Liputan6.com, Jakarta - Arie Basuki merupakan salah satu fotografer yang malang melintang di dunia fotografi. Pria yang dikerap dipanggil Arbas merupakan salah satu jurnalis yang hilang kontak saat meliput erupsi gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda.
Arbas merupakan sosok yang pendiam namun lebih memilih banyak berbicara melalui karya. Pria yang tergabung pada Pewarta Foto Indonesia (PFI), menjadi salah satu sosok yang diperhitungkan dalam karya jurnalistik.
Advertisement
Saat menyambangi kediaman Arbas di Perumahan Palem Ganda Asri Depok, kedatangan Liputan6.com disambut hangat istri Arbas, Yanti bersama keluarga. Meja kerja yang berada di ruang tengah rumah, menjadi saksi bisu Arbas dalam memilah hasil fotografinya untuk menjadi sebuah berita yang disajikan kepada masyarakat.
"Itu meja kerjanya dia, menghabiskan waktu kalau dia sudah bekerja ya di situ," ujar Yanti, Selasa (22/9/2026).
Pada meja kerja Arbas, sejumlah piala dan penghargaan yang diterima Arbas memperlihatkan dedikasinya sebagai fotografer yang kerap menjadi panutan para fotografer muda. Tercatat, Arbas mendapatkan penghargaan dari berbagai ajang, seperti KapanLagi Youniverse, World Press Foto.
"Fotonya itu Pollution in the Cileungsi River, dia sempat pameran di Belanda selama satu bulan," jelas Yanti.
Arbas turut mendapatkan penghargaan Anugerah Adinegoro pada foto kategori jurnalistik perlawanan emak saat demo pada 2025. Selanjutnya Arbas mendapatkan penghargaan kategori people in the News dalam tajuk pertahanan hidup sendiri di desa yang terendam laut.
"Jadi ada satu desa terendam air laut, rumahnya terendam tapi masyarakatnya masih bertahan di sana, ini salah satu fotonya yang masuk (penghargaan)," terang Yanti.
Yanti juga memperlihatkan kategori Art, Culture & Entertainment dengan tema Badut Syiar. Untuk mendapatkan penghargaan tersebut, Arbas mengajarkan agama pada masyarakat pinggiran dengan menggunakan pakaian badut pada 2019.
"Selain itu ada penghargaan dari PFI saat diminta menjadi juri, jadi sebenarnya piala penghargaannya masih banyak, di meja ini yang terbaru," ucap Yanti.
Yanti mengungkapkan, Arbas merupakan sosok Family Man dan kerap mengajak keluarganya saat hunting foto. Bahkan saat peliputan erupsi gunung Merapi di Yogyakarta, Yanti hadir di sisi Arbas saat melakukan pengambilan gambar.
"Jarang dia hunting bersama teman-teman, dia lebih nyaman bersama keluarga, jadi saya suka ikut dia hunting," ungkap Yanti.
Yanti masih ingat saat hunting bersama Arbas memotret gunung meletus, yakni gunung Merapi. Kala itu, saat terjadi 'Wedus Gembel' Arbas meminta Yanti untuk membawa keluarganya untuk turun menyelamatkan diri.
"Jadi saat wedus gembel, dia meminta saya membawa keponakan-keponakan masuk mobil, bawa ke depan, saya enggak tahu dia di mana itu. Tiba-tiba dia muncul aja naik ojek," tutur Yanti.
Yanti meyakini suaminya bisa survive saat memotret di lokasi bencana karena kegigihan dan dedikasinya yang tinggi. Sejumlah penghargaan Arbas tersusun rapi bersama dengan penghargaan yang diterima anaknya pada prestasi lain.
"Jadi ini ada penghargaan dia bersama penghargaan anak. Jadi dia sama anaknya berlomba untuk mendapatkan penghargaan terbanyak dan disimpan di meja kerjanya," pungkas Yanti.