Liputan6.com, Jakarta - Pengamat pasar modal Hendra Wardana memprediksi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berisiko melanjutkan koreksi dari sisi teknikal. Koreksi IHSG ini terjadi jika belum muncul sentimen positif yang kuat dan langkah konkret untuk memulihkan kepercayaan pasar. Ia mengatakan, saat ini level psikologis, yakni titik harga di pasar keuangan yang punya arti penting untuk trader dan investor di 5.000.
"Level psikologis 5.000 menjadi support penting yang perlu dicermati. Apabila level tersebut ditembus secara meyakinkan, IHSG berpotensi melanjutkan koreksi menuju 4.880,” ujar Hendra saat dihubungi Liputan6.com, ditulis Senin, (19/10/2026).
Sebaliknya, ia menuturkan, jika pemerintah dan otoritas pasar modal mampu menunjukkan langkah pembenahan yang kredibel, tekanan jual mulai mereda, dan investor kembali melakukan akumulasi, IHSG berpeluang mengalami pemulihan menuju 5.280, dengan resistance berikutnya di 5.400.
Advertisement
“Meski demikian, kenaikan indeks perlu dikonfirmasi oleh perbaikan transaksi beli dan berkurangnya tekanan jual asing agar tidak sekadar menjadi rebound teknikal di tengah tren pelemahan,” kata dia.
Saat ditanya mengenai apa yang harus dilakukan investor ketika IHSG masih bergejolak?
Hendra menuturkan, dalam situasi ini, investor sebaiknya mengutamakan perlindungan modal dan menjaga likuiditas, bukan terburu-buru membeli saham hanya karena harganya telah turun tajam. Saham berfundamental kuat tetap layak dievaluasi, tetapi keputusan investasi perlu mempertimbangkan prospek laba, arus kas, tingkat utang, dan kemampuan perusahaan menghadapi perlambatan ekonomi.
“Pembelian dapat dilakukan secara bertahap setelah muncul tanda stabilisasi, dengan tetap memperhatikan toleransi risiko masing-masing investor,” kata dia.
Hendra menambahkan, persoalan utama IHSG saat ini bukan sekadar seberapa jauh indeks akan turun, melainkan seberapa cepat kepercayaan investor dapat dipulihkan.
“Pemerintah dan otoritas perlu membuktikan bahwa transparansi, tata kelola, disiplin fiskal, dan kepastian regulasi benar-benar menjadi prioritas. Tanpa pembenahan yang kredibel, saham yang terlihat murah belum tentu cukup menarik untuk mendorong investor kembali masuk ke pasar Indonesia,” kata dia.
Pasar Saham Indonesia Alami Tekanan
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-gray-landscape-new.png,540,20,0)/kly-media-production/medias/1040537/original/091207600_1446442504-20151102-IHSG-Masih-Berkutat-di-Zona-Merah-Jakarta4.jpg)
Hendra menuturkan, ppasar saham Indonesia sedang menghadapi tekanan yang jauh lebih serius daripada koreksi teknikal biasa. Usulan MSCI untuk mereklasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market telah memicu kekhawatiran investor terhadap kredibilitas, transparansi, dan tata kelola pasar modal nasional. IHSG sempat mengalami penghentian sementara perdagangan atau trading halt dan berada di level 5.185, turun 11,56% pada Jumat, 16 Oktober 2026.
“Menurut saya, kondisi ini mencerminkan krisis kepercayaan yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengandalkan pemulihan harga saham. Investor kini tidak hanya mempertimbangkan apakah valuasi saham sudah murah, tetapi juga menilai apakah risiko berinvestasi di Indonesia masih sebanding dengan potensi imbal hasil yang ditawarkan,” kata dia.
Ia menuturkan, tekanan pasar terlihat dari aksi jual investor asing yang mencapai Rp3,4 triliun pada perdagangan hari ini, sehingga akumulasi aksi jual asing sepanjang tahun berjalan mencapai sekitar Rp 114 triliun.
“Saham-saham perbankan berkapitalisasi besar, seperti BBCA, BBRI, dan BMRI, turut menghadapi tekanan jual yang memperberat pelemahan IHSG,” kata dia.
Apabila Indonesia benar-benar kehilangan status Emerging Market, ia menuturkan,sebagian dana pasif yang mengikuti indeks berpotensi menyesuaikan portofolionya, sementara investor aktif juga dapat mengurangi eksposur terhadap pasar domestik. Berbagai estimasi berdasarkan skenario perubahan klasifikasi sebelumnya berada pada kisaran US$ 2,2 miliar hingga US$ 13 miliar atau sekitar Rp 37 triliun hingga Rp234 triliun, dengan asumsi kurs Rp 17.000–Rp 18.000 per dolar AS.
“Namun, angka tersebut bukan estimasi resmi MSCI untuk skenario Standalone Market dan tidak dapat dianggap sebagai kepastian besarnya dana yang akan keluar. Risiko yang lebih mendasar adalah berkurangnya daya tarik Indonesia di mata investor global, menurunnya permintaan terhadap saham domestik, serta meningkatnya volatilitas pasar,” kata dia.
Advertisement
Usulan MSCI Bukan Keputusan Final
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3893147/original/054077900_1641196874-20220103-Pembukaan_Awal_Tahun_2022_IHSG_Menguat-4.jpg)
Meski demikian, usulan MSCI belum merupakan keputusan final. Pemerintah dan otoritas pasar modal masih memiliki kesempatan untuk membuktikan bahwa pembenahan dilakukan secara nyata melalui peningkatan transparansi kepemilikan saham, keterbukaan pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1%, penguatan klasifikasi investor, pengawasan konsentrasi kepemilikan, pemenuhan ketentuan free float, serta penegakan aturan terhadap transaksi yang tidak wajar.
“Pasar membutuhkan bukti implementasi yang konsisten, bukan sekadar pengumuman kebijakan,” kata dia.
Selain itu, konsistensi kebijakan fiskal juga perlu diperhatikan, terutama dalam perencanaan dan pelaksanaan program-program besar pemerintah. Efektivitas belanja negara, transparansi anggaran, stabilitas rupiah, dan kepastian regulasi merupakan faktor yang turut memengaruhi persepsi risiko investor.
“Dalam kondisi seperti ini, ketidakjelasan kebijakan dapat memperburuk sentimen dan membuat investor semakin berhati-hati menempatkan modalnya di Indonesia,” kata dia.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256352/original/040260500_1781154176-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-11T120248.984.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9375340/original/043230400_1792140162-Screenshot_2026-10-16_151345.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9364644/original/080112300_1791013312-IndonesiadangdutAwards2026Attire__ekotjandra_Hijab_stylist__suciaurelias_Makeup__riskymakeup__5_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5569782/original/065699500_1777454729-Tugas__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5167904/original/050730100_1742374600-20250319-OJK-ANG_6.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5182875/original/042479600_1744109077-20250408-Penutupan_IHSG-HER_4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5765960/original/056186200_1778669118-Direktur_Utama_KPEI_Iding_Pardi-13_Mei_2026b.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9376001/original/050419600_1792292540-WhatsApp_Image_2026-10-18_at_08.44.53.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371001/original/004173100_1791721798-WhatsApp_Image_2026-10-11_at_6.54.17_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9376318/original/061407100_1792329885-OJK-BEI_18_Oktober_2026a.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5497597/original/013342400_1770638549-3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4425068/original/003532400_1683873650-Thumbnail_Liputan6.com.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5182875/original/042479600_1744109077-20250408-Penutupan_IHSG-HER_4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4277617/original/021298300_1672400413-Penutupan_Perdagangan_Bursa_Efek_Indonesia_2022-Angga-6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5487880/original/076464300_1769682052-3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5497601/original/069263100_1770638743-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9375356/original/043808200_1792141011-WhatsApp_Image_2026-10-16_at_15.50.57__1_.jpeg)