Harga Minyak Dunia Tembus US$ 100, Bahlil Pastikan BBM Subsidi Tidak Naik

Bahlil Lahadalia memastikan harga BBM subsidi tidak naik meski harga minyak dunia melampaui US$ 100 per barel akibat memanasnya konflik AS-Iran.

oleh Arief Rahman HDiterbitkan 11 September 2026, 14:45 WIB
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (11/9/2026). (Liputan6.com/Arief)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi tidak akan naik meski harga minyak dunia terus melambung. Pemerintah memutuskan untuk menambah alokasi subsidi demi menjaga daya beli masyarakat.

Merespons harga minyak jenis Brent yang melonjak ke level US$ 107,63 per barel, Bahlil menegaskan pihaknya terus berkonsultasi dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengenai beban anggaran belanja negara.

"Saya selalu berkonsultasi terus dengan Menteri Keuangan atas arahan Bapak Presiden Prabowo. Kami selalu mengikuti secara saksama berbagai dinamika perkembangan global, khususnya yang menyangkut harga minyak dunia yang tidak menentu," ujar Bahlil saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (11/9/2026).

Ia memastikan pemerintah berkomitmen menahan tarif BBM bersubsidi pada tingkat harga saat ini. Tarif Biosolar subsidi dipastikan tetap sebesar Rp 6.800 per liter, sedangkan Pertalite ditahan pada angka Rp 10.000 per liter. Bahlil mengakui keputusan ini berdampak langsung pada membengkaknya alokasi belanja subsidi energi.

"Pemerintah sampai dengan hari ini memutuskan untuk tetap menjaga harga minyak subsidi tidak naik. Memang ini sesuatu yang tidak ringan, ini sesuatu yang berat karena pasti penambahan subsidinya bertambah," tutur Bahlil.

Meski begitu, Presiden Prabowo Subianto memilih opsi penambahan alokasi anggaran subsidi ketimbang membiarkan masyarakat terbebani akibat lonjakan harga BBM.

"Bapak Presiden Prabowo berpandangan bahwa membela dan menjaga daya beli masyarakat menengah ke bawah itu jauh lebih penting. Menambah anggaran subsidi saya pikir itu bagian dari langkah yang kita lakukan," tegasnya.

 

Rata-Rata ICP Masih Aman

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (11/9/2026). (Liputan6.com/Arief)

Bahlil menerangkan, rata-rata harga acuan minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) masih berada dalam rentang aman—di bawah US$ 100 per barel—pada periode Januari hingga September 2026, meski terjadi lonjakan signifikan pada bulan-bulan tertentu.

Per Jumat (11/9/2026), kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) tercatat naik 6,7 persen dan ditutup pada level US$ 102,48 per barel. Angka ini merupakan posisi penutupan tertinggi sejak 19 Mei. Sementara itu, harga minyak Brent mendaki 6,3 persen ke posisi US$ 107,63 per barel.

"Sekarang rata-rata ICP, sekalipun saat ini sudah menjadi US$ 106 sampai US$ 108 per barel, tetapi rata-rata ICP dari Januari sampai September kurang lebih di angka US$ 85 sampai US$ 90. Jadi secara keseluruhan masih aman," ucap Bahlil.

 

Imbas Panasnya Konflik AS-Iran

Seperti diketahui, lonjakan harga minyak tidak lepas dari kekhawatiran terhadap gangguan jalur distribusi energi, khususnya di Selat Hormuz. Tampak dalam foto, seorang pekerja mengumpulkan oli mesin saat bekerja di stasiun degassing di ladang minyak Zubair, yang operasinya telah dikurangi karena perang Timur Tengah yang dipicu oleh serangan AS dan Israel terhadap Iran, dekat Basra, Irak, Sabtu, 28 Maret 2026. (AP Photo/Leo Correa)

Sebelumnya, harga minyak dunia melesat melampaui US$ 100 per barel pada perdagangan Kamis, 10 September 2026 (Jumat pagi WIB). Harga komoditas ini menyentuh level tertinggi dalam lebih dari tiga bulan terakhir seiring eskalasi militer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Mengutip laporan CNBC, harga minyak telah melesat lebih dari 18 persen sepanjang September 2026 karena pelaku pasar mengantisipasi risiko perang berkepanjangan di Timur Tengah.

Para penasihat utama Gedung Putih dilaporkan telah berdiskusi dengan Presiden AS Donald Trump mengenai potensi konflik dengan Iran yang diprediksi berlarut-larut hingga melampaui Hari Pelantikan pada Januari 2029.

Laporan tersebut bertentangan dengan pernyataan Trump sebelumnya yang menyebut perang akan berakhir segera setelah pemilihan umum paruh waktu (midterm elections). Kendati Trump mengklaim harga bahan bakar di SPBU akan melandai pascapemilu, kenyataan di lapangan menunjukkan harga BBM di AS sempat mencetak rekor tertinggi pada libur Hari Buruh (Labor Day), dengan harga solar diproyeksikan menembus US$ 6 per galon.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya