Liputan6.com, Jakarta - Kepercayaan terhadap hal mistis dan takhayul rupanya berdampak langsung pada pasar properti di Jepang. Banyak rumah yang sulit dijual atau disewakan hanya karena pernah menjadi lokasi bunuh diri, pembunuhan, kebakaran fatal, atau kematian tragis.
Mengutip Deutsche Welle (DW) pada Minggu (25/10/2026), properti berstigma negatif ini dikenal dengan istilah jiko bukken. Salah satu contohnya yakni rumah dua lantai di kawasan pinggiran selatan Yokohama. Kendati masih layak huni jika direnovasi, bangunan tersebut mangkrak dan kosong selama sedikitnya lima tahun akibat sepi peminat.
Advertisement
Kondisi ini jelas menjadi beban finansial bagi para pemiliknya. Kazutoshi Kodama, Presiden Kachimode Co.—perusahaan yang khusus menangani properti jiko bukken, menyebut faktor budaya memegang peran besar.
"Orang Jepang terkadang menganggap kematian sebagai sesuatu yang tidak suci," kata Kodama kepada DW.
Ia menjelaskan, sebagian masyarakat meyakini bahwa kedekatan dengan lokasi kematian dapat mendatangkan kesialan. Alhasil, warga enggan sekadar berkunjung, apalagi menyewa dan membeli rumah berstatus tersebut.
Diskon Sewa 50% Tetap Sepi Peminat
Untuk menggaet calon penghuni, pemilik rumah kerap terpaksa mendiskon harga sewa secara drastis. Kodama mengungkapkan, di kota besar dengan permintaan tinggi, potongan sewa berkisar di angka 30%, sementara di wilayah lain potongannya bahkan menembus 50%.
Sayangnya, banting harga tak selalu ampuh. Ada properti yang tetap ditinggal kosong hingga 500 hari, bahkan melampaui 1.000 hari.
Penjual dan agen properti juga terikat aturan hukum untuk mengungkapkan riwayat kelam bangunan kepada calon pembeli. Apalagi, situs pelacak properti jiko bukken kini makin mudah diakses publik.
Kondisi ini membuat investasi rumah murah di Jepang berisiko tinggi. Joey Stockerman, pendiri platform agen rumah kosong AkiyaMart, menceritakan kisah kenalannya yang membeli rumah di pinggiran Tokyo seharga di bawah USD 5.000 (sekitar 5% dari harga normal).
Alih-alih untung cepat, rumah tersebut malah nganggur dan kosong selama dua tahun sebelum akhirnya mendapatkan penyewa.
Marak Jasa Pemeriksaan Hantu dan Ritual Pembersihan
Sulitnya menjual rumah jiko bukken justru melahirkan peluang bisnis baru. Perusahaan Kachimode menawarkan layanan pemeriksaan mistis bertajuk ghost investigation (investigasi hantu) sejak Desember 2022.
Dalam teknisnya, tim investigator menginap semalam di lokasi target mulai pukul 22.00 hingga 06.00. Mereka memasang kamera video, perekam suara, serta mengukur gelombang elektromagnetik, suhu, kelembapan, tekanan udara, hingga pemindaian termografi dan kebisingan.
Kodama menjelaskan bahwa pemeriksaan tersebut bertujuan memastikan rumah telah direnovasi dan memeriksa apakah fenomena misterius yang dikhawatirkan penghuni dapat ditemukan selama pengamatan.
Pemeriksaan semalam ini dipatok tarif 88.000 yen (sekitar USD 560 atau Rp 10 juta). Hasil pengamatan akan dirangkum dalam laporan resmi sebagai bahan bukti tambahan bagi calon penyewa.
Meski demikian, Kodama menegaskan inspeksi ini bukan pembuktian ilmiah soal keberadaan makhluk halus. Sebagian besar keanehan yang dilaporkan warga biasanya tak terulang saat proses investigasi.
Selain audit mistis, AkiyaMart juga bekerja sama mendatangkan pendeta Shinto untuk menggelar ritual pembersihan rumah dari aura negatif. Stockerman menyebut layanan unik ini mulai diminati banyak pemilik properti.
Fenomena rumah angker ini terjadi di tengah melonjaknya angka rumah kosong (akiya) di Jepang. Berdasarkan data pemerintah per akhir 2024, tercatat ada sekitar 9 juta rumah kosong di Jepang, atau setara 13,8% dari total hunian nasional. Selain karena penurunan populasi pedesaan, kuatnya takhayul dan stigma masyarakat menjadi tantangan besar bagi pemilik yang ingin mencairkan aset rumah mereka.