Modal Rp 6,7 Juta, Pria Ini Sulap Kelas Menjahit Jadi Bisnis Menjanjikan

Simak kisah sukses entrepreneur dalam menjalankan bisnis kelas menjahitnya, Stitch Lab ATX.

oleh Cahya Alena FauzaDiterbitkan 26 Oktober 2026, 20:00 WIB
Simak kisah sukses entrepreneur dalam menjalankan bisnis kelas menjahitnya, Stitch Lab ATX. (Foto: Unsplash/Ashley Diane)

Liputan6.com, Jakarta - Seorang entrepreneur, Eric Lugo (29), terkejut lantaran bisnis kelas menjahitnya, Stitch Lab ATX membludak. Tadinya, bisnis ini adalah proyek sampingannya pada Mei 2025, kemudian beralih menjadi pekerjaan tetapnya hanya dalam waktu beberapa minggu.

Melansir CNBC Make It, Senin (26/10/2026), Lugo juga tidak memprediksi bisnisnya akan sangat sukses dalam dua tahun hingga permintaan akan bertambah lima kali lipat, kelasnya akan selalu penuh, dan dia akan mendapat permintaan untuk menggelar kelas privat.

Ide bisnisnya muncul beberapa tahun lalu. Lugo belajar menjahit dari neneknya saat berusia lima tahun dan mulai menekuninya saat remaja. Kemudian dia mulai meluncurkan merek mode miliknya, Casa Amiré, dan menjadi andalan temannya untuk modifikasi dan pembuatan pakaian. Lugo senang menyalurkan bakatnya, meskipun permintaan mulai menumpuk.

Jadi, pada suatu hari pada April 2024, dia berpikir untuk mengajar teman-temannya memperbaiki pakaian sendiri.

"Bagaimana jika dia mengajarkan teman-temannya untuk memperbaiki pakaiannya sendiri?," ujar dia.

“Saya jadi berpikir, ‘Wow, ini adalah keterampilan penting yang banyak orang tak kuasai,"ujar Lugo yang berasal dari Austin, Texas, kepada CNBC Make It.

"Saya rasa saya memiliki cukup pemahaman setelah 14 (atau) 15 tahun untuk mengajarkan orang lain, jadi saya mulai dari sana," ia menambahkan.

Investasi US$ 375 yang Membuahkan Hasil

Tips membangun bisnis. Dok Unsplash

Selama beberapa bulan, selagi melakukan beberapa pekerjaan dan menjual barang dari merek modenya, Lugo tidak bisa berhenti memikirkan untuk meluncurkan sebuah kelas menjahit. Pada sekitar Agustus 2024, dia mendapat pekerjaan pembukuan di perusahaan PR dan mengesampingkan idenya.

Namun pada awal 2025, ide tersebut kembali menyelimuti pikirannya. Dia merancang kelas yang akan ditawarkan dan bagaimana cara menyebarluaskannya.

Pada April, Lugo mulai berinvestasi. Dia menghabiskan US$ 375, atau Rp 6,7 juta (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 18.120) untuk membeli delapan mesin jahit bekas dari Facebook Marketplace, dan mendirikan toko di ruang gudang temannya yang luang di luar jam kerja. Lugo mengundang teman dan keluarga untuk mencoba kurikulumnya.

Stitch Lab ATX meluncurkan kelas pertamanya pada Mei, ujar Lugo, dengan beberapa pendaftaran untuk kelas privat dan beberapa murid yang menghadiri “kursus kilat” miliknya untuk mempelajari dasar-dasar bagi pemula, seperti bagaimana cara memasang benang di mesin dan menjahit garis lurus.

Kemudian, situasi Lugo berubah cepat. Pada akhir Mei, dia di-PHK oleh pekerjaan tetapnya, sehingga dia mau tidak mau harus menjadikan bisnisnya pekerjaan tetap.

"Bahkan belum 10 menit setelah saya di-PHK di Zoom meeting, saya menelepon teman saya yang memiliki gudang itu dan berkata, ‘Kawan, aku baru saja di-PHK. Apakah aman jika aku fokuskan Stitch Lab sepenuhnya?," ujar dia.

Temannya 100% setuju. "Sejujurnya saya sudah lama sekali, jika pernah, merasa sangat yakin akan sesuatu," dia menambahkan.

Maraknya Hobi DIY

Simak kisah sukses entrepreneur dalam menjalankan bisnis kelas menjahitnya, Stitch Lab ATX. (unsplash.com/@sigmund)

Kala itu, bisnisnya tidak langsung ramai. Menurut hitungannya, Lugo mengadakan empat hingga enam kelas di bulan-bulan pertama. Terkadang hanya dua hingga tiga orang yang datang, meskipun dia bisa menampung 10.

