Rupiah Melemah hingga Inflasi Bayangi Pasar Properti

CEO LippoLand beberkan pasar properti ikut terpengaruh pelemahan rupiah dan ekonomi global.

oleh Cahya Alena FauzaDiterbitkan 02 Oktober 2026, 15:15 WIB
CEO LippoLand David Iman Santoso beberkan pasar properti ikut terpengaruh pelemahan rupiah dan ekonomi global pada anniversary ke-39 LippoLand di Jakarta, Kamis (1/10/2026). (Liputan6.com/Cahya Alena Fauza)

Liputan6.com, Jakarta - CEO LippoLand, David Iman Santoso, mengatakan, kondisi ekonomi lesu, rupiah yang melemah, dan inflasi yang tinggi membuat pasar properti terpukul.

Seiring tantangan itu, Dia mengatakan, kini kuncinya  adalah untuk kreatif dalam menjawab kebutuhan masyarakat.

"Terasa pastinya, sangat challenging, tapi kita perlu kreatif ya,” tutur David, dikutip Jumat (2/10/2026).

Karena pasar level atas semakin menipis, kini perusahaan enabler properti harus memperluas jangkauan pasar.

"Market yang di atas Brentwood Villas ada, tapi makin menipis ya, kita harus kreatif saja," kata David.

Contohnya, LippoLand meluncurkan Hunian Warisan Bangsa (HWB) di dua kota, yakni Purwakarta dan Serang. Hunian ini menawarkan cicilan yang rendah, agar bisa menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat.

"Kita barusan juga launching HWB Purwakarta dan juga HWB Serang, itu cicilan Rp 600 ribu per bulan,” tutur dia.

Lantaran, LippoLand berambisi untuk menjadi lebih relevan di pasar properti Indonesia, serta menjawab backlog properti di Indonesia.

“Kita mau relevan buat keadaan properti di Indonesia. Kita mau menginspirasi dan juga mau menjawab urusan backlog properti di Indonesia,” dia menjelaskan pada anniversary LippoLand ke-39 di Jakarta.

Rupiah Merosot

Ekonomi Lesu Pengaruhi Pergerakan Pasar Properti, Perusahaan Dituntut Kreatif Jawab Kebutuhan Masyarakat. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti menyampaikan kondisi global yang diiringi ketatnya kebijakan moneter dan fenomena higher for longer berpotensi menekan stabilitas nilai tukar rupiah. Kondisi ini juga dapat memengaruhi neraca pembayaran Indonesia seiring pergerakan aliran modal global.

"Kita akan menghadapi situasi atau fenomena yang dinamakan higher for longer, yang pada akhirnya memberikan tekanan kepada negara emerging market, khususnya terkait aliran modal yang masuk ke negara emerging market, termasuk Indonesia," ujar Destry dalam rapat bersama Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen, Senin (28/9/2026).

Selain itu, pergerakan rupiah terhadap dolar AS diprediksi melemah menjelang akhir pekan ini seiring lonjakan harga minyak dunia karena ketegangan AS-Iran meningkat.

"Rupiah hari ini diperkirakan melemah pada kisaran 17.950-18.050 dipengaruhi oleh global kenaikan harga minyak harga minyak, yaitu meningkatnya eskalasi konflik AS dan Iran,” kata Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya