Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Australia bersama dengan kementerian Indonesia luncurkan fase dua Australia–Indonesia Partnership for Economic Development (Prospera), program kerja sama ekonomi unggulan antar kedua negara. Acara ini dihadiri oleh Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong, Menteri Keuangan Indonesia Suahasil Nazara, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia Airlangga Hartarto, dan Menteri Komunikasi dan Digital Indonesia Meutya Hafid.
Peluncuran fase kedua ini juga didorong oleh perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif yang mendukung hubungan perdagangan dan investasi yang lebih erat dan telah membuahkan hasil.
Advertisement
"Dalam lima tahun terakhir, di bawah perjanjian tersebut, nilai perdagangan Australia dan Indonesia meningkat hampir tiga kali lipat menjadi 33 miliar dolar Australia atau Rp 417 triliun dan investasi kita naik sebesar 8,4 persen," tutur Wong dalam acara peluncuran Kamis (22/10/2026).
Ia juga melontarkan candaan bahwa anak muda di Australia sering makan Indomie. "Gandum Australia dikirim ke sini kemudian kami membelinya kembali dalam bentuk Indomie," ujarnya.
Selain itu, Wong mengungkapkan bahwa fase selanjutnya dari Prospera ini adalah untuk memperbarui dukungan mereka terhadap ambisi ekonomi Indonesia.
"Tidak hanya menghormati, tapi Australia ingin berkontribusi terhadap fokus Indonesia pada pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif serta pertahanan. Kami ingin bekerja sama untuk membangun kemakmuran (prosperity) dan menciptakan peluang baru untuk masyarakat Indonesia," jelas Wong.
Fase dua dari Prospera juga mencerminkan semangat kerja sama untuk waktu yang lama.
"Dengan nilai total 420 juta dolar Australia (Rp 5,3 triliun) untuk 10 tahun selanjutnya, program ini membangun 30 tahun dukungan Australia untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia," imbuhnya.
Melalui Prospera, Wong berkata mereka bangga dan merasa terhormat untuk mendukung kepemimpinan Indonesia di kancah internasional seperti G20, ASEAN, dan kini Indonesia sebagai kandidat OECD atau Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi.
Ambisi Indonesia Berpenghasilan Tinggi
Wong menekankan ambisi Indonesia untuk menjadi negara berpenghasilan tinggi di tahun 2045 membutuhkan banyak hal, dan kemajuan di semua bidang yang diperlukan akan menciptakan lapangan kerja yang lebih baik, meningkatkan pendapatan, memperkuat layanan publik, dan memberikan kesempatan kepada lebih banyak warga Indonesia untuk berkontribusi terhadap pertumbuhan dan menikmati manfaatnya.
"Untuk mendukung ambisi ini, fase Prospera selanjutnya akan berfokus pada fondasi pertumbuhan, pendorong pertumbuhan, dan keberlanjutan reformasi. Artinya, memperkuat lembaga-lembaga ekonomi, meningkatkan produktivitas dan investasi yang menciptakan peluang dan mengurangi hambatan dari partisipasi ekonomi."
Walaupun kemitraan ini memang melibatkan lembaga-lembaga dan dunia usaha, tapi Wong menyatakan bahwa inti kemitraan ini adalah hubungan antara manusia di dua negara ini.
"Bekerja bersama untuk mendukung ambisi dan dinamisme Indonesia memperdalam hubungan antara rakyat dan pemerintahan kita. Saya sering mengatakan bahwa kita berada di kawasan yang sama dan berbagi masa depan. Karena keamanan, kemakmuran, dan masa depan kita saling terkait," tuturnya.
Menteri Keuangan Indonesia Suahasil Nazara mengungkapkan Prospera fase satu memberikan dampak positif untuk Indonesia seperti dialog kebijakan tingkat tinggi yang biasa diselenggarakan di Jakarta, dan dialog kebijakan ekonomi yang diselenggarakan di Canberra dengan para mitra.
Suahasil berharap Prospera bisa memperdalam kerja sama di bidang kebijakan mikroekonomi, stabilitas mikroekonomi, pengelolaan fiskal, dan pengembangan sektor keuangan.
"Saya juga berharap kerja sama ini bisa menjadi investasi yang lebih besar dan juga peluang kerja yang banyak. Semoga fase dua Prospera bisa berinvestasi pada sumber daya manusia dan lembaga-lembaga yang menggerakkan reformasi. Reformasi ini harus terus berlanjut seiring dengan langkah Indonesia menuju masa depan," tambahnya.
Menteri Keuangan tersebut juga mengungkapkan bahwa pengembangan kepemimpinan, pertukaran antar lembaga, berbagi cerita, menceritakan kisah-kisah Indonesia lalu membandingkannya dengan kisah-kisah dunia, sangat penting dalam upaya mewujudkan Indonesia yang lebih baik di masa depan.
Indonesia Menuju CPTPP
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia Airlangga Hartarto memberikan pidatonya dengan berkata bahwa hubungan erat Indonesia dan Australia juga tercermin dalam bidang akademik dan pariwisata.
"Ada lebih banyak pelajar Indonesia yang berada di Australia dibandingkan dengan di Amerika Serikat. Kami juga ingin masyarakat Australia untuk lebih sering berkunjung ke Indonesia dibanding ke Thailand," ujarnya.
Airlangga menambahkan bahwa OECD adalah sebuah maraton, dan Indonesia sudah berhasil mengisi 20 dari 25 bagian OECD.
"Progresnya sekitar 80 persen. Jadi, saya rasa sisa 20 persen bisa kita capai dalam waktu dua tahun," ucapnya.
Kini, Indonesia juga sedang berjuang untuk masuk ke Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian atau CPTPP dan sangat membutuhkan dukungan Australia.
"Seperti yang sudah didiskusikan sebelumnya, saya berharap di pertemuan di bulan November mendatang, para negara anggota CPTPP setuju dengan masuknya Indonesia sebagai anggota," tutur Airlangga.
Kecerdasan buatan atau AI juga menjadi ancaman untuk pekerja di Indonesia dan kedua negara ini harus bekerja sama memeranginya karena Airlangga menyebutkan Australia sudah mengandalkan layanan yang didasarkan pada digitalisasi dan teknologi informasi. Indonesia memerlukan implementasi dengan sumber daya manusia yang kuat, dan bidang akademik di Australia termasuk dalam bagian tersebut.
Sebagai penutup, Airlangga berharap RI dan Australia bisa bekerja sama dalam tahap selanjutnya dari Prospera fase dua, dan keberhasilan fase kedua ini akan diukur tidak hanya berdasarkan kegiatan yang dilakukan, tapi juga berdasarkan perbaikan berkelanjutan yang dihasilkan untuk lembaga ekonomi Indonesia dan manfaat untuk kedua bangsa ini.