Liputan6.com, Jakarta - Industri film semakin berkembang bersamaan dengan teknologi yang tumbuh pesat. Kini AI Content Fest 2026 hadir oleh CapCut sebagai kompetisi dan festival film berbasis kecerdasan buatan (AI) tingkat nasional.
Dalam puncaknya yang dihelat pada Jumat lalu (11/9/2026) di CGV Grand Indonesia, Jakarta, 10 film pendek terbaik telah dipilih untuk ditayangkan di layar lebar dan memperebutkan penghargaan.
Advertisement
Angga Dwimas Sasongko selaku juri dari kompetisi tersebut yang juga merupakan seorang sutradara mengungkapkan dengan perkembangan AI yang mulai memasuki industri perfilman memberikan kesempatan kepada para kreator untuk menemukan wadahnya.
“Perkembangan AI filmmaking memberikan akses kepada kreator-kreator baru yang sebelumnya mungkin terkendala karena proses kreasi membutuhkan waktu, akses, dan sumber daya yang besar,” ungkapnya.
Pria berusia 41 tahun itu juga mengatakan pandangannya mengenai talenta baru yang tidak hanya menjadi alat produksi, namun juga membawa cerita baru. Menurutnya, semua orang dapat mengutarakan suaranya sendiri berkat teknologi yang semakin canggih.
“Talenta-talenta baru ini bukan sekadar menjadi alat produksi untuk membuat karya, tetapi juga membawa perspektif dan cerita-cerita baru yang mungkin selama ini tidak muncul. Dengan teknologi yang semakin canggih, semua orang bisa memiliki suaranya sendiri,” ujarnya.
Semua Orang Punya Kesempatan Bercerita
Angga juga berpendapat bahwa semua orang merupakan seorang storyteller yang memiliki cerita, keinginan untuk bercerita, serta kesempatan untuk menceritakannya.
“Saya percaya semua orang pada dasarnya adalah storyteller. Siapa pun yang memiliki keinginan untuk bercerita dan punya cerita yang bisa membuat penontonnya peduli, kini memiliki kesempatan untuk menceritakannya,” katanya.
Ia juga mengatakan prosesnya akan lebih mudah dengan adanya fitur-fitur CapCut AI tersebut. “Dengan CapCut AI, kesempatan untuk menjadi storyteller dan bercerita akhirnya menjadi lebih demokratis. Siapa pun, dari mana pun, kalau memiliki cerita, dia bisa menceritakannya,” tambahnya.
Pengalaman Membentuk Ciri Khas Storyteller
Selain itu, menurut Angga, cerita tersebut pun dapat diambil dari setiap hal-hal kecil hingga besar yang membangun hidup kita.
“Hal-hal yang membangun hidup kita, seperti pengalaman, latar belakang, bahkan trauma dan keluhan orang tua, bisa membuat setiap storyteller memiliki ciri khasnya masing-masing,” tuturnya.
Cerita Harus Membuat Penonton Peduli
Ia pun mengutarakan bahwa validasi dari semua orang atau penonton adalah hal yang tidak begitu penting. Namun, bagaimana cerita tersebut menarik perhatian para audiens.
“Kita tidak harus membuat semua orang setuju atau suka. Yang terpenting adalah bagaimana kita berusaha membuat mereka peduli terhadap apa yang ingin kita ceritakan,” ujarnya.
Menurutnya, dengan mengetahui apa yang ingin kita ceritakan dan yakin dengan pentingnya cerita tersebut, hal itu akan membuat orang peduli dan menjadikannya sebuah pengalaman.
“Ketika kita tahu apa yang ingin kita ceritakan dan yakin bahwa cerita kita penting, kita bisa membuat penonton peduli. Mudah-mudahan mereka kemudian memiliki aftertaste dan memori terhadap apa yang kita ceritakan sehingga bisa membawanya sebagai sebuah pengalaman,” jelasnya.