Demo Besar Akhir Pekan di Italia Berakhir Ricuh

Demonstrasi besar di Italia akhir pekan ini kembali diwarnai kericuhan, menyebabkan penutupan toko di Milan dan kekhawatiran warga.

oleh Septian DenyDiterbitkan 25 Oktober 2026, 10:00 WIB
Api berkobar setelah bentrokan antara polisi dan demonstran kelompok Italia in Piazza di depan Katedral Milan, Italia, pada Sabtu (17/10/2026). (Dok. Stefano Porta/LaPresse via AP)

Liputan6.com, Roma - Ribuan orang kembali menggelar demonstrasi di sejumlah kota di Italia pada Sabtu (24/10/2026), meski pemerintah memperketat langkah pengamanan menyusul bentrokan yang terjadi pada pekan lalu. Aparat keamanan dikerahkan dalam jumlah besar untuk mengantisipasi kerusuhan, tetapi bentrokan tetap pecah di beberapa lokasi.

Dikutip dari Channnel News Asia, Polisi mengatakan telah menangkap sembilan orang dan menahan sementara 371 orang lainnya, termasuk 110 anak di bawah umur. Mereka dibawa ke kantor polisi di delapan kota ketika bentrokan terjadi dalam sejumlah aksi demonstrasi.

Pemerintahan Perdana Menteri Giorgia Meloni yang berhaluan kanan ekstrem telah menyetujui serangkaian langkah keamanan ketat pada pekan ini. Polisi juga melakukan puluhan penggeledahan dan penangkapan sebelum demonstrasi berlangsung.

"Berunjuk rasa adalah hak. Kita perlu menyuarakan pendapat kita," kata Alessio Scimone, pekerja toko taruhan berusia 24 tahun yang ikut dalam demonstrasi di Milan, kepada AFP.

Di Milan, beberapa ribu orang berbaris melewati pusat kota hingga menyebabkan lalu lintas lumpuh. Jumlah peserta yang serupa juga mengikuti demonstrasi di Roma. Di ibu kota Italia itu, sejumlah demonstran sempat menerobos masuk ke area Colosseum.

Menteri Dalam Negeri Matteo Piantedosi mengatakan polisi berhasil mengendalikan situasi dan memisahkan kelompok yang melakukan kekerasan.

"(Polisi) berhasil mengisolasi dan mengendalikan kelompok-kelompok kecil yang melakukan kekerasan dengan keseimbangan dan profesionalisme," demikian pernyataan Piantedosi yang dikutip kantor berita Italia, ANSA.

"Di Italia, tidak boleh ada tempat bagi mereka yang mengira bisa bertindak tanpa mendapat konsekuensi," ujarnya.

Toko-Toko di Milan Tutup Lebih Awal

Di Milan, sejumlah toko memilih tutup lebih awal, sementara toko lainnya memasang papan pelindung pada jendela mereka. Langkah itu dilakukan setelah aksi penjarahan terjadi di pusat mode tersebut pada akhir pekan sebelumnya.

Namun, sejumlah pemilik usaha memilih tetap membuka toko meski situasi keamanan belum sepenuhnya kondusif. Mereka mengikuti seruan Wali Kota Milan Giuseppe Sala agar masyarakat tidak panik.

"Kami ingin menunjukkan bahwa kami tidak takut kepada anak-anak muda ini," kata Alessandro Buhne, 30 tahun, yang bekerja di toko pakaian pria Philipp Plein.

Ia mengatakan para wisatawan merasa takut dengan situasi tersebut. Karena itu, pihaknya ingin memberikan pesan bahwa pengunjung tetap aman ketika memasuki toko mereka.

Stefania Segalina, 55 tahun, relawan penggalang dana di jalanan untuk organisasi kemanusiaan MSF, mengaku lega karena bentrokan tidak terjadi di tempatnya berada.

"Kami sedikit khawatir, tetapi kami tetap keluar untuk menggalang dana sesuai rencana," katanya.

"Kami melihat kehadiran polisi dalam jumlah besar. Itu membuat Anda tidak merasa sendirian jika sesuatu terjadi," ujarnya.

Setelah bentrokan di Milan pada pekan lalu, pemerintah mengerahkan 500 tentara ke kota tersebut. Pemerintah juga menyetujui dekret yang melonggarkan aturan penahanan anak di bawah umur serta menjatuhkan denda kepada orang tua atas kerusakan yang dilakukan anak-anak mereka selama demonstrasi.

Pada Sabtu, polisi juga mengumumkan penangkapan seorang pria berusia 30 tahun yang diduga menjadi tokoh di balik kelompok "October 17 Movement", yang menyerukan aksi demonstrasi tersebut.

 

Mahasiswa Kritik Langkah Pemerintah

Kelompok mahasiswa mengkritik keras respons pemerintah dalam menangani ketertiban umum. Mereka mendesak pemerintah menanggapi tuntutan para demonstran, termasuk mengalihkan anggaran belanja militer untuk pendidikan.

Demonstrasi tersebut merupakan bagian dari gelombang protes yang melibatkan mahasiswa, sopir truk, dan petani. Aksi-aksi itu dipicu persoalan biaya hidup, termasuk harga rumah dan bahan bakar.

Pemerintah Italia pada pekan ini menyetujui sejumlah langkah finansial untuk membantu pelaku usaha yang terdampak lonjakan harga bahan bakar setelah perang di Timur Tengah.

Sementara itu, blokade jalan oleh sopir truk yang sempat melumpuhkan wilayah Italia selatan telah dihentikan. Blokade tersebut sebelumnya menyebabkan kelangkaan bahan bakar dan pangan yang parah selama sepekan.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya