Liputan6.com, Jakarta - Harga perak PT Aneka Tambang Tbk (Antam) merosot pada perdagangan Senin, (14/9/2026). Harga perak Antam hari ini turun mengikuti harga emas Antam dan harga perak dunia.
Mengutip laman logam mulia.com, harga perak Antam hari ini turun Rp 200 menjadi Rp 42.060. Pada perdagangan sebelumnya, harga perak Antam ditetapkan Rp 42.260.
Advertisement
Antam menawarkan perak batangan 250 gram, 500 gram dan perak butiran murni 99,95%. Antam menawarkan harga perak batangan 250 gram dipatok Rp 11.040.000 dan harga perak batangan 500 gram dibanderol Rp 21.155.000.
Lalu bagaimana harga perak dunia?
Mengutip tradingeconomics.com, harga perak dunia turun 0,59% menjadi US$ 63,87.
Harga perak bergerak tertahan di kisaran US$ 64 per ons pada Senin setelah mengalami penurunan selama tiga minggu berturut-turut, tertekan oleh lonjakan harga minyak dan ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat dari Federal Reserve (the Fed).
Harga minyak melonjak mendekati level tertinggi dalam empat bulan pada Senin setelah Arab Saudi menutup jalur pipa utama yang digunakan untuk menghindari Selat Hormuz menyusul serangan pesawat nirawak (drone). Krisis berkepanjangan di Timur Tengah telah memicu lonjakan inflasi pada ekonomi global, yang memperkuat pandangan hawkish terkait suku bunga. Pasar saat ini memperhitungkan peluang sekitar 86% The Fed akan menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin pada Rabu.
Data Jumat menunjukkan inflasi konsumen AS stabil di angka 3,4% pada Agustus, sama dengan Juli dan sesuai perkiraan, sementara Indeks Harga Konsumen (CPI) bulanan naik 0,4%, kenaikan terbesar dalam tiga bulan terakhir. Harga produsen AS juga meningkat lebih cepat pada Agustus seiring naiknya biaya energi grosir akibat konflik terkait Iran, sementara data pasar tenaga kerja menunjukkan ketahanan lapangan kerja yang terus berlanjut.
Kinerja Harga Emas Pekan Lalu
Sebelumnya, harga emas menguat lebih dari 1% pada Jumat, 11 September 2026 (Sabtu pagi Jakarta). Harga emas dunia bangkit kembali dari penurunan baru-baru ini dan menemukan titik dasar jangka pendek, meskipun data inflasi Amerika Serikat (AS) yang kuat memperkuat harapan kenaikan suku bunga oleh the Federal Reserve (the Fed) pekan depan.
Mengutip CNBC, Sabtu (12/9/2026), harga emas spot naik 1,1% menjadi US$ 4.363,01 per ons. Namun, logam mulia ini mencatat penurunan sekitar 1,5% sepanjang pekan.
"Emas pulih dengan cepat setelah sempat turun sesaat, karena data CPI tampaknya memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pekan depan. Volatilitas cenderung mereda karena pasar sudah memperhitungkan kemungkinan kenaikan sebesar 70%," ujar seorang pedagang logam independen, Tai Wong.
"Pergerakan harga saat ini mengindikasikan bahwa emas sedang menemukan titik dasar jangka pendek setelah penurunan baru-baru ini,” ia menambahkan.
Harga emas berjangka AS ditutup hampir tidak berubah di level US$ 4.408,90 per ons.
Harga sempat turun hampir 2% pada Kamis setelah data Indeks Harga Produsen (PPI) AS menunjukkan kenaikan harga yang sesuai dengan ekspektasi pada Agustus.
Indeks Harga Konsumen (CPI) naik 0,4% bulan lalu setelah sebelumnya naik tipis 0,1% pada Juli, menurut data Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS) yang dirilis pada Jumat.
Sentimen Harga Emas Lainnya
Harga minyak turun, tetapi tetap berada di jalur untuk mencatat kenaikan mingguan. Harga minyak yang lebih tinggi memicu kekhawatiran inflasi, sehingga memperkuat spekulasi kenaikan suku bunga. Meskipun emas biasanya dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi, suku bunga yang lebih tinggi mengurangi daya tarik logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil (bunga).
Para pedagang memperhitungkan peluang sebesar 87% untuk kenaikan suku bunga pada pertemuan kebijakan The Fed pekan depan, naik dari 67% sebelum data inflasi dirilis, menurut data CME FedWatch Tool.
Permintaan emas di India cenderung lesu pekan ini karena fluktuasi harga membuat pembeli menahan diri, sementara permintaan investasi tetap kuat di China, negara konsumen emas terbesar.