Liputan6.com, Jakarta - Korean Cultural Center Indonesia (KCCI) bersama Museum dan Cagar Budaya resmikan kolaborasi seni topeng antar RI-Republik Korea untuk memperlihatkan kekayaan budaya masing-masing. Pagelaran ini terbuka untuk publik pada 27-31 Oktober 2026.
Pameran bertajuk "Dua Wajah, Satu Jiwa" ini membawa 18 topeng asal Korea Selatan dan 10 topeng milik Indonesia. Dalam pameran yang berada di Museum Nasional Indonesia area Ground Gedung C ini, 10 topeng dari masing-masing negara dijajarkan sesuai dengan kesamaan makna dan tujuan, kemudian delapan sisanya ditampilkan dalam penjelasan dan kaca yang berbeda.
Advertisement
Direktur KCCI Lee Sang Jun menjelaskan tujuan dari pagelaran ini adalah untuk memperlihatkan kepada masyarakat bahwa meskipun Indonesia dan Korea Selatan memiliki latar belakang budaya dan sejarah yang berbeda, tapi keduanya mencurahkan hal yang sama.
"Indonesia dan Korea memiliki budaya dan sejarah yang berbeda, tapi topeng Indonesia dan Korea memiliki emosi manusia yang universal. Melalui pameran ini, saya berharap masyarakat Indonesia dan Korea menjadi lebih dekat," ujar Lee pada Senin (26/10/2026).
Duta Besar (Dubes) Korea Selatan untuk Indonesia Yoon Soon-gu berkata dalam pidatonya bahwa seni topeng dibuat untuk menutupi wajah, tapi secara paradoks, justru bisa mengungkapkan perasaan dan pemikiran orang-orang yang ada di baliknya, dan perasaan dan pemikiran yang biasanya sulit diungkapkan secara terbuka bisa diekspresikan dengan lebih bebas saat seseorang memakai topeng.
"Topeng dapat menggambarkan kegembiraan, kesedihan, ketakutan, harapan, dan lainnya. Terkadang, topeng juga menjadi alat untuk menyindir berbagai ketimpangan dan kontradiksi dalam masyarakat lewat humor dan satir," ujar Dubes Yoon.
Rasa Pengertian Antar Masyarakat Perkuat Hubungan Kedua Negara
Yoon juga berkata bahwa makna yang ingin pameran ini sampaikan adalah harapan yang sama dari kedua negara meskipun bentuk dan tradisinya berbeda.
"Di balik perbedaan tersebut, tersimpan harapan yang serupa, yaitu harapan akan kebahagiaan keluarga, doa bagi kesejahteraan sosial, dan impian akan masa depan yang lebih baik," ucapnya.
Dubes tersebut menambahkan bahwa meskipun Korea Selatan dan Indonesia sudah melakukan peningkatan kemitraan kedua negara lewat pemerintah, tapi persahabatannya tidak bisa sepenuhnya terwujud hanya lewat kerjasama pemerintahnya saja.
"Persahabatan itu akan tumbuh semakin dalam dan kuat ketika masyarakatnya saling menghargai budaya, mendengarkan kisah satu sama lain, dan membangun kedekatan dari hati ke hati," jelas Yoon.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon yang turut hadir mengatakan bahwa lewat pertemuan antar seniman, pelajar, peneliti, dan para praktisi seni dan komunitas, masyarakat kedua negara bisa menemukan sesuatu yang melampaui pertukaran diplomasi. Hal ini membuat pameran Dua Wajah, Satu Jiwa ini memberikan ekspresi dengan makna yang mendalam kepada persahabatan tersebut.
"Pameran ini membuat kita lebih menghargai karakteristik yang berbeda dari dua negara kita sekaligus menemukan pengalaman dan nilai-nilai yang menghubungkan kita. Temanya mengingatkan kita bahwa berbagai bentuk ekspresi budaya bisa menyentuh sisi kemanusiaan yang kita miliki bersama," ujarnya.
Topeng Paling Ikonik dan Partisipasi Publik
Dari total 28 topeng yang dipamerkan, kurator seni dari Museum Topeng Hahoe Korea Kim Hye-rim menjelaskan bahwa topeng yang paling menonjol adalah yang bernama Yangban.
Dalam bahasa Korea, Yangban artinya bangsawan, dan di masa lalu, para bangsawan melakukan hal-hal yang dalam istilah berarti hanya minum alkohol dan menghabiskan dunia melakukan hal yang tidak penting.
"Hal itu melambangkan kebebasan, keangkuhan, dan juga arogansi para bangsawan di masa itu," tutur Kim menjawab pertanyaan Liputan6.com.
Ia juga menjelaskan bahwa hampir semua topeng yang dipamerkan memiliki struktur wajah yang simetris, tapi khusus untuk topeng Yangban atau yang melambangkan bangsawan justru berbeda.
"Untuk topeng Yangban, karakteristiknya adalah wajahnya tidak simetris. Maksud dari hal ini adalah untuk melambangkan wajah manusia asli, karena wajah manusia asli kebanyakan tidak simetris," jelasnya.
KCCI juga mengundang partisipasi publik dengan sempat membuka kompetisi untuk desain merchandise yang karyanya akan digunakan sebagai buah tangan dari pameran tersebut.
Salah satu pemenang bernama Nina, seorang dosen desain asal Cirebon yang juga penggemar budaya Korea dan mengambil topik kajian budaya dan media, menggabungkan lima karakter Panca Wanda asal Cirebon dengan lima topeng Talchum asal Korea Selatan. Ia berkata bahwa karakter-karakter tersebut bersinergi dan menggambarkan karakter manusia yang sangat kompleks.
"Namanya manusia kadang ditutupin. Apa yang dilihat belum tentu apa yang ditampilkan. Harapan dari kolaborasi antar budaya ini adalah para karakter topeng tersebut bisa bersinergi tanpa menghilangkan identitas masing-masing," jelasnya.
Selain pameran biasa, Museum Nasional Indonesia juga memberikan pengalaman visual yang jauh lebih seru lewat pengalaman imersif. Pengunjung akan bisa melihat para topeng yang dipamerkan lewat cara yang berbeda dan lebih modern.
Jadwal dan tiket untuk layanan imersif tersebut bisa didapatkan secara gratis lewat situs web id.korean-culture.org.