Lugo mengatakan permintaan baru melonjak pada September 2025 saat dia mulai bekerja sama dengan bisnis lokal untuk menyelenggarakan acara menjahit pop-up dan menyebarkan informasi melalui TikTok.

Kini, lab tersebut menawarkan sekitar dua lusin kelas per bulan dan dapat penuh saat ada tempat kosong beberapa bulan sebelumnya, kata Lugo.

Harga per sesi biasanya ditawarkan US$ 65 atau Rp 1,1 juta hingga US$ 85 atau Rp 1,5 juta dan berlangsung selama dua setengah jam. Kelasnya beragam, mulai dari kelas pemula, seperti cara menggunakan mesin jahit, hingga kelas menengah, seperti memendekkan celana atau memasang ritsleting.

Muridnya bisa mendaftar kelas khusus untuk membuat proyek spesifik, seperti membuat tas jinjing bermotif bunga, atau memesan waktu menjahit secara bebas di ruang gudang tersebut. Lugo juga menerima permintaan untuk mengajar dalam acara-acara khusus, seperti pesta lajang (bachelorette party) atau kegiatan luar kantor perusahaan, dengan frekuensi rata-rata satu kali dalam sebulan.

Bisnis yang Menguntungkan

Simak kisah sukses entrepreneur dalam menjalankan bisnis kelas menjahitnya, Stitch Lab ATX. (unsplash.com)

Lugo mengatakan dia menggaji dirinya sendiri dari bisnis tersebut, yang menjadi sumber penghasilan utamanya. Kesuksesan bisnisnya beriringan dengan tren di mana warga AS membayar untuk investasi dalam hobinya, meskipun harga bahan baku meningkat. Ini menjadi tren yang disebut Bank of America sebagai inflasi kesenangan atau “funflation”.

Pengeluaran untuk hobi, mulai dari seni dan kerajinan serta toko hobi, hingga peritel yang menjual perlengkapan ski, mendaki, berkemah, atau menyelam, meningkat 7,9% pada Agustus 2026 dibandingkan tahun sebelumnya, menurut analisis bank tersebut terhadap data kartunya.

Untuk membantu beberapa muridnya mengurangi biaya ini, Lugo pada Agustus memulai inisiatif berbagi bulanan yang disebut sebagai “Sew It Forward” di mana partisipan dapat membuat komen di media sosial Stitch Lab tentang mengapa mereka ingin belajar menjahit. Pemenang akan mendapat mesin jahit baru, peralatan, dan kelas gratis dengan studio tersebut.

“Saya bersyukur akan dukungan yang telah saya dapat, jadi saya ingin kembali memberikannya kepada komunitas karena saya kini mampu,” tuturnya.

Komunitas Menjahit yang Berkembang

Simak kisah sukses entrepreneur dalam menjalankan bisnis kelas menjahitnya, Stitch Lab ATX. (Foto: Unsplash/Hannah Busing)

Stitch Lab juga menonjol di masa di mana orang, terutama pemuda, menginginkan acara komunitas luring. Bahkan, ada kemunculan kembali hobi “nenek-nenek” seperti merajut dan scrapbooking, karena orang mencari kegiatan relaksasi yang dapat membuat mereka berhenti bermain ponsel.

Di gudang yang diisi mesin jahit dan musik tahun 2000-an hingga reggaeton dari sistem suara, Lugo mengatakan dia ingin membangun Stitch Lab menjadi zona seru dan kreatif yang “bebas akan penilaian” yang bisa menjadi rumah untuk orang-orang.

 "Ini adalah ruang aman untuk orang Latin, untuk orang dengan kulit berwarna," ujar pendiri Afro-Latino ini.

"Saya rasa komunitas itu penting, terutama saat sangat banyak yang terjadi di dunia. Siapapun itu, dari manapun mereka berasal, mereka punya ruang aman untuk bersama orang lain, mempelajari hal yang sama… dan bersenang-senang,” dia melanjutkan.

Rencana masa depan Stitch Lab ATX sudah mulai terbentuk. Lugo mengatakan dia sudah mempekerjakan dua pengajar paruh waktu, yang akan membantunya ekspansi hingga 30 kelas per bulan. Dia tetap akan mempertahankan kelasnya untuk berskala kecil demi membantu secara privat dan mendukung sosialisasi grup kecil.

Lugo bahkan melihat peluang untuk mengembangkan bisnisnya hingga ke luar Austin. Ia membidik New York City, berbagai lokasi populer di California, bahkan Mexico City.

"Saya hanya ingin terus melakukan apa yang sedang saya jalankan ini di seluruh dunia,” ujarnya.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya