Elon Musk Berutang Rp 724,7 Triliun untuk Bisnis AI

Pendiri SpaceX, Elon Musk berniat mengalirkan dana US$ 40 miliar, atau Rp 724,7 triliun untuk mengembangkan AI.

oleh Cahya Alena FauzaDiterbitkan 26 Oktober 2026, 18:51 WIB
Elon Musk. (Patrick Pleul/Pool Photo via AP, File)

Liputan6.com, Jakarta - Elon Musk mengatakan SpaceX telah merampungkan pendanaan utang atau pinjaman senilai US$ 40 miliar  (Rp 724,7 triliun, asumsi kurs dolar AS Rp 18.120) untuk membeli graphics processing units (GPU) demi menopang sistem AI.

Pada sebuah unggahan X, Minggu, 25 Oktober 2026, Elon Musk mengatakan perusahaannya masuk ke peringkat layak investasi. Musk juga mengatakan dia meraup keuntungan dari bisnis internet dan roket Starlink.

Melansir CNBC, Senin (26/10/2026), dalam sebuah unggahan lanjutan, dia mengatakan pendanaan yang sebagian besar merupakan utang yang bisa ditarik kembali untuk GPU itu diprediksi tiba pada kuartal pertama dan kedua 2027.

Sebelumnya, Bloomberg melaporkan, dengan mengutip pihak-pihak yang mengetahui masalah tersebut,SpaceX sedang dalam pembicaraan dengan sejumlah bank dan investor untuk menggalang dana sebesar US$ 40 miliar atau Rp 724,7 triliun guna membeli chip Nvidia.

Pendanaan yang diajukan ini akan menggunakan sebuah entitas tujuan khusus (special purpose vehicle) untuk menjaga agar utang tidak masuk ke dalam neraca keuangan SpaceX serta mempertahankan peringkat kredit layak investasi (investment-grade) perusahaan tersebut, menurut Bloomberg.

Goldman Sachs juga berada dalam pembicaraan dengan investor, termasuk Apollo Global Management, mengenai struktur pendanaannya, menurut Bloomberg.

Bisnis AI yang Konsumsi Miliaran Dolar AS

Elon Musk, pendiri SpaceX, berniat alirkan dana US$ 40 miliar, atau Rp 724,7 triliun untuk kembangkan AI. (AP Photo/Frank Franklin II)

Pendanaan ini menggarisbawahi kebutuhan kapital yang masif di era AI, seiring perusahaan teknologi mengucurkan miliaran dolar AS untuk chip terkemuka dan data center untuk menyokong model AI yang semakin kuat.

Tahun ini, SpaceX telah secara agresif melakukan ekspansi ke AI, menjuluki bisnisnya sebagai “Super Intelligence,” atau SI.

Segmen ini telah menjadi unit bisnis terbesar SpaceX, dengan pendapatan kuartal ketiganya yang naik sembilan kali lipat ke US$ 7,56 miliar atau Rp 136,9 triliun) dari US$ 813 juta atau Rp 14,7 triliun setahun sebelumnya, menurut laporan penghasilan terbarunya.

Musk juga mengatakan, pasar utang sebagian besar telah menutup akses pendanaan bagi perusahaan yang tidak memiliki pendapatan substansial di luar data center AI.

Ia memprediksi bahwa lebih dari 200 perusahaan yang disebut sebagai "neocloud", yang menyediakan infrastruktur komputasi awan yang dirancang khusus untuk beban kerja AI dan pembelajaran mesin, akan menghadapi kegagalan massal serta konsolidasi, dengan hanya sebagian kecil yang mampu bertahan.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya