Harga Perak Antam 18 September 2026 Melesat Rp 1.500

Berikut harga perak PT Aneka Tambang Tbk (Antam) saat harga perak dunia menguat pada Jumat, (18/9/2026).

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 18 September 2026, 11:04 WIB
Harga perak (Ilustrasi perak-silver by AI)

Liputan6.com, Jakarta - Harga perak PT Aneka Tambang Tbk (Antam) menguat pada perdagangan Jumat, (18/9/2026). Harga perak Antam hari ini mengikuti harga emas Antam dan perak dunia.

Mengutip laman logammulia.com, harga perak Antam naik Rp 1.500 menjadi Rp 43.400. Pada perdagangan sebelumnya harga perak Antam ditetapkan Rp 41.900.

Antam menawarkan perak batangan 250 gram, 500 gram dan perak butiran murni 99,95%. Harga perak Antam batangan 250 gram ditetapkan Rp 11.375.000 dan harga perak batangan 500 gram dipatok Rp 21.825.000.

Lalu bagaimana harga perak dunia di tradingeconomics.com?

Harga perak dunia naik 1,38% menjadi US$ 66,08 pada Jumat pekan ini. Harga perak bertahan di atas US$ 65 per ons pada Jumat setelah naik lebih dari 3% pada sesi sebelumnya, didukung oleh penurunan harga minyak yang meredakan kekhawatiran inflasi dan turut mendorong penurunan imbal hasil obligasi.

Harga minyak turun selama tiga sesi berturut-turut seiring upaya Arab Saudi memulihkan aliran minyak melalui jalur pipa Timur-Barat, sementara Presiden Donald Trump dijadwalkan bertemu dengan para pemimpin negara Teluk pekan depan.

Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) juga turun dari level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir; imbal hasil obligasi tenor 10 tahun turun ke kisaran 4,93% setelah sempat melampaui 5% pada awal pekan ini. Sementara itu, para investor terus mencermati prospek kebijakan moneter Federal Reserve menyusul kenaikan suku bunga pertama dalam tiga tahun terakhir.

Bank sentral AS mengisyaratkan perlunya pengetatan kebijakan lebih lanjut untuk meredam tekanan inflasi, dengan pasar kini memperkirakan adanya peluang sekitar 53% bagi langkah kebijakan tersebut pada Oktober.

Harga Emas Dunia

Harga emas dunia. (Ilustrasi by AI)

Sebelumnya, harga emas dunia menguat lebih dari 2% pada perdagangan Kamis, 17 September 2026 (Jumat pagi Jakarta) kembali bangkit, dari level terendah dalam hampir enam minggu pada sebelumnya.

Pergerakan harga emas ini didukung oleh penurunan harga minyak dan pelemahan dolar Amerika Serikat (AS), sementara investor mencermati kenaikan suku bunga terbaruk the Federal Reserve (the Fed) serta sinyal kebijakannya.

Mengutip CNBC, Jumat, (18/9/2026), harga emas spot naik 2,4% menjadi US$ 4.364,29 per ons. Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember menguat 0,4% menjadi US$ 4.404,80.

“Kami melihat ada korelasi terbalik yang sangat erat dengan harga energi akibat tekanan inflasi tersebut. Harga energi turun cukup tajam hari ini. Jadi, penurunan harga energi inilah yang mengurangi sebagian tekanan pada pasar emas” ujar Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures, David Meger.

Harga minyak melanjutkan penurunannya selama dua hari berturut-turut hingga mencapai level terendah dalam satu minggu seiring meredanya kekhawatiran akan gangguan pasokan, sementara dolar AS melemah dari level tertinggi tujuh minggu, sehingga membuat emas yang dihargai dalam mata uang AS menjadi lebih terjangkau bagi pemegang mata uang lain.

Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) tenor 10 tahun yang menjadi acuan juga turun. Imbal hasil tinggi pada obligasi AS yang bebas risiko cenderung mengurangi daya tarik logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil (bunga) tersebut.

 

Dibayangi Defisit Fiskal hingga Potensi Dolar AS Melemah

Teller menghitung lembaran mata uang dolar AS di penukaran mata uang, Jakarta, Kamis (13/4). Bank Dunia memandang nilai tukar rupiah menjadi salah satu mata uang yang cukup stabil dibandingkan dengan mata uang lain. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

The Federal Reserve (the Fed) menaikkan suku bunga pada Rabu dan mengisyaratkan kenaikan lebih lanjut dalam beberapa bulan mendatang; Ketua Kevin Warsh turut serta dalam keputusan bulat yang secara efektif mengakui ketidakmampuan pemerintahan Trump sejauh ini dalam mengendalikan inflasi—kondisi yang dikhawatirkan para pembuat kebijakan akan memburuk.

Para pedagang kini memperkirakan adanya peluang sebesar 51% untuk kenaikan suku bunga AS berikutnya saat para pejabat bank sentral bertemu lagi pada Oktober, naik dari hampir 44% sehari sebelumnya, menurut data alat CME FedWatch.

Meskipun emas dianggap sebagai sarana lindung nilai terhadap inflasi, lingkungan suku bunga tinggi mengurangi daya tariknya karena meningkatkan minat terhadap aset-aset yang memberikan imbal hasil berupa bunga.

"Meningkatnya defisit fiskal, beban utang yang lebih tinggi, pelemahan dolar AS di masa mendatang, serta perkiraan kami bahwa The Fed akan kembali melonggarkan kebijakan tahun depan seharusnya dapat mendukung harga emas, terlepas dari volatilitas jangka pendek," demikian pernyataan UBS dalam sebuah catatan.

Bank of England mempertahankan suku bunga tidak berubah pada Kamis, sementara Bank of Japan diperkirakan menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam 31 tahun pada Jumat serta mengisyaratkan kesiapannya untuk terus meningkatkan biaya pinjaman.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya