Alasan Satelit Lampung-1 Belum Bisa Pantau Anak Krakatau

Satelit Lampung-1 diluncurkan pada bulan Agustus di China.

oleh Ardi MuntheDiterbitkan 10 September 2026, 15:57 WIB
Peluncuran Satelit Lampung-1. (Pemprov Lampung)

Liputan6.com, Jakarta - Satelit Lampung-1 yang sebelumnya digadang-gadang menjadi 'mata dari langit' untuk membantu pembangunan hingga mitigasi bencana di Provinsi Lampung, ternyata belum dapat digunakan. Termasuk untuk memantau kondisi terkini aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK).

Kondisi tersebut diungkapkan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal saat ditemui wartawan di Pusdalops BPBD Provinsi Lampung, Rabu (9/9/2026).

Mirza menjelaskan, Satelit Lampung-1 masih menjalani tahapan commissioning atau pengujian sistem setelah diluncurkan dari China pada 5 Agustus 2026.

"Yang namanya satelit meluncur itu tidak langsung dia digunakan. Dia ada commissioning dulu selama dua bulan," kata Mirza.

Commissioning merupakan tahapan pengujian dan verifikasi untuk memastikan satelit beserta seluruh sistem pendukungnya bekerja sesuai spesifikasi sebelum dapat digunakan secara penuh.

 

Gunung Anak Krakatau

Belum Bisa Dimanfaatkan Saat Bencana

Artinya, di tengah sejumlah persoalan kebencanaan yang sedang dihadapi Lampung, termasuk aktivitas Gunung Anak Krakatau, Satelit Lampung-1 belum dapat difungsikan sebagai instrumen pemantauan langsung.

"Insya Allah nanti kita pakai. Dia ada waktu commissioning, kita kan baru dua minggu, baru dua minggu," ujar Mirza.

Saat kembali ditanya apakah Satelit Lampung-1 belum dapat digunakan untuk membantu pemerintah memantau kondisi bencana, Mirza membenarkannya.

"Iya, iya. Dia kan butuh waktu commissioning, Pak," ujarnya.

Pernyataan tersebut menjadi perhatian karena sejak awal Lampung-1 diperkenalkan sebagai bagian dari lompatan teknologi Pemerintah Provinsi Lampung dalam membangun sistem pembangunan berbasis data.

Satelit tersebut sebelumnya disebut dapat membantu pemantauan pertanian, lingkungan, tata ruang, kelautan hingga mitigasi bencana.

Namun, manfaat teknologi tersebut belum dapat dirasakan ketika Lampung justru tengah membutuhkan data cepat dan akurat untuk menghadapi berbagai ancaman kebencanaan.

Peluncuran Satelit Lampung-1. (Pemprov Lampung)

Diluncurkan di China

Satelit Lampung-1 diluncurkan pada 5 Agustus 2026 dari perairan Haiyang, Provinsi Shandong, China, menggunakan roket Smart Dragon-3 dalam misi OSE Hyperspectral Twin Satellites.

Rahmat Mirzani Djausal bahkan hadir langsung menyaksikan peluncuran satelit tersebut.

Lampung-1 mengandalkan teknologi pencitraan hiperspektral yang dipadukan dengan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Teknologi itu dirancang untuk menghasilkan data mengenai kondisi wilayah secara lebih detail yang nantinya dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan pemerintah.

Pemprov Lampung sebelumnya menyebut data dari teknologi tersebut dapat digunakan untuk mendukung pertanian presisi, pemantauan pesisir dan kelautan, lingkungan, tata ruang hingga deteksi dini bencana seperti banjir, longsor dan kebakaran hutan.

Bukan Aset Pemprov Lampung

Meski menggunakan nama Lampung-1, satelit tersebut bukan merupakan aset milik Pemerintah Provinsi Lampung.

Pemprov Lampung sebelumnya menjelaskan pembangunan hingga peluncuran satelit tidak menggunakan anggaran APBD.

Kepemilikan, pengoperasian dan tanggung jawab teknis berada di bawah STAR.VISION Aerospace. Sementara Pemerintah Provinsi Lampung menjalin kerja sama dalam pemanfaatan teknologi dan data yang dihasilkan.

Dengan kondisi tersebut, publik masih harus menunggu hingga masa commissioning selesai sebelum manfaat Satelit Lampung-1, benar-benar dapat digunakan.

Untuk sementara, pemantauan kondisi bencana masih mengandalkan instrumen yang telah tersedia serta kerja lapangan bersama lintas lembaga.

Mirza memastikan Satelit Lampung-1 akan dimanfaatkan setelah seluruh tahapan teknis yang dipersyaratkan selesai.

"Insya Allah nanti kita pakai," kata Mirza.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya