Liputan6.com, Jakarta - Pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, belum lepas dari berbagai kendala. Medan yang sulit dijangkau, rapatnya vegetasi hutan, hingga bara api yang tersimpan di dalam lahan gambut membuat petugas harus bekerja ekstra untuk menuntaskan pemadaman.
Bahkan, tim gabungan harus membentangkan selang air sepanjang sekitar tiga kilometer dari Sungai Way Pegadungan menuju lokasi kebakaran untuk menjangkau titik api yang sulit diakses.
Advertisement
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Lampung, Aswarodi mengatakan, kondisi medan menjadi salah satu tantangan utama dalam operasi pemadaman karhutla di kawasan konservasi tersebut.
“Medan di lokasi kebakaran sulit dijangkau. Untuk menyuplai air, petugas harus membentangkan selang hingga sekitar tiga kilometer dari Sungai Way Pegadungan menuju area yang terbakar,” ujar Aswarodi, Selasa (27/10/2026).
Aswarodi melanjutkan, upaya pemadaman tidak cukup hanya dengan menyiram permukaan lahan. Petugas harus memastikan air menjangkau bagian tanah yang masih menyimpan bara, terutama di kawasan bergambut.
Kendala pemadaman juga terjadi dalam operasi pengeboman air atau water bombing menggunakan helikopter. Rapatnya vegetasi hutan membuat air yang dijatuhkan dari udara tidak selalu mencapai titik kebakaran di permukaan tanah.
“Daun dan tajuk pohon di kawasan itu sangat lebat. Ketika air dijatuhkan dari udara, sebagian tertahan vegetasi sehingga tidak langsung mencapai lahan gambut yang menyimpan bara,” jelas dia.
Berdasarkan data penanganan per 26 Oktober 2026, operasi water bombing telah berlangsung selama satu bulan satu hari. Meski dukungan udara terus dilakukan, pemadaman tetap membutuhkan penanganan intensif oleh petugas di darat.
Tim gabungan harus memastikan pasokan air tersedia dan menjangkau area yang terbakar, sekaligus menyisir lokasi-lokasi yang masih berpotensi menyimpan bara api.
Selain medan dan akses, karakteristik lahan gambut menjadi tantangan tersendiri. Api dapat bertahan di bawah permukaan tanah meskipun kobaran di atasnya sudah tidak terlihat.
“Di lahan gambut, api bisa tersimpan di bagian dalam. Karena itu, lokasi yang terlihat padam tetap harus dipantau dan ditangani agar bara tidak kembali menyala,” ungkapnya.
Kondisi tersebut membuat petugas tidak bisa langsung meninggalkan lokasi yang terlihat aman. Pemantauan dan penanganan lanjutan diperlukan untuk mencegah bara kembali memicu kebakaran.
Pemerintah juga mengerahkan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk mendukung upaya pemadaman. Langkah itu dilakukan setelah informasi BMKG menunjukkan adanya pertumbuhan awan yang cukup signifikan untuk mendukung pembentukan hujan.
Aswarodi menyebut, hujan yang turun di kawasan TNWK membantu proses penanganan karhutla. Namun, kondisi tersebut belum menghilangkan kebutuhan untuk melakukan pemadaman langsung terhadap titik-titik api yang belum sepenuhnya padam.
Dalam penanganan karhutla di TNWK, sebanyak 365 personel gabungan dikerahkan. Mereka terdiri dari unsur TNI, Brimob, Manggala Agni, serta sejumlah instansi terkait.
Para personel bekerja secara bergantian untuk menjaga keberlanjutan operasi pemadaman di tengah sulitnya medan dan luasnya area yang harus ditangani.
Menurut Aswarodi, penanganan kebakaran di kawasan konservasi itu membutuhkan kerja terpadu, mulai dari pemadaman langsung di darat, dukungan operasi udara, hingga penyediaan air ke lokasi yang sulit dijangkau.
"Kombinasi berbagai upaya ini diperlukan agar titik api dapat ditangani secara menyeluruh, termasuk bara yang masih tersimpan di bawah permukaan lahan gambut," tandasnya.