Liputan6.com, Jakarta - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bersama Kementerian Luar Negeri Indonesia gelar acara UN Day untuk memperingati 81 tahun berdirinya PBB. Acara ini juga sebagai peringatan 76 tahun hubungan kerja sama antara Indonesia dan PBB. Dalam acaranya, terdapat pameran 20 badan PBB yang ikut meramaikan.
Kepala Perwakilan PBB di Indonesia Gita Sabharwal menyampaikan bahwa beberapa hari sebelumnya, Sekretaris Jenderal PBB hadir di Jakarta dan bertemu dengan Presiden Prabowo. Hal ini mengakui Indonesia yang luar biasa dalam bidang kemanusiaan dan perannya yang semakin besar dalam membentuk masa depan bersama.
Advertisement
"Bisa kita lihat bahwa kepemimpinan Indonesia dalam diplomasi, komitmen terhadap perdamaian dunia, kepemimpinannya dalam isu iklim dan pembangunan berkelanjutan, ada dalam semangat juang masyarakat," ujar Sabharwal pada acara UN Day 2026 Selasa (27/10/2026).
Ia melanjutkan bahwa pada intinya multilateralisme harus memiliki makna dalam kehidupan masyarakat. Hal ini bisa dimulai dengan negara yang tangguh dan berawal dari rumah sendiri.
Direktur Hak Asasi Manusia dan Migrasi Kementerian Luar Negeri RI Indah Nuria Savitri yang turut hadir sebagai panelis menyampaikan bahwa dalam proses hubungan multilateral, Indonesia sudah melakukan cukup banyak inisiatif.
"Satu hal yang pasti, Indonesia telah menjadi pendukung kuat multilateralisme. Indonesia telah melakukan banyak hal untuk memastikan sistem multilateral ini berjalan dengan baik, dan multilateral memang berperan besar dalam memastikan dunia menjadi semakin baik," ucap Indah.
Ia juga berkata bahwa kerja sama multilateral, khususnya PBB, ikut membentuk norma-norma yang tidak hanya orang-orang patuhi, tapi juga hormati. Bukan hanya karena RI membutuhkan PBB atau sebaliknya, tapi sebagai pemerintahan dan bangsa, Indonesia memiliki tanggung jawab terhadap kehidupan masyarakatnya.
Kolaborasi dan Suara Anak Muda
Indah mengungkapkan bahwa kuncinya adalah untuk bekerja bersama dan kolaborasi.
"Dalam hal ini, inti dari intervensi dan keterlibatan RI adalah kolaborasi. Bagaimana kita bisa terus bekerja dengan apa yang kita miliki, berbarengan dengan sistem PBB, keluarga besar PBB, dan semua pemangku kepentingan yang bekerja sama dengan PBB, dan bagaimana kita bisa membawa hal tersebut menjadi sesuatu yang nyata," imbuhnya.
Sama seperti yang dikatakan Sabharwal, Indah juga mengungkapkan bahwa semua aturan dan hukum tertulis seperti Piagam PBB, perjanjian, hak asasi manusia, hukum internasional, peraturan nasional dan banyaknya protokol adalah hal yang bagus, tapi tidak berarti apabila tidak diterapkan di negara kita.
"Semua itu bagus. Itu adalah aturan dan hukum tertulis. Tapi, hal itu tidak akan mengubah kehidupan kita jika tidak diterapkan di negara kita sendiri. Jadi, menurut saya, kolaborasi memainkan peran yang sangat penting di sini," jelas Indah.
Direktur HAM dan Migrasi tersebut juga menyebutkan bahwa pekerjaan tersebut adalah sesuatu yang tidak pernah berakhir. "Tidak hanya kita secara aktif berkontribusi pada prosedur dan proses penetapan norma PBB, tapi juga terus mengimplementasikannya di dalam negeri dengan menjadikannya bagian dari kebijakan, undang-undang, dan kerangka hukum kita."
Harus dipastikan pula bahwa dampak dari kerja PBB dan semua yang ikut berpartisipasi benar-benar bisa dirasakan manfaatnya untuk semua orang.
Selain itu, acara ini juga dimeriahkan oleh peluncuran Letters 2045, koleksi pesan generasi muda dan inisiatif yang diluncurkan oleh Kemenlu RI dan didukung oleh PBB, masyarakat dunia bisa mendengar langsung para pemuda Indonesia tentang masa depan apa yang mereka inginkan, dan peran apa yang mereka inginkan untuk Indonesia.
"Para anak muda lebih aktif bergerak dan lebih terlibat dalam kancah global dibandingkan generasi manapun sebelumnya. Acara ini juga menjadi kesempatan untuk mengedarkan suara Anda," tutur Sabharwal.
Perwakilan PBB tersebut berkata bahwa sebagai sebuah organisasi, tugas mereka adalah untuk membuat ruang agar ide-ide yang akan menjadi keputusan yang membentuk masa depan bisa tercurahkan.
"Indonesia memiliki banyak kemampuan untuk melakukan itu. Pengalamannya, suara-suara rakyatnya, semangatnya dalam berdialog, dan yang terpenting, ambisi yang dimiliki oleh generasi seterusnya," ucap Sabharwal.