Liputan6.com, Jakarta - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menyiapkan dana Rp 1 triliun untuk melaksanakan pembelian kembali saham atau buyback pada tahap II 2026. Aksi korporasi ini dijadwalkan berlangsung hingga 21 Januari 2027.
Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (23/10/2026), BRI telah memperoleh persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk melaksanakan pembelian kembali saham tersebut melalui surat Nomor S-210/PB.21/2026 tertanggal 22 Oktober 2026.
Advertisement
Perseroan memperkirakan periode pelaksanaan buyback berlangsung mulai 22 Oktober 2026 hingga 21 Januari 2027. Pembelian saham dapat dilakukan secara bertahap maupun sekaligus melalui Bursa Efek Indonesia.
Dana yang dialokasikan untuk aksi korporasi ini bersumber dari kas internal perseroan. Nilai tersebut belum termasuk biaya transaksi, seperti komisi perantara pedagang efek dan biaya lainnya, yang diperkirakan maksimal 0,20% dari total nilai buyback.
"Perkiraan Nilai Buyback belum termasuk biaya-biaya (komisi perantara pedagang efek dan biaya lainnya) yang diperkirakan sebanyak-banyaknya sebesar 0,20% (“Perkiraan Biaya Buyback”) dari Perkiraan Nilai Buyback 2026 Tahap II," tulis BRI.
Pelaksanaan pembelian kembali saham ini mengacu pada Peraturan OJK Nomor 13 Tahun 2023 tentang Kebijakan dalam Menjaga Kinerja dan Stabilitas Pasar Modal pada Kondisi Pasar yang Berfluktuasi Secara Signifikan serta surat OJK terkait kebijakan buyback pada kondisi pasar yang berfluktuasi secara signifikan.
BRI menegaskan, pelaksanaan buyback akan mempertimbangkan kondisi likuiditas dan permodalan perusahaan serta mengikuti ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Buyback Saham BRI Tidak Lebih dari 10% Modal
Dalam keterbukaan informasi tersebut, BRI menyatakan jumlah keseluruhan saham hasil pembelian kembali atau treasury stock tidak akan melebihi 10% dari jumlah modal ditempatkan perseroan.
Kebijakan ini menjadi bagian dari pelaksanaan pembelian kembali saham pada tahap II 2026 yang dilakukan sesuai dengan ketentuan pasar modal.Perseroan juga telah memperhitungkan dampak aksi korporasi tersebut terhadap sejumlah indikator keuangan dengan menggunakan laporan keuangan konsolidasian per 30 Juni 2026.
Berdasarkan perhitungan proforma perseroan, pelaksanaan buyback senilai Rp 1 triliun tidak menimbulkan perubahan signifikan terhadap indikator keuangan BRI.
Total aset BRI yang sebelumnya tercatat sebesar Rp 2.342,8 triliun diproyeksikan menjadi Rp 2.341,8 triliun setelah memperhitungkan buyback. Sementara itu, total ekuitas diperkirakan turun dari Rp 333,6 triliun menjadi Rp 332,6 triliun.
Adapun laba bersih perseroan diproyeksikan tetap sebesar Rp 31,18 triliun. Di sisi lain, laba bersih per saham diperkirakan meningkat dari Rp 206,94 menjadi Rp 207,50.