Frugal Living dan Melambatnya Daya Beli Kelas Menengah

Data Mandiri Spending Index (MSI) terbaru September 2026, menangkap gejala adanya pelambatan tren belanja di masyarakat.

oleh Ahmad ApriyonoArief Rahman HDiterbitkan 28 Oktober 2026, 07:06 WIB
Mekanisme bertahan hidup dengan menjalani frugal living dapat berimbas pada penurunan daya beli nasional hingga membawa potensi dampak ke pertumbuhan ekonomi. (Liputan6.com/ Art Work: Joko Poerwanto)

Liputan6.com, Jakarta - Dalam kondisi perekonomian yang tidak stabil, frugal living yang semula menjadi gaya hidup kaum tengah kini bergeser menjadi strategi bertahan hidup agar kondisi keuangan tetap terjaga. Dengan mengurangi pengeluaran yang dianggap kurang penting, kelas menengah mulai memilah kebutuhan dan mempertimbangkan kembali nilai serta fungsi suatu barang sebelum membelinya.

Data Mandiri Spending Index (MSI) September 2026 menunjukkan, perlambatan belanja masyarakat menjadi salah satu indikasi perubahan pola konsumsi tersebut. Pada kuartal III 2026, pertumbuhan belanja masyarakat tercatat sebesar 5,9 persen secara tahunan (year-on-year/YoY), lebih rendah dibandingkan dua kuartal sebelumnya.

Belanja Masyarakat Terus Melambat

Pada minggu keempat September 2026, indeks belanja masyarakat berada di level 122,9 atau turun 0,35 persen dibandingkan minggu sebelumnya. Indeks ini mengalami kontraksi selama enam minggu berturut-turut, mengindikasikan pelemahan belanja yang berkelanjutan.

Level tersebut juga setara dengan posisi pada akhir Mei 2026. Kondisi ini berbeda dengan pola pada 2025, ketika belanja masyarakat mulai meningkat sejak awal September.

Secara bulanan, pertumbuhan belanja masyarakat turun dari 6,5 persen pada akhir Agustus menjadi 5,6 persen pada minggu keempat September 2026. Artinya, pertumbuhan belanja kehilangan momentum sebesar 0,9 poin persentase hanya dalam waktu sekitar satu bulan.

Angka tersebut juga menjadi yang terendah dalam 10 bulan terakhir, sejak November 2025. Tren ini memperkuat indikasi bahwa perlambatan belanja masyarakat bukan sekadar fluktuasi mingguan, melainkan mulai terlihat secara bulanan.

Pola Belanja Kelas Menengah Mulai Berubah

Dari sisi wilayah, pertumbuhan belanja tertinggi tercatat di Sulawesi sebesar 7,7 persen YoY, diikuti Maluku dan Papua sebesar 7,5 persen, serta Kalimantan sebesar 6,9 persen.

Sementara itu, peningkatan pertumbuhan terbesar dibandingkan tahun sebelumnya terjadi di kawasan Bali, Nusa Tenggara (Balinusra), yakni sekitar 4,5 poin persentase. Posisi berikutnya ditempati Maluku dan Papua sebesar 4,3 poin persentase, serta Jawa sebesar 3,5 poin persentase.

Di tengah perlambatan belanja secara keseluruhan, MSI juga mencatat perubahan pola konsumsi masyarakat yang semakin selektif. Belanja untuk mobilitas tumbuh 6,6 persen YoY, meningkat dibandingkan 2,6 persen pada 2025.

Belanja barang konsumsi (consumer goods) juga naik dari 2,5 persen menjadi 4,4 persen. Sementara itu, belanja kebutuhan rumah tangga (household) tumbuh 1,8 persen, berbalik dari kontraksi 0,8 persen pada tahun sebelumnya.

Sebaliknya, belanja rekreasi (leisure) cenderung stagnan, berbeda dengan pertumbuhan 3,7 persen pada 2025. Pola ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin memprioritaskan kebutuhan rutin dan mobilitas, sementara pengeluaran untuk rekreasi cenderung ditahan.

Perubahan tersebut menggambarkan bagaimana frugal living dan downgrade lifestyle semakin relevan bagi kelas menengah. Ketika daya beli tertekan, masyarakat tidak hanya mengurangi pengeluaran, tetapi juga mulai menyesuaikan pilihan konsumsi dengan kebutuhan yang dianggap paling esensial.

Sementara itu, pada kelompok belanja kebutuhan sehari-hari (stronger essentials), data MSI terbaru mencatat pertumbuhan belanja supermarket sebesar 4,5 persen secara tahunan (year-on-year/YoY). Belanja fesyen juga meningkat menjadi 3,1 persen, dibandingkan 2,4 persen pada tahun sebelumnya. Adapun belanja restoran tumbuh 4,7 persen, meski masih lebih rendah dibandingkan pertumbuhan tahun lalu sebesar 6,1 persen.

Belanja Mobilitas dan Kebutuhan Esensial

Pada kategori mobilitas (only essential mobility holds), belanja otomotif tumbuh 6,3 persen YoY, sedangkan belanja bensin meningkat 7,1 persen. Keduanya mencatat pertumbuhan lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya, masing-masing sebesar 4,6 persen dan 6,5 persen.

Sebaliknya, pertumbuhan belanja transportasi melambat menjadi 10,0 persen dari 13,7 persen pada tahun sebelumnya. Sementara itu, belanja tiket pesawat mengalami stagnasi, setelah sebelumnya tumbuh 0,5 persen pada 2025.

Tabungan Kelompok Bawah Semakin Tertekan

Di sisi lain, data MSI menunjukkan kondisi keuangan masyarakat kelompok bawah semakin tertekan. Per 27 September 2026, indeks tabungan kelompok ini turun menjadi 68,7.

Sementara itu, indeks tabungan kelompok menengah relatif stabil di level 100,5, meski turun tipis 0,1 persen secara bulanan (month-on-month/MoM).

Berbeda dengan kedua kelompok tersebut, indeks tabungan kelompok atas meningkat menjadi 95,1 atau naik 1,1 persen MoM. Angka ini juga lebih tinggi dibandingkan posisi tahun sebelumnya yang sebesar 94,0.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa perkembangan tabungan masyarakat belum merata. Penurunan indeks tabungan kelompok bawah menjadi sinyal penting untuk mencermati tekanan finansial dan potensi pelemahan daya beli masyarakat.

Konsumsi Rumah Tangga Mengalami Pengereman

Secara keseluruhan, data MSI September 2026 menggambarkan konsumsi rumah tangga yang tengah mengalami pengereman mendadak. Perlambatan belanja dan kecenderungan kelas menengah menahan pengeluaran secara masif dapat menjadi tantangan bagi pertumbuhan ekonomi nasional.

Namun, besarnya dampak terhadap pertumbuhan ekonomi perlu dilihat bersama indikator ekonomi lainnya.

Kata Pengamat tentang Fenomena Frugal Living

Aktivitas pekerja saat jam pulang kantor di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat. (merdeka.com/ Iqbal S Nugroho)

Tekanan ekonomi mendorong sebagian masyarakat mengurangi pengeluaran. Ada yang menyebutnya berhemat, ada pula yang menerapkan frugal living. Namun, penghematan ini tidak selalu sekadar pilihan gaya hidup. Dalam kondisi tertentu, perilaku tersebut dapat menjadi indikasi penurunan daya beli yang berpotensi memengaruhi pertumbuhan ekonomi.

Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menilai pola penghematan masyarakat saat ini dapat mencerminkan perubahan preferensi konsumsi sekaligus tekanan daya beli.

"Konsumen memang makin selektif: belanja non-esensial ditunda, diskon dicari, ukuran pembelian diperkecil, dan dana lebih banyak disimpan sebagai buffer," kata Syafruddin kepada Jurnal Kaum Tengah Liputan6.com.

