BI Jajaki Kerja Sama QRIS dengan 4 Negara Baru

QRIS Cross Border telah terhubung dengan 6 negara. BI kini membidik Arab Saudi, India, Vietnam, hingga Australia.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 16 September 2026, 15:30 WIB
Deputi Gubernur Bank Indonesia Doni Primanto Joewono mengungkapkan bahwa perhitungan batasan Rp 100.000 ini sudah dihitung dengan data yang dikumpulkan BI. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) terus memperluas penggunaan QRIS Cross Border ke berbagai negara. Setelah terhubung dengan enam negara, BI kini menjajaki kerja sama dengan Arab Saudi, India, Vietnam, hingga Australia.

Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran (DKSP) BI Fitria Irmi Triswati mengatakan penjajakan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas konektivitas pembayaran regional.

“Kita sedang menjajaki dengan teman-teman di India, dengan teman-teman di Saudi Arabia, dengan teman-teman di Vietnam, kemudian juga Australia kita juga rapat bareng, kita jajaki (potensi kerja sama). Jadi regional payment connectivity itu semakin luas. Nanti tidak hanya dengan QRIS, tapi juga dengan BI-FAST-nya di Indonesia,” kata Fitria di Jakarta, Rabu.

Menurut Fitria, perkembangan QRIS berlangsung pesat sejak pertama kali diadopsi pada 2019. Pertumbuhan tersebut semakin terdorong saat pandemi COVID-19, ketika transaksi digital menjadi salah satu solusi pembayaran bagi masyarakat.

Saat ini, QRIS telah mencatat 15 miliar transaksi dari target 17 miliar transaksi. Jumlah merchant yang menggunakan QRIS mencapai 45 juta unit usaha dari target 47 juta merchant.

Sementara itu, jumlah pengguna QRIS telah mencapai 78 juta, melampaui target yang ditetapkan sebanyak 70 juta pengguna.

Untuk transaksi lintas negara, QRIS Cross Border saat ini telah terhubung dengan Thailand, Malaysia, Singapura, Jepang, Korea Selatan, dan China.

 

Kebiasaan Masyarakat

Ilustrasi Penggunaan QRIS untuk melakukan transaksi di Kutai Kartanegara./Istimewa.

Fitria mengatakan perluasan QRIS Cross Border tidak hanya berkaitan dengan penambahan negara mitra. BI juga akan memperhatikan karakteristik dan kebiasaan masyarakat di masing-masing negara.

Menurut dia, preferensi masyarakat dalam menggunakan pembayaran berbasis QR dapat berbeda antara satu negara dan negara lainnya. Karena itu, sistem pembayaran perlu disesuaikan agar lebih mudah digunakan oleh masyarakat maupun merchant.

Sebagai contoh, masyarakat Jepang dan Korea Selatan cenderung lebih menyukai metode ketika merchant memindai kode QR yang ditampilkan pengguna.

Sementara itu, masyarakat di sejumlah negara Eropa lebih menyukai metode pembayaran dengan melakukan tap QRIS sehingga transaksi dapat dilakukan tanpa perlu memindai kode QR secara manual.

“Jadi perluasan negaranya, kemudian perluasan kualitas merchant-nya, dan juga perluasan fitur-fitur yang tadi. Jadi tidak hanya scan, tetapi juga CPM (Customer Presented Mode/QRIS Tanpa Tatap Muka (TTM)), dan juga QRIS-Tap,” ujar dia lagi.

Selain memperluas negara yang terhubung, BI juga mendorong peningkatan kualitas dan cakupan merchant yang dapat menerima transaksi QRIS.

Pengembangan fitur pembayaran turut menjadi bagian dari strategi tersebut, termasuk CPM atau QRIS Tanpa Tatap Muka (TTM) dan QRIS-Tap.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya