Pengangguran Pura-Pura Berangkat Kerja Demi Jaga Gengsi

Takut bikin orang tua cemas, para pengangguran di China nekat pura-pura pergi kerja tiap hari.

oleh Idris Rusadi PutraDiterbitkan 21 Oktober 2026, 14:50 WIB
Orang-orang dan pengendara melintasi jalan pada jam sibuk malam hari di Beijing, China, Rabu (26/4/2023). (AP Photo/Andy Wong)

Liputan6.com, Jakarta - Sebuah foto makan siang masakan rumah hampir saja membocorkan rahasia Coco Li. Wanita berusia 32 tahun yang merupakan mantan karyawan di sebuah perusahaan properti milik negara di China ini hampir saja mengunggah foto tersebut ke grup percakapan keluarganya sebelum akhirnya ia tersadar. Ibunya bisa saja bertanya mengapa ia tidak berada di tempat kerja.

Li adalah satu dari sekian banyak warga China berstatus pengangguran yang memilih menyembunyikan kondisi tersebut dari keluarga. Mereka enggan memicu kekhawatiran dan tekanan yang kerap muncul di tengah pasar kerja yang makin sulit.

"Ibu saya bisa terjebak dalam rasa cemas yang tak berkesudahan, dan pada akhirnya menyalurkan kecemasan itu kepada saya," ujar Li yang mengundurkan diri lebih dari enam bulan lalu akibat beban kerja tinggi dan minimnya apresiasi.

Tingginya antusiasme di media sosial menunjukkan bahwa fenomena pura-pura bekerja kini kian marak. Beragam unggahan yang memberikan tips tempat menghabiskan hari, cara menghindari pertanyaan kerabat soal pekerjaan, hingga catatan harian para 'pekerja semu' ini telah meraih lebih dari 70 juta penayangan di aplikasi RedNote dan 610 juta penayangan di Douyin. Di platform Weibo, tagar terkait bahkan telah dilihat hingga 320 juta kali.

Mengutip Strait Times, Rabu (21/10/2026), para analis menilai fenomena ini menjadi cerminan nyata dari melemahnya pasar kerja di tengah perekonomian China yang sangat bergantung pada sektor ekspor. Data kuartal ketiga per 19 Oktober 2026 menunjukkan bahwa para produsen menghadapi persaingan ketat dengan cara memangkas harga dan jumlah karyawan, sembari melimpahkan beban kerja yang lebih berat kepada staf yang tersisa.

Krisis sektor properti yang berlarut-larut serta terbatasnya keuangan pemerintah daerah turut memukul lapangan kerja dan pendapatan, ditambah dengan efek otomatisasi serta adopsi AI yang kian masif.

Diana Fu, profesor madya ilmu politik China di Cornell University, menyebut bahwa berpura-pura pergi bekerja memungkinkan seseorang menjaga gengsi sekaligus meredam potensi keresahan massal.

Langkah ini membantu menjaga stabilitas sosial di saat Beijing terus menggenjot otomatisasi dan persaingan teknologi melawan Amerika Serikat. "Para pekerja semu ini secara tidak langsung membantu pemerintah China menunda pilihan sulit antara melompat maju dalam otomatisasi atau melindungi kepastian kerja yang sangat krusial bagi stabilitas sosial," ungkapnya.

Menyelinap di Taman, Mal, dan Perpustakaan

Ilustrasi pengangguran di China. (WANG Zhao/AFP)

Sebagian besar unggahan media sosial membagikan panduan menghabiskan hari di luar rumah, mulai dari menghabiskan waktu di taman, perpustakaan, kafe, hingga pusat perbelanjaan. Pemandangan ini mengingatkan pada fenomena para pekerja kantoran di Korea Selatan dan Jepang yang menyembunyikan status pengangguran mereka saat krisis keuangan Asia pada dekade 1990-an.

"Saya tidak pernah menyangka perpustakaan bisa sangat penuh di hari kerja," kata Zhang (36), seorang produser efek visual yang kehilangan pekerjaan akibat pemutusan hubungan kerja berbasis AI pada Agustus lalu.

Dalam unggahan lain, para pengguna media sosial kerap bertanya-tanya apakah orang-orang di sekitar mereka berada dalam situasi serupa, atau menjelaskan alasan mereka bersembunyi serta apa yang mereka rasakan.

Sebagian unggahan berbentuk catatan harian. Dalam salah satu unggahan berjudul 'Hari ke-30 Menganggur: Sebulan Pura-Pura Bekerja', seorang pengguna menceritakan pengalamannya menghadapi 80 lamaran kerja yang ditolak.

Susan Sun (28) telah menyembunyikan status PHK dari perusahaan internet tempatnya bekerja sejak akhir 2025. Situasinya kian rumit pada Mei lalu ketika ibu dan ayah tirinya pindah dari kota kecil mereka ke tempat tinggal Sun di Chongqing untuk mencari pekerjaan.

Memaksa untuk Tetap Keluar Rumah

Kondisi ini memaksa Sun untuk tetap keluar rumah sebelum pukul 9 pagi dan baru kembali setelah pukul 6 sore. Sun bertahan hidup dengan tunjangan pengangguran sebesar 1.864 yuan per bulan serta sisa uang pesangonnya. Ia mengaku cukup bahagia hidup hemat tanpa bekerja. Satu-satunya tekanan yang ia rasakan justru datang dari orang tuanya.

"Mereka menyalurkan kecemasan kepada saya lewat nada bicara dan ekspresi yang halus namun terus-menerus," tutur Sun, terutama saat mereka menasihatinya untuk menghemat uang karena kondisi ekonomi sedang memburuk.

Yige Dong, asisten profesor sosiologi di University at Buffalo, menilai bahwa jaring pengaman sosial China yang relatif terbatas dibanding Jepang dan Korea Selatan pada dekade 1990-an dapat menyulitkan para pengangguran untuk terus berpura-pura dalam jangka panjang.

"Pada titik tertentu, masyarakat kemungkinan akan lebih berfokus menggabungkan seluruh sumber daya yang ada, termasuk meminjam uang dari anggota keluarga dan kerabat," pungkas Dong.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya