Liputan6.com, Jakarta - Gejolak ekonomi global kembali menekan nilai tukar rupiah. Kenaikan harga minyak dunia hingga menembus angka US$ 108 per barel sebagai dampak dari belum sepakatnya pembukaan Selat Hormuz menjadi pemicu utama yang mengerek kekhawatiran inflasi global.
Sentimen tersebut memicu perkiraan bahwa Bank Sentral Amerika Serikat bakal memperketat kebijakan moneternya. Dampaknya, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun melesat ke angka 5,23%, level tertinggi sejak 2007.
Advertisement
Kenaikan ini memicu kaburnya modal asing dari negara berkembang. Dari dalam negeri, tingginya kebutuhan valuta asing bagi para importir di akhir triwulan III ikut menambah beban pergerakan rupiah.
Merespons tekanan global ini, Bank Indonesia (BI) langsung mengencangkan barisan untuk menjaga stabilitas mata uang Garuda.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea, menegaskan bahwa bank sentral terus mengawal pasar agar pergerakan rupiah tetap terjaga dan mencerminkan kondisi fundamentalnya.
"Bank Indonesia terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai fundamentalnya," ujar Erwin dalam keterangannya, Selasa (29/9/2026).
Optimalkan Operasi Moneter
Erwin menjelaskan, BI mengoptimalkan strategi operasi moneter yang berorientasi pasar (pro-market) serta menjaga kecukupan likuiditas. Langkah ini diperkuat lewat dorongan insentif untuk instrumen Swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) Lindung Nilai demi mempermudah pendanaan luar negeri.
Aksi pasang badan ini dilakukan BI melalui intervensi berlapis secara konsisten, mulai dari transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri (offshore), transaksi spot dan DNDF di pasar domestik, hingga aksi borong Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Koordinasi intensif dengan para pelaku pasar dan korporasi juga terus diperketat.
Meski diterjang badai ekonomi global, BI mencatat pergerakan rupiah saat ini masih relatif stabil dan seirama dengan mata uang di kawasan Asia. Secara quarter-to-date (qtd), pelemahan rupiah tercatat masih terbatas di angka 0,67%. Ketahanan rupiah ini didukung oleh amunisi cadangan devisa Indonesia yang makin tebal, yang berhasil melonjak ke angka US$ 146,5 miliar pada akhir Agustus 2026.
Rupiah Dibuka Melemah ke 17.997 per Dolar AS
Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada pembukaan perdagangan Selasa (29/9/2026). Rupiah turun 19 poin atau 0,11 persen ke level 17.997 per dolar AS dari posisi penutupan sebelumnya 17.978 per dolar AS.
Pelemahan rupiah dipengaruhi meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) serta kenaikan imbal hasil obligasi AS.
Analis Doo Financial Lukman Leong mengatakan tekanan terhadap rupiah masih berlanjut seiring ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter bank sentral AS.
"Rupiah diperkirakan masih tertekan terhadap dolar AS oleh ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan imbal hasil obligasi AS yang terus meningkat," ucapnya dikutip dari Antara.
Investor di pasar juga memperkirakan adanya kemungkinan pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut oleh The Fed.
Berdasarkan data CME FedWatch, pelaku pasar memperkirakan peluang sekitar 70 persen untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan The Fed 28 Oktober mendatang.
Perkiraan tersebut muncul setelah The Fed menaikkan suku bunga pada 16 September. Kenaikan itu menjadi yang pertama sejak 2023 dan membawa suku bunga acuan ke kisaran 3,75 persen hingga 4 persen.
Kondisi tersebut turut meningkatkan perhatian investor terhadap pergerakan dolar AS dan imbal hasil aset Amerika Serikat yang dapat memengaruhi arus modal di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.