Liputan6.com, Jakarta - Seorang staf perusahaan bank investasi dan jasa keuangan multinasional asal Amerika Serikat, Morgan Stanley membuat heboh. Dengan secara tidak sengaja membocorkan dokumen internal yang mencantumkan lebih dari 100 transaksi perbankan investasi di Asia.
Bocoran dokumen mengungkap rincian mengenai pipeline bisnis bank tersebut. Bahkan, daftar tersebut memuat sejumlah kandidat yang akan melakukan penawaran umum perdana saham (IPO), yang berasal dari China, Korea Selatan hingga India.
Advertisement
Daftar yang sebagian besar berfokus pada Asia, serta Eropa, Timur Tengah, dan Afrika juga mencantumkan perusahaan ekuitas swasta dan dana pensiun yang mendukung perusahaan-perusahaan tersebut, serta proyek-proyek yang telah ditunda.
Menurut orang-orang yang mengetahui masalah tersebut, daftar transaksi itu dikirim melalui email oleh seorang staf bank pada minggu ini, yang kemudian berupaya menarik kembali pesan tersebut. Setelahnya, sempat muncul unggahan salinan yang telah dibuat buram di sebuah akun Instagram.
Dalam pernyataannya melansir laman Yahoo Finance, Kamis (24/9/2026), Morgan Stanley langsung bereaksi dan mengatakan pihaknya sangat serius dalam menjaga kerahasiaan klien.
“Kami segera mengambil langkah-langkah untuk menangani penyebaran informasi ini yang terjadi secara tidak sengaja dan kami terus berkomunikasi dengan pihak-pihak terkait,” kata perusahaan yang berbasis di New York tersebut.
Insiden ini menjadi sebuah kesalahan yang memalukan bagi bank tersebut, yang selama bertahun-tahun termasuk di antara penjamin emisi terkemuka dalam penjualan saham di Hong Kong dan transaksi merger di Asia.
Meskipun kesalahan semacam ini jarang terjadi, insiden tersebut menyoroti betapa sensitifnya informasi yang ditangani oleh tim perbankan investasi, di mana rincian mengenai transaksi calon klien biasanya dijaga dengan sangat ketat.
Insiden Serupa di Dunia
Belum jelas apakah para klien dan pihak-pihak terkait telah menghubungi Morgan Stanley, serta bagaimana perusahaan tersebut menangani masalah ini.
Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah bank dan lembaga keuangan secara tidak sengaja membocorkan dokumen sensitif, yang kemudian menimbulkan sanksi dari regulator, kerusakan reputasi, dan masalah kepercayaan nasabah dalam jangka panjang.
Pada Juli, Bank of Baroda di India mengatakan bahwa akun email seorang karyawannya telah diretas, yang mengakibatkan akses tanpa izin terhadap sejumlah data.
Akibat kerentanan keamanan siber, sebuah unit First American Financial Corp mengekspos 885 juta dokumen yang berisi informasi pelanggan.
Regulator industri keuangan tertinggi di New York mendenda perusahaan tersebut sebesar US$1 juta karena menyembunyikan kerentanan tersebut.
Banco Santander SA mengatakan bahwa data yang dikelola oleh pihak eksternal pada 2024 telah diakses tanpa izin, sehingga informasi milik klien dan staf terdampak.