menilai keputusan tersebut mencerminkan sikap hati-hati.
“Pintu tetap terbuka untuk pengetatan lebih lanjut, tetapi Komite tampaknya bersedia menunggu data yang masuk untuk memastikan perlunya tindakan tambahan,” ujarnya.
Investor selanjutnya menantikan data indeks harga belanja konsumsi pribadi (PCE) September, data awal produk domestik bruto (PDB) kuartal III, serta klaim pengangguran mingguan AS.
Laporan keuangan Caterpillar dan Eli Lilly juga menjadi perhatian, disusul Amazon dan Intel setelah perdagangan ditutup.