Menurutnya, perubahan pola konsumsi tersebut dipengaruhi oleh terbatasnya ruang finansial masyarakat. Salah satu persoalannya adalah kenaikan upah yang belum sebanding dengan tekanan inflasi.

Syafruddin mencatat, rata-rata upah buruh naik dari Rp3,27 juta pada Agustus 2024 menjadi Rp3,33 juta pada Agustus 2025, atau hanya tumbuh 1,94 persen. Pada Mei 2026, rata-rata upah tersebut mencapai Rp3,39 juta. Sementara itu, inflasi September 2026 tercatat sebesar 3,28 persen, dengan inflasi volatile food mencapai 5,03 persen.

Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada September 2026 memang masih berada di zona optimistis, yakni 118,1. Namun, Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini turun menjadi 107,5.

"Artinya masyarakat belum kehilangan kepercayaan, tetapi semakin hati-hati menghadapi biaya hidup dan ketidakpastian pendapatan," ujarnya.

Ruang Finansial Kelas Menengah Menyempit

Syafruddin melihat adanya indikasi tekanan keuangan pada masyarakat kelas menengah, meski kondisi tersebut tidak dialami seluruh kelompok. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kelas menengah dan kelompok menuju kelas menengah mencakup 66,35 persen penduduk pada 2024 serta menyumbang 81,49 persen konsumsi masyarakat.

"Masalah utamanya adalah penyusutan discretionary income setelah kebutuhan pokok, cicilan, pendidikan, kesehatan, transportasi, dan perumahan dibayar. Karena bobotnya besar, tekanan kecil pada kelompok ini cepat terasa pada ekonomi," jelasnya.

Ketika biaya pangan dan pembiayaan meningkat, keluarga cenderung memangkas pengeluaran lain, seperti rekreasi, pakaian, elektronik, dan kebutuhan konsumsi non-esensial lainnya.

Menurut Syafruddin, kondisi ini tidak serta-merta berarti masyarakat jatuh miskin. Namun, kemampuan mereka untuk menghadapi pengeluaran tak terduga semakin terbatas.

"Mereka belum tentu miskin, tetapi buffer finansial menurun. Gejalanya adalah konsumsi yang semakin defensif, tabungan darurat lebih diutamakan, dan keputusan pembelian besar ditunda. Jadi problem kelas menengah saat ini lebih tepat disebut compression of financial space daripada kemiskinan baru," paparnya.

Penghematan Massal Berpotensi Menekan Ekonomi

Perubahan pola konsumsi menuju frugal living tidak hanya berdampak pada rumah tangga, tetapi juga berpotensi memengaruhi pertumbuhan ekonomi nasional. Pasalnya, konsumsi rumah tangga merupakan salah satu komponen utama penggerak perekonomian Indonesia.

"Jika penghematan meluas, dampaknya langsung mengenai mesin terbesar pertumbuhan Indonesia: konsumsi rumah tangga," kata Syafruddin.

Ia mencatat, konsumsi rumah tangga masih tumbuh 5,06 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) pada kuartal II 2026. Namun, pertumbuhan konsumsi makanan hanya 4,25 persen, sedangkan pakaian sebesar 3,52 persen.

Jika rumah tangga terus menekan pengeluaran non-esensial, omzet ritel, restoran, transportasi, properti, kendaraan, dan barang tahan lama berpotensi melemah. Kondisi tersebut selanjutnya dapat mendorong perusahaan menahan produksi, investasi, hingga perekrutan tenaga kerja.

"Keputusan hemat yang rasional bagi satu rumah tangga dapat menekan permintaan agregat bila dilakukan secara massal. Solusinya bukan mendorong konsumsi secara artifisial, tetapi memperkuat upah riil, produktivitas, pekerjaan formal, dan stabilitas harga pangan," pungkasnya.

Infografis Frugal Living dan Melambatnya Daya beli Kelas Menengah. (Liputan6/Djoko Poerwanto)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya