Wall Street Tersungkur Tersengat Aksi Jual Saham

Tiga indeks saham acuan di wall street tertekan menjelang akhir pekan. Indeks Dow Jones memimpin koreksi.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 24 Oktober 2026, 08:00 WIB
Ilustrasi seorang pedagang efek tengah bekerja di lantai Bursa Efek New York atau Wall Street (Foto: AP/Richard Drew)

Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street anjlok pada penutupan perdagangan saham Jumat, 23 Oktober 2026 (Sabtu pagi Jakarta). Indeks Dow Jones turun menjelang akhir pekan seiring aksi jual di sektor teknologi yang terjadi pada sesi sebelumnya berdampak ke sektor lain di pasar.

Sementara itu, harga minyak Amerika Serikat menembus US$ 100 per barel di tengah meningkatnya kekhawatiran konflik antara AS dan Iran akan kembali memanas.

Mengutip CNBC, Sabtu (24/10/2026), indeks Dow Jones Industrial Average turun 652,82 poin atau 1,23%, dan ditutup pada level 52.215, 16. Indeks S&P 500 terpangkas 0,52% menjadi 7.623,68. Indeks Nasdaq susut 0,21%, dan ditutup ke level 25.955,34.

Dalam sepekan, indeks S&P 500 turun 0,5%, sementara Nasdaq melemah 0,7%. Sebaliknya, indeks Dow mencatatkan kenaikan sebesar 0,4% dalam periode sama.

Saham-saham yang bersifat defensif turut tertekan pada Jumat, dengan sektor barang konsumsi primer (consumer staples), utilitas, dan kesehatan mencatatkan penurunan.

Saham American Express, yang merupakan salah satu komponen Dow, anjlok lebih dari 3% setelah perusahaan mengumumkan pemangkasan sekitar 5% dari total tenaga kerjanya secara global, dengan alasan perlunya "bersiap menghadapi AI." Saham Caterpillar juga turun sekitar 2%, sementara Goldman Sachs melemah lebih dari 1%, yang semakin menambah tekanan pada indeks yang terdiri dari 30 saham tersebut.

Pada Kamis, banyak saham teknologi mengalami koreksi saat para pelaku pasar mengevaluasi dampak dari utang korporasi yang besar serta kenaikan suku bunga terhadap perusahaan-perusahaan di sektor AI dan teknologi lainnya. Saham Microsoft sempat menguat pada Jumat.

 

Kinerja Laba Perusahaan Teknologi

Pialang saham John Romolo bekerja di lantai Bursa Efek New York atau sering disebut Wall Street, Senin, 13 Oktober 2025. (Foto AP/Richard Drew)

Di sisi lain, saham perusahaan cip seperti Micron Technology dan Advanced Micro Devices mencatatkan pergerakan yang lebih kuat, masing-masing naik hampir 3% dan hampir 2%.

"Selama dua minggu terakhir, para investor berbondong-bondong beralih dari saham teknologi dan saham yang diuntungkan oleh pusat data (data center) menuju aset-aset yang lebih aman. Pada akhirnya, tidak ada lagi pihak yang bersedia melakukan perpindahan tersebut, dan itulah gambaran serta suasana pasar hari ini," ujar manajer portofolio di Argent Capital Management, Jed Ellerbroek kepada CNBC.

Ellerbroek menambahkan kinerja laba perusahaan-perusahaan teknologi terbukti kuat pada musim ini. Hal tersebut memberikan alasan bagi investor untuk tetap melirik saham teknologi, alih-alih sekadar melakukan aksi pelarian ke aset aman yang didorong oleh emosi.

"Emosi dan rasa takut memainkan peran yang sangat besar," ungkap investor tersebut.

"Kami telah menerima [laporan keuangan kuartalan terbaru] dari beberapa perusahaan teknologi, dan hasil pendapatan mereka tergolong baik,” ia menambahkan.

 

Imbal Hasil Obligasi Turun

Ilustrasi seorang pedagang efek tengah bekerja di lantai Bursa Efek New York atau Wall Street, Selasa, 8 Juli 2025. (Foto: AP/Richard Drew)

Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) tenor 10 tahun berada di kisaran 4,999%, naik lebih dari 4 basis poin pada hari itu.

Sebelumnya, pada Kamis, imbal hasil acuan ini sempat turun ke bawah level krusial 5% untuk pertama kalinya dalam sebulan, seiring dengan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap besarnya pinjaman yang dilakukan untuk mendanai pembangunan pusat data kecerdasan buatan (AI).

Harga minyak juga naik pada Jumat, yang semakin menekan pasar saham. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 3,8% dan ditutup pada level US$ 103,27 per barel.

Harga minyak mentah Brent naik 3,1% dan mengakhiri sesi di angka US$ 116,72, level penutupan tertinggi sejak April.

Kenaikan ini terjadi menyusul laporan Amerika Serikat dan Israel mungkin sedang menyusun rencana untuk melancarkan serangan baru terhadap Iran, sebagai bagian dari konflik regional yang telah berlangsung sejak akhir Februari. Di sisi lain, Iran menyatakan kesiapannya untuk melakukan serangan balasan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya