Rupiah Melemah ke 18.140 per Dolar AS, Intip Prediksi Mata Uang Garuda Hari Ini

Sentimen global terutama dari Timur Tengah mempengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat pada Selasa, (27/10/2026).

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 27 Oktober 2026, 10:51 WIB
Petugas menata mata uang rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang di Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) lesu pada pembukaan perdagangan Selasa, (27/10/2026). Analis menilai, pergerakan rupiah dipicu laporan bervariasi dari perkembangan geopolitik di Timur Tengah.

Mengutip Antara, rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan turun tipis 5 poin atau 0,03% menjadi 18.140 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di 18.135 per dolar AS.

“Rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif di tengah laporan beragam dari Timur Tengah, mulai dari potensi serangan AS terhadap Iran dalam beberapa hari ke depan hingga upaya diplomatik untuk mencapai perdamaian di kawasan,” kata dia.

Mengutip Anadolu, pertemuan empat pihak antara delegasi dari Turkiye, Arab Saudi, Pakistan, dan Iran dimulai di Teheran pada Senin, 26 Oktober 2026. Pembicaraan dalam pertemuan tersebut difokuskan pada keamanan regional, aktivitas Israel di kawasan, serta perkembangan situasi di Palestina dan Lebanon.

Presiden Iran Pezeshkian dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi turut hadir dalam pertemuan tersebut. Turkiye diwakili oleh Direktur Organisasi Intelijen Nasional Ibrahim Kalin, Arab Saudi diwakili oleh Menteri Pertahanan Pangeran Khalid bin Salman, dan Pakistan diwakili oleh Kepala Staf Angkatan Darat Asim Munir.

Selain itu, sebagaimana laporan Xinhua, Pentagon bersiap untuk meluncurkan operasi militer baru yang berpotensi berskala besar terhadap Iran "dalam waktu 96 jam setelah menerima" perintah dari Presiden AS Donald Trump. Menurut laporan tersebut, pasukan yang "memadai" kini telah dikerahkan di Timur Tengah untuk melaksanakan potensi serangan tersebut.

 

Prediksi Rupiah

Petugas menunjukkan dolar AS dan rupiah (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Beberapa pejabat AS meyakini perintah dari Trump dapat datang kapan saja sebelum akhir tahun (kemungkinan besar setelah pemilihan umum paruh waktu AS).

Cakupan operasi militer baru AS tersebut akan melampaui sekadar upaya "membersihkan area" (mow the lawn) atau mempertahankan status quo melalui serangan terhadap radar, peluncur, dan aset Iran lainnya yang dapat dipulihkan dengan cepat.

Melihat sentimen domestik, ia menuturkan, arus keluar dana asing di pasar saham domestik juga dinilai masih menjadi faktor yang membebani rupiah.

Berdasarkan faktor-faktor tersebut, rupiah diprediksi berkisar 18.100-18.200 per dolar AS.

Rupiah Hari Ini Tersungkur ke 18.135, Ekonom Ungkap Penyebabnya

Karyawan menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di Jakarta. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) merosot pada penutupan perdagangan Senin, (26/10/2026). Bahkan, rupiah menyentuh 18.135 per dolar AS.

Mengutip Antara, rupiah turun 55 poin atau 0,30% menjadi 18.135 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi 18.080 per dolar AS.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp 18.116 per dolar AS, dari sebelumnya Rp 18.069 per dolar AS.

Ekonom Bank Danamon, Faiz Irman menuturkan, pelemahan rupiah mencerminkan kombinasi tekanan global dan risiko domestik. Harga minyak yang masih tinggi meningkatkan kebutuhan devisa untuk impor energi sekaligus menjaga risiko inflasi global, sehingga suku bunga AS berpotensi bertahan tinggi lebih lama. Investor juga cenderung berhati-hati menjelang keputusan The Federal Reserve (the Fed) pekan ini.

"DXY index berada sekitar 101,8, masih menunjukkan resiliensi sementara ketidakpastian MSCI menambah risiko penjualan saham asing dan repatriasi dana,” ujar Faiz saat dihubungi Liputan6.com.

Ia menambahkan, surplus perdagangan yang menyempit juga mengurangi bantalan pasokan devisa, membuat rupiah lebih sensitif terhadap perubahan arus modal.

 

Hal yang Perlu Dicermati

Karyawan menunjukkan uang dolar AS dan rupiah di Jakarta. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Secara ekonomi, Faiz menuturkan, koreksi rupiah ini dapat dijelaskan oleh perubahan kondisi eksternal dan meningkatnya premi risiko Indonesia.

"Investor membutuhkan kompensasi lebih besar untuk memegang aset rupiah, yang penyesuaiannya dapat terjadi melalui kenaikan imbal hasil maupun pelemahan kurs.Namun, dapat dijelaskan bukan berarti tekanannya boleh diabaikan,” kata dia.

Ia mengatakan, hal yang perlu dicermati adalah kecepatan pelemahan, likuiditas pasar valas, dan keberlanjutan arus keluar modal.

"Dalam skenario MSCI kami, potensi penjualan saham asing mencapai US$ 2,9–US$ 5,8 miliar. Angka ini merupakan skenario bersyarat apabila penghapusan dari indeks terjadi, termasuk penyesuaian investor aktif, bukan estimasi dana yang langsung keluar saat ini,” kata Faiz.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya