Liputan6.com, Jakarta - Harga emas batangan yang dijual PT Aneka Tambang Tbk (Antam) melonjak pada perdagangan Jumat (18/9/2026). Harga emas Antam hari ini lebih mahal Rp 25.000 dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Mengutip laman logammulia.com, harga emas hari ini ditetapkan Rp 2.623.000 per gram, naik dari posisi sebelumnya di posisi Rp 2.598.000 per gram.
Advertisement
Kenaikan juga dialami harga buyback (beli kembali) emas Antam. Harga buyback emas Antam hari ini melompat Rp 20.000 menjadi Rp 2.458.000 per gram.
Sebagai informasi, harga buyback merupakan nominal yang diterima pemilik emas ketika menjual kembali emas batangannya ke Antam. Sementara itu, harga yang tercantum pada awal perdagangan merupakan harga jual emas Antam kepada konsumen.
Sebagai catatan, harga emas Antam pernah mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah (all-time high) pada Kamis (29/1/2026) di level Rp 3.168.000 per gram, dengan harga buyback mencapai Rp 2.989.000 per gram.
Harga emas Antam bersifat fluktuatif dan dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti pergerakan harga emas dunia serta kondisi pasar.
Rincian Harga Emas Antam Jumat (18/9/2026):
- 0,5 gram: Rp 1.361.500
- 1 gram: Rp 2.623.000
- 2 gram: Rp 5.196.000
- 3 gram: Rp 7.776.000
- 5 gram: Rp 12.930.000
- 10 gram: Rp 25.780.000
- 25 gram: Rp 64.285.000
- 50 gram: Rp 128.405.000
- 100 gram: Rp 256.660.000
- 250 gram: Rp 641.340.000 (pre order)
- 500 gram: Rp 1.282.400.000 (pre order)
- 1.000 gram: Rp 2.563.600.000 (pre order)
Mengingat harga emas yang dinamis, investor dan masyarakat yang hendak bertransaksi disarankan untuk selalu memeriksa pembaruan harga terbaru secara berkala.
Harga Emas Dunia
Sebelumnya, harga emas dunia menguat lebih dari 2% pada perdagangan Kamis, 17 September 2026 (Jumat pagi Jakarta) kembali bangkit, dari level terendah dalam hampir enam minggu pada sebelumnya. Pergerakan harga emas ini didukung oleh penurunan harga minyak dan pelemahan dolar Amerika Serikat (AS), sementara investor mencermati kenaikan suku bunga terbaruk the Federal Reserve (the Fed) serta sinyal kebijakannya.
Mengutip CNBC, Jumat, (18/9/2026), harga emas spot naik 2,4% menjadi US$ 4.364,29 per ons. Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember menguat 0,4% menjadi US$ 4.404,80.
“Kami melihat ada korelasi terbalik yang sangat erat dengan harga energi akibat tekanan inflasi tersebut. Harga energi turun cukup tajam hari ini. Jadi, penurunan harga energi inilah yang mengurangi sebagian tekanan pada pasar emas” ujar Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures, David Meger.
Harga minyak melanjutkan penurunannya selama dua hari berturut-turut hingga mencapai level terendah dalam satu minggu seiring meredanya kekhawatiran akan gangguan pasokan, sementara dolar AS melemah dari level tertinggi tujuh minggu, sehingga membuat emas yang dihargai dalam mata uang AS menjadi lebih terjangkau bagi pemegang mata uang lain.
Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) tenor 10 tahun yang menjadi acuan juga turun. Imbal hasil tinggi pada obligasi AS yang bebas risiko cenderung mengurangi daya tarik logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil (bunga) tersebut.
The Federal Reserve (the Fed) menaikkan suku bunga pada Rabu dan mengisyaratkan kenaikan lebih lanjut dalam beberapa bulan mendatang; Ketua Kevin Warsh turut serta dalam keputusan bulat yang secara efektif mengakui ketidakmampuan pemerintahan Trump sejauh ini dalam mengendalikan inflasi—kondisi yang dikhawatirkan para pembuat kebijakan akan memburuk.
Meningkatnya Defisit Fiskal hingga Potensi Dolar AS Melemah
Para pedagang kini memperkirakan adanya peluang sebesar 51% untuk kenaikan suku bunga AS berikutnya saat para pejabat bank sentral bertemu lagi pada Oktober, naik dari hampir 44% sehari sebelumnya, menurut data alat CME FedWatch.
Meskipun emas dianggap sebagai sarana lindung nilai terhadap inflasi, lingkungan suku bunga tinggi mengurangi daya tariknya karena meningkatkan minat terhadap aset-aset yang memberikan imbal hasil berupa bunga.
"Meningkatnya defisit fiskal, beban utang yang lebih tinggi, pelemahan dolar AS di masa mendatang, serta perkiraan kami bahwa The Fed akan kembali melonggarkan kebijakan tahun depan seharusnya dapat mendukung harga emas, terlepas dari volatilitas jangka pendek," demikian pernyataan UBS dalam sebuah catatan.
Bank of England mempertahankan suku bunga tidak berubah pada Kamis, sementara Bank of Japan diperkirakan menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam 31 tahun pada Jumat serta mengisyaratkan kesiapannya untuk terus meningkatkan biaya pinjaman.