Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Asia cenderung stabil pada perdagangan saham Rabu (16/9/2026). Pergerakan bursa saham Asia terjadi seiring harga minyak yang tinggi dan kenaikan imbal hasil obligasi membuat investor bersikap hati-hati menjelang keputusan suku bunga the Federal Reserve (the Fed).
Mengutip swissinfo.ch dari laporan Bloomberg, Rabu pekan ini, indeks saham MSCI Asia naik 0,1%. Kontrak untuk indeks acuan wall street juga sedikit menguat pada awal sesi perdagangan. Hal ini terjadi di tengah OpenAI sedang mempertimbangkan putaran pendanaan baru dengan valuasi US$ 1,2 triliun.
Advertisement
Indeks S&P 500 dan Nasdaq merosot pada perdagangan saham Selasa pekan ini. Indeks S&P 500 susut 0,45% dan Nasdaq terpangkas 0,78%. Sedangkan indeks Dow Jones terpangkas 0,63% menjadi 52.093,11.
Sentimen pasar terbantu oleh penurunan harga minyak mentah AS sebesar 0,6% menjadi US$ 105,15 per barel setelah sempat melonjak lebih dari 20% bulan ini.
Lonjakan harga energi dan meningkatnya spekulasi mengenai kenaikan suku bunga The Federal Reserve (the Fed) telah memicu aksi jual obligasi, mendorong imbal hasil Treasury tenor 10 tahun hingga mencapai 5,04%, level tertinggi dalam hampir dua dekade, sebelum akhirnya ditutup pada angka 5,00%.
Kontrak berjangka Treasury bergerak mendatar (konsolidasi), sementara obligasi pemerintah dibuka menguat di Australia dan Selandia Baru.
Di sisi lain, harga Bitcoin melanjutkan penurunannya dan diperdagangkan di kisaran US$ 75.600 setelah Senat AS menghalangi pengesahan rancangan undang-undang penting terkait struktur pasar kripto.
Keputusan The Fed Jadi Sorotan
Keputusan The Fed pada Rabu menjadi sorotan utama setelah data inflasi inti pekan lalu yang lebih tinggi dari perkiraan serta kekhawatiran mengenai anggaran pemerintah memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga pertama sejak 2023.
Pasar memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga lebih dari 90%, yang memunculkan prospek kondisi keuangan lebih ketat seiring tekanan biaya energi dan pinjaman yang membebani pasar saham.
"Jika The Fed mengikuti sinyal pasar berjangka dan menaikkan suku bunga, kami memperkirakan saham kemungkinan akan mengalami tekanan turun dalam jangka pendek," ujar Chris Senyek dari Wolfe Research.
"Namun, kami menemukan bahwa dalam jangka waktu lebih panjang, enam hingga 12 bulan setelah kenaikan suku bunga pertama, saham biasanya pulih dan kembali ke zona positif,” ia menambahkan.
Tiga bank sentral utama mengadakan pertemuan pekan ini, setelah The Fed, giliran Inggris dan Jepang yang akan mengumumkan keputusan kebijakan mereka, yang berpotensi mengubah prospek kebijakan moneter untuk sisa 2026.
Keputusan untuk mempertahankan suku bunga atau menaikkannya tanpa panduan yang jelas mengenai langkah selanjutnya dapat mendorong investor menuntut imbal hasil jangka panjang yang lebih tinggi sebagai perlindungan terhadap inflasi, sementara imbal hasil obligasi tenor pendek cenderung bergerak lebih mengikuti arah kebijakan The Fed.
Para pejabat mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5%–3,75% sejak Desember, karena sebagian besar pengambil kebijakan berpendapat bahwa kemajuan dalam menurunkan inflasi terhambat oleh faktor-faktor sementara.
Harga Minyak
Di sisi lain, harga minyak Brent turun pada perdagangan awal hari Rabu setelah ditutup hampir 3% lebih tinggi pada Selasa. Penurunan ini terjadi karena gangguan pada jalur pipa utama Arab Saudi dan ladang minyak Libya menambah risiko pasokan di pasar yang sebelumnya sudah terdampak oleh gangguan akibat konflik yang melibatkan Iran.
Para pelaku pasar memantau tanda-tanda mengenai berapa lama jalur pipa Timur-Barat (East-West) milik Arab Saudi akan tetap ditutup setelah serangan pesawat nirawak (drone) menghentikan operasinya pekan lalu. Menurut sumber yang mengetahui masalah ini, Saudi Aramco menunda pasokan minyak ke sejumlah pelanggan di Eropa bulan ini.
"Kombinasi antara suku bunga yang lebih tinggi dan harga minyak yang melonjak ibarat meminta pasar saham berlari maraton dengan beban pemberat yang terpasang di pergelangan kaki," ujar Darrell Cronk dari Wells Fargo Investment Institute.
"Suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan tingkat diskonto yang digunakan investor untuk menilai pendapatan masa depan, sementara biaya energi yang lebih tinggi menggerus daya beli konsumen dan menekan margin keuntungan,” ia menambahkan.