Planet Termuda Ditemukan, Berukuran Mirip Jupiter

Penemuan planet ini memberikan kesempatan bagi para ilmuwan untuk melihat pembentukan planet secara langsung.

oleh Nasywa FakhirahDiterbitkan 21 September 2026, 18:00 WIB
Planet Termuda Elias 2-24 b (NASA)

Liputan6.com, Honolulu - Para astronom sudah mengonfirmasi adanya planet termuda yang pernah ada, sebuah planet yang umurnya kurang dari 1 juta tahun dan masih dikelilingi oleh gas dan debu bahan pembentuknya.

Dikutip dari Science Daily, Senin (21/9/2026), planet tersebut bernama Elias 2-24 b, yang teridentifikasi menggunakan observasi yang tersimpan di arsip yang didanai NASA. Planet ini masih mengorbit dalam piringan debu bintang induknya yang masih muda.

"Model pembentukan planet kami sudah kesulitan menjelaskan pemegang rekor sebelumnya untuk planet termuda yang pernah ada, yaitu empat planet yang sama-sama memegang rekor, terdiri dari dua planet yang mengorbit bintang PDS 70 dan dua planet mengorbit bintang WISPIT 2. Semua ini umurnya kurang dari lima juta tahun," tutur profesor di Institudo de Estudios Astrofisicos di Chile, Lucas Cieza, sekaligus salah satu penulis makalah yang merinci hasil penelitian tersebut.

"Elias 2-24 b menunjukkan kita bahwa bahkan model pembentukan planet terbaik yang kita punya masih kekurangan beberapa proses penting."

Dalam penelitian yang terbit pada 16 September di The Astrophysical Journal Letters, tim peneliti yang dipimpin seorang kandidat doktor di Universidad Diego Portales di Chile, Andrea Bernardi, menganalisis data pengamatan yang tersimpan di tujuh bintang muda.

Bintang-bintang tersebut sudah melalui pengamatan menggunakan koronagraf di Observatorium W. M. Keck di Hawaii yang bekerja sama dengan NASA lewat perjanjian kerja sama. Setiap bintang dikelilingi oleh piringan puing yang berisi debu, gas, dan pecahan es serta batuan. Celah dan struktur lain pada piringan tersebut bisa menjadi tanda bahwa planet tersebut sedang terbentuk.

Koronagraf menutupi sebagian besar cahaya terang bintang, membuatnya lebih mudah untuk mencari objek-objek yang jauh lebih redup dari sekitarnya. Dengan teknik ini, para astronom mencari planet-planet yang tersembunyi di dalam piringan berdebu. Planet-planet yang mengorbit bintang di luar tata surya kita orang-orang kenal sebagai eksoplanet.

 

Ukurannya Mirip Jupiter

Ilustrasi Jupiter (Unsplash)

"Celah-celah tersebut tempat penemuan planet-planet ini, karena mereka yang membentuk celah-celah itu," tutur Bernardi.

"Di situlah tepatnya kami menemukan Elias 2-24 bb," ungkap dia.

Massa yang Elias 2-24 b miliki kira-kira sama dengan Jupiter dan mengorbit bintang yang berjarak 450 tahun cahaya dari Bumi. Karena sistem ini sangat baru, mempelajarinya memungkinkan kepada para astronom melihat sekilas seperti apa tampilan tata surya kita miliaran tahun yang lalu.

Bintang terbentuk di dalam awan gas dan debu yang sangat luas. Planet kemudian bisa terbentuk dari materi sisa di sekitar bintang yang baru terbentuk, secara bertahap mengumpulkan bahan dan membentuk lintasan lewat piringan di sekelilingnya. Namun, meneliti planet di tahap-tahap paling awal sangat sulit karena debu tebal bisa menghalangi pandangan.

Sebagian besar penemuan eksoplanet yang terkonfirmasi justru melalui fenomena transit. Transit terjadi ketika sebuah planet melintas di depan bintangnya dan menyebabkan penurunan sementara yang kecil pada cahaya bintang yang terlihat dari Bumi. Penerapan metode ini menjadi lebih sulit ketika planet masih tertutup oleh debu atau mengorbit sangat jauh dari bintangnya. Hasilnya, sebagian besar dari sekitar 6.000 eksoplanet yang sudah terkonfirmasi berusia miliaran tahun dan mengorbit dekat dengan bintangnya.

Saat ini, para ilmuwan membuat model pembentukan planet dengan menggunakan teori, simulasi komputer, dan pengamatan bintang-bintang muda yang dikelilingi piringan, di mana sulit untuk mendeteksi planet-planet yang sedang terbentuk secara langsung. Penemuan seperti Elias 2-24 b bisa menjadi uji coba penting di dunia nyata untuk model-model tersebut.

"Galaksi selalu menghasilkan bintang dan planet baru, jadi ada banyak di setiap tahap evolusinya," tutur Cieza.

"Artinya secara teori kita bisa melihat seluruh prosesnya, tapi ada kesenjangan besar dalam hal apa yang bisa terlihat oleh kebanyakan teleskop. Saat ini, kita hampir tidak bisa melihat planet-planet muda ini," lanjut dia. 

Konfirmasi terbaru ini juga menjawab pertanyaan yang sudah para astronom perdebatkan selama sekitar 10 tahun.

 

Penelitian Sebelumnya

Ilustrasi Alam Semesta (Unsplash)

Pengamatan sebelumnya oleh ALMA (Atacama Large Millimeter/submillimeter Array) di Chile mengungkapkan adanya celah pada piringan debu yang mengelilingi bintang muda Elias 2-24. Kemudian, Very Large Telescope milik European Southern Observatory di Chile mendeteksi titik cahaya redup di dalam celah tersebut.

Para ilmuwan bertanya-tanya apakah objek tersebut sebuah planet. Masalahnya adalah teori-teori pembentukan planet yang ada saat ini menunjukkan bahwa sebuah planet besar seharusnya tidak bisa terbentuk dengan cepat, terutama pada jarak yang begitu jauh dari bintangnya.

Model-model terkini menunjukkan pembentukan planet seukuran Jupiter dengan jarak Jupiter dari Matahari (yang sedikit lebih dari lima kali jarak Bumi ke Matahari) membutuhkan waktu sekitar lima juta tahun. Sebuah planet raksasa yang terletak sangat jauh seharusnya membutuhkan lebih banyak waktu.

Namun, objek redup di sistem Elias 2-24 b ini berada sekitar 55 kali lebih jauh dari bintangnya dibandingkan jarak Bumi ke Matahari, dan sudah menunjukkan tanda-tanda sedang terbentuk menjadi sebuah planet.

Untuk menyelidiki lebih lanjut, Bernardi dan rekan-rekannya mencari di arsip Observatorium Keck, tempat yang NASA biayai sebagai kolaborasi antara Keck Observatory dan Nasa Exoplanet Science Institute di Caltech/IPAC.

Mereka menemukan objek samar yang sama dalam data pengamatan yang terkumpul di tahun 2018 dan 2020. Dengan menggabungkan data pengamatan tersebut dan melacak pergerakan objek seiring waktu, tim peneliti menyimpulkan bahwa objek tersebut berperilaku jauh lebih mirip planet yang mengorbit bintang daripada artefak citra atau bintang latar belakang yang jauh.

 

 

Konfirmasi Planet Elias 2-24 b

Ilustrasi Teleskop (Unsplash)

Analisis tersebut mengonfirmasi bahwa objek itu adalah Elias 2-24 b.

"Kita biasanya mendengar tentang teleskop yang bekerja secara terpisah, tapi konfirmasi ini hanya bisa dilakukan dengan menggunakan beberapa teleskop berbarengan," jelas Bernardi.

"Elias 2-24 b ada di batas kemampuan deteksi teleskop saat ini. Tapi dengan adanya alat baru seperti Nancy Grace Roman Space Telescope milik NASA, deteksi seperti itu seharusnya menjadi lebih mudahmudah," jelas dia. 

Roman yang baru diluncurkan tanggal 30 Agustus, memiliki koronagraf yang lebih canggih dan dirancang untuk mendeteksi planet-planet yang jauh lebih sulit dengan teleskop yang ada saat ini.

Menggunakan metode pengamatan serupa, Roman bisa mengidentifikasi planet-planet yang mengorbit lebih dekat, termasuk planet-planet yang benar-benar mirip Jupiter yang saat ini tersembunyi oleh cahaya terang bintang induknya. Sebagai perbandingan, Elias 2-24 b mengorbit sekitar 10 kali lebih jauh dari bintangnya.

Peningkatan sensitivitas ini bisa membantu para astronom untuk menemukan lebih banyak planet saat tahap-tahap awal pembentukannya dan menutup salah satu kesenjangan pengamatan terbesar dalam ilmu eksoplanet.

"Ini hanyalah awal dari era penemuan baru," kata Cieza.

"Sangat luar biasa, dengan teknologi modern, kita bisa melihat proses pembentukan planet secara langsung, dan Roman akan membawa perburuan planet ke tingkat yang lebih tinggi," tutupnya. 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya