Liputan6.com, Jakarta - Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengatakan penanggulangan gangguan penglihatan merupakan investasi krusial dalam meningkatkan Angka Harapan Hidup Sehat (Health-Adjusted Life Expectancy/HALE), yakni indikator lamanya seseorang dapat hidup tanpa kondisi kesehatan yang buruk atau disabilitas.
Untuk menekan risiko kebutaan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menargetkan Cataract Surgical Rate (CSR) yakni rasio atau jumlah tindakan operasi katarak per satu juta penduduk dalam satu tahun mencapai minimal 3.000 tindakan.
Advertisement
Cakupan operasi ditargetkan menjangkau 80 persen penderita katarak tingkat sedang hingga berat, dengan kepastian minimal 80 persen pasien pascaperoperasi memperoleh pemulihan tajam penglihatan yang baik.
"Gangguan penglihatan, termasuk katarak, memang tidak memicu kematian secara langsung, tetapi sangat menentukan kualitas hidup seseorang. Pemerintah bersama PERDAMI berkomitmen mengurai antrean operasi katarak dan mengakselerasi pemerataan dokter spesialis mata hingga wilayah terpencil," ujar Dante pada peringatan World Sight Day 2026 yang diselenggarakan oleh Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) di Jakarta, Sabtu (24/10/2026).
Langkah ini diimbangi dengan perluasan layanan medis di tingkat dasar, termasuk pemanfaatan funduskopi atau oftalmoskopi, yaitu metode pemeriksaan bagian dalam mata (seperti retina dan pembuluh darah) untuk mendeteksi secara dini penyakit mata berat.
"Kalau semua dokter umum melakukan pemeriksaan funduskopi, kelainan mata akan makin banyak terlihat. Begitu pula jika semua dokter endokrin seperti saya melakukan funduskopi, retinopati diabetik (kerusakan pembuluh darah retina akibat komplikasi diabetes) akan makin banyak terdeteksi secara dini," kata Dante.