Ibas Dorong Penguatan Tata Kelola Museum dan Galeri Seni Indonesia

Ibas meyakini museum dan galeri tidak seharusnya hanya menjadi tempat penyimpanan benda bersejarah, tetapi juga menjadi ruang hidup bagi seni dan budaya.

oleh Jonathan Pandapotan PurbaDiterbitkan 20 Oktober 2025, 13:39 WIB
Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR), Edhie Baskoro Yudhoyono (Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR), Edhie Baskoro Yudhoyono, mendorong penguatan tata kelola museum dan galeri seni di Indonesia melalui kerja sama internasional, pendanaan berkelanjutan, pemanfaatan teknologi, serta peningkatan edukasi dan literasi seni bagi generasi muda.

“Sebagai anggota parlemen, kita memiliki tanggung jawab untuk memastikan diplomasi antara kedua negara berjalan dengan baik dan semakin kuat. Kita tidak datang hanya untuk menyapa sebagai negara tetangga, tetapi juga untuk memastikan kerja sama, kolaborasi, dan pertukaran gagasan terus berkembang,” ujar pria yang akrab disapa Ibas saat berkunjung ke National Gallery of Australia di Canberra, Australia, seperti dikutip Selasa (20/10).

Ibas menyebut kunjungan itu menjadi kesempatan baginya untuk mempelajari pengelolaan koleksi, pelestarian karya seni, pengembangan pameran, serta sistem kerja sama antara museum dan galeri dengan berbagai institusi kebudayaan di dunia. Sebab, hubungan Indonesia dan Australia tidak cukup hanya dibangun melalui kedekatan geografis sebagai negara bertetangga, tetapi juga perlu diperkuat melalui kerja sama konkret, pertukaran pengetahuan, dan kolaborasi di berbagai bidang, termasuk seni dan kebudayaan.

"Indonesia merupakan negara yang memiliki keberagaman budaya dan kekayaan ekspresi seni yang luar biasa. Kekayaan tersebut tidak hanya tercermin dalam seni lukis dan karya seni rupa, tetapi juga dalam kerajinan tangan, wastra Nusantara, seni tekstil tradisional, seni kriya, serta berbagai warisan budaya yang tumbuh di daerah-daerah," jelas Ibas.

Ibas menjelaskan, wastra Indonesia seperti batik, tenun, songket, hingga berbagai kain tradisional khas daerah merupakan bagian penting dari identitas bangsa yang menyimpan nilai sejarah, filosofi, keterampilan, dan pengetahuan yang diwariskan lintas generasi.

"Kekayaan seni dan budaya Indonesia perlu memperoleh ruang yang lebih luas melalui museum, galeri, pameran, dokumentasi, serta kolaborasi dengan seniman dan institusi kebudayaan di dalam maupun di luar negeri," ungkap lulusan Curtin University di Australia Barat tersebut.

Ibas meyakini museum dan galeri tidak seharusnya hanya menjadi tempat penyimpanan benda bersejarah, tetapi juga menjadi ruang hidup bagi seni dan budaya, tempat masyarakat mengenali identitasnya, sekaligus sarana memperkenalkan kekayaan Indonesia kepada dunia.

"Semangat Bhinneka Tunggal Ika harus terus menjadi landasan dalam menjaga dan mengembangkan kebudayaan nasional. Perbedaan tradisi, karya, dan ekspresi seni merupakan kekayaan yang memperkuat persatuan bangsa," dia menandaskan.

Sebagai informasi, dalam kunjungan tersebut, Ibas menaruh perhatian pada cara National Gallery of Australia membangun dan merawat koleksi, melaksanakan kurasi, menjaga keamanan karya seni, serta mengembangkan kerja sama dengan seniman dan institusi kebudayaan internasional.

Menurutnya, pengelolaan museum membutuhkan sistem yang profesional dan berkelanjutan. Proses kurasi harus dilakukan dengan memperhatikan nilai artistik, sejarah, keaslian, konteks budaya, serta relevansi karya bagi masyarakat.

Di samping itu, aspek keamanan menjadi bagian penting, mulai dari perlindungan fisik karya, pengendalian kondisi lingkungan penyimpanan, pengelolaan risiko, hingga dokumentasi dan pengamanan informasi koleksi.

Museum juga perlu memperhatikan aspek ramah lingkungan dalam operasionalnya, termasuk efisiensi energi, pengelolaan sumber daya, penggunaan material yang sesuai, serta penerapan praktik konservasi yang memperhitungkan keberlanjutan lingkungan.

Dalam kunjungan itu, Ibas juga menyinggung keberadaan museum dan galeri seni yang didirikan oleh Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), di Pacitan, Jawa Timur.

Museum dan Galeri Seni SBY-ANI menjadi salah satu contoh bagaimana ruang museum dapat menghadirkan hubungan antara seni, sejarah, perjalanan kepemimpinan, serta memori personal maupun kebangsaan.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya