Liputan6.com, Jakarta - Bursa Asia bergerak bervariasi pada awal perdagangan Senin (19/10/2026), setelah kontrak berjangka saham Amerika Serikat (AS) menguat pada Minggu malam.
Investor mulai kembali masuk ke pasar secara hati-hati setelah aksi jual saham yang berkaitan dengan tren kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) pada pekan lalu.
Advertisement
Mengutip CNBC, kontrak berjangka Nasdaq-100 naik 0,4%. Kontrak berjangka Dow Jones Industrial Average menguat 0,2% atau 110 poin, sedangkan S&P 500 bertambah 0,2%.
Sedangkan pergerakan bursa Asia menunjukkan arah yang beragam. Indeks Nikkei 225 Jepang turun 1,65% dan Topix melemah 1,12%. Di Korea Selatan, Kospi terkoreksi 1,29%, sementara indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq turun 0,93%. Sebaliknya, S&P/ASX 200 Australia menguat 0,37%.
Tekanan pasar masih membayangi setelah indeks S&P 500 turun hampir 2% sepanjang pekan lalu, menjadi penurunan mingguan terbesar sejak akhir Juni. Nasdaq bahkan merosot 4,5%, sekaligus mengakhiri tren kenaikan selama empat pekan berturut-turut.
Kekhawatiran investor terutama berkaitan dengan prospek bisnis AI dan besarnya belanja untuk membangun infrastruktur teknologi tersebut.
Menanti Laporan Keuangan
Kekhawatiran terhadap investasi AI meningkat setelah CNBC melaporkan, mengutip sejumlah sumber, pendapatan Anthropic pada kuartal III mencapai US$ 16,8 miliar, naik dari US$ 11,6 miliar pada kuartal II. Meski meningkat, angka tersebut memicu pertanyaan investor mengenai kecepatan pertumbuhan bisnis AI.
CoreWeave, perusahaan penyedia layanan komputasi awan yang membangun pusat data dengan pembiayaan utang besar, menjadi salah satu saham yang terdampak. Saham perusahaan itu anjlok 25% sepanjang pekan lalu, penurunan mingguan terbesar sejak November 2025.
Pelaku pasar obligasi korporasi juga mulai menghindari CoreWeave. Sementara itu, Goldman Sachs mencatat selisih imbal hasil kredit (credit spread) perusahaan AI dan penyedia layanan komputasi berskala besar berada pada level terlebar tahun ini.
Di sisi lain, investor turut mengawasi harga minyak di tengah meningkatnya serangan terhadap kapal di Teluk Persia serta infrastruktur energi Rusia dan Ukraina. Meski kontrak berjangka minyak Brent dan WTI sedikit melemah pada Minggu, harga minyak untuk pengiriman jangka panjang mulai naik karena kekhawatiran gangguan pasokan dapat berlangsung hingga 2027.
Pekan ini, investor juga menantikan laporan keuangan perusahaan besar, termasuk Meta Platforms dan Tesla, yang diharapkan dapat membantu menstabilkan pasar saham.