Energi Surya 100 GWp Percepat Target Net Zero Emission 15 Tahun

Pemerintah pacu energi surya 100 GWp dan ekonomi digital demi capai target net zero emission lebih cepat.

oleh Immanuel ChristianDiterbitkan 29 September 2026, 17:35 WIB
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. (Liputan6.com/Immanuel C)

 

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut pengembangan energi surya hingga 100 gigawatt peak (GWp) bisa mempercepat target net zero emission Indonesia pada 2060, bahkan lebih cepat 10 hingga 15 tahun.

Airlangga menjelaskan, kebutuhan energi nasional pada 2030 diperkirakan bertambah hingga 800 terawatt-hour (TWh). Sementara itu, pemerintah berencana membangun pembangkit listrik berkapasitas 69,5 gigawatt (GW) melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL).

"Kemarin arahan Bapak Presiden di Bali, kita harus mendorong solar energy sebagai green energy sebesar 100 gigawatt peak," ujar Airlangga dalam Seminar Nasional Green Economy 2045 di Jakarta, Selasa (29/9/2026).

Guna memenuhi kebutuhan energi bersih, pemerintah bakal mendorong sektor industri mempercepat pencapaian target kapasitas energi surya tersebut.

"Kalau ini dilakukan, target net zero emission Indonesia tahun 2060 bisa maju sekitar 10 sampai 15 tahun," lanjutnya.

Selain mendorong energi surya, pemerintah juga menyiapkan pengembangan smart grid untuk mengimbangi peningkatan kebutuhan listrik sekaligus mendukung integrasi pembangkit energi terbarukan.

Di sisi lain, hilirisasi dan digitalisasi terus dipacu sebagai mesin pertumbuhan ekonomi baru. Menurut Airlangga, pengesahan Digital Economic Framework Agreement (DEFA) ASEAN berpotensi menggandakan nilai ekonomi digital kawasan dari US$ 1 triliun menjadi US$ 2 triliun.

Potensi Pertumbuhan Industri Digital

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. (Liputan6.com/Immanuel C)

Mengingat porsi ekonomi Indonesia mencakup sekitar 40% dari total ekonomi ASEAN, potensi pertumbuhan industri digital domestik diperkirakan bisa mencapai US$ 400– US$ 600 miliar.

"Karena 40% ekonomi ASEAN ada di Indonesia, industri ini berpotensi menyumbang US$ 400 sampai US$ 600 miliar bagi pertumbuhan ekonomi nasional,” jelasnya.

Airlangga menegaskan, lompatan besar di sektor energi hijau dan ekonomi digital wajib diimbangi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Pemerintah pun menyiapkan pelbagai program pelatihan, termasuk berkolaborasi dengan perusahaan asal Inggris, ARM, di bidang semikonduktor dengan target 15.000 peserta dalam dua tahun.

"Keberadaan SDM yang siap pakai selalu menjadi kunci utama untuk mengawal energi hijau dan digitalisasi," pungkas Airlangga.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya