Liputan6.com, Jakarta - Pemantauan visual Gunung Anak Krakatau terkendala akibat peralatan pengamatan tertutup abu vulkanik. Sementara itu, aktivitas erupsi gunung api di Selat Sunda tersebut dilaporkan meningkat pada Selasa (27/10/2026).
Dalam video yang diunggah akun media sosial @krakatau_ca_cal, gumpalan abu vulkanik berwarna kelabu tampak menyembur tinggi dari puncak Gunung Anak Krakatau. Abu kemudian terlihat berhamburan dan jatuh ke perairan laut di sekitar gunung api tersebut.
Advertisement
Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau, Deny Mardiono, membenarkan adanya laporan erupsi tersebut. Namun, dia mengungkapkan bahwa pemantauan visual saat ini tidak berjalan optimal karena sejumlah peralatan pengamatan mengalami kendala.
"Ya, peralatan kami saat ini terkendala untuk memantau secara visual," kata Deny saat dikonfirmasi, Selasa (27/10/2026).
Deny menjelaskan, panel surya dan kamera pengawas atau CCTV tertutup abu vulkanik. Kondisi tersebut mengganggu pengisian daya sehingga peralatan pengamatan tidak dapat beroperasi secara optimal.
"Dikarenakan tertutup abu vulkanik sehingga pengisian catu daya tidak optimal untuk menghidupkan peralatan," jelasnya.
Meski pemantauan visual terganggu, Deny memastikan peralatan seismik masih berfungsi. Berdasarkan pemantauan kegempaan, aktivitas Gunung Anak Krakatau masih didominasi tremor menerus.
Abu Vulkanik Hujani Kapal Patroli BKSDA Lampung
Di tengah kendala pemantauan tersebut, video yang memperlihatkan tim patroli Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Lampung dihujani abu vulkanik saat berada di sekitar Gunung Anak Krakatau turut viral di media sosial.
Dalam rekaman itu, semburan abu vulkanik berwarna kelabu pekat tampak membumbung tinggi ke langit. Kapal yang digunakan petugas untuk berpatroli juga terlihat dipenuhi abu vulkanik.
Peristiwa tersebut terjadi ketika tim BKSDA Lampung sedang menjalankan patroli rutin untuk memantau kondisi lapangan. Suara gemuruh dari aktivitas gunung api bahkan sempat membuat petugas merasakan ketegangan.
Kepala Seksi Wilayah III BKSDA Lampung, Itno Itoyo, membenarkan bahwa orang-orang yang terlihat dalam video tersebut merupakan anggota timnya yang sedang bertugas.
"Iya, kemarin dari kami itu, dari tim kami yang memantau di lapangan," kata Itno.
Alat Pengamatan Tak Merekam Aktivitas Erupsi
Sementara itu, Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau, Suwarno, mengatakan aktivitas erupsi yang terlihat dalam video tersebut tidak terdeteksi oleh peralatan pengamatan di posnya. Peralatan pengamatan di Pulau Sebesi juga dilaporkan tidak merekam aktivitas tersebut.
"Mungkin (erupsi), karena di kami alat kami tidak terdeteksi. Bahkan di alat pengamatan di Pulau Sebesi pun tak teramati," kata Suwarno.
Berdasarkan laporan pengamatan periode 26 Oktober 2026 pukul 12.00–18.00 WIB, Gunung Anak Krakatau terpantau berkabut dengan tingkat kabut 0–III. Asap kawah tidak teramati, sedangkan CCTV lapangan dalam kondisi tidak aktif.
Pada periode tersebut, alat pengamatan merekam satu kali gempa tektonik lokal dengan amplitudo 30 milimeter dan durasi 21,5 detik. Tremor menerus atau mikrotremor juga terekam dengan amplitudo 2–13 milimeter dan amplitudo dominan 3 milimeter.
Tidak terdeteksinya aktivitas erupsi dalam rekaman alat pada periode tersebut perlu dilihat bersama kondisi peralatan pengamatan yang mengalami kendala. Hal itu tidak serta-merta membuktikan bahwa erupsi yang terlihat dalam video tidak terjadi.