Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia menguat lebih dari 1% pada perdagangan Rabu, didukung pelemahan dolar AS. Investor kini menanti sejumlah data inflasi penting Amerika Serikat (AS) yang dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).
Mengutip CNBC, Kamis (10/9/2026), harga emas di pasar spot naik 1,5% menjadi US$ 4.418,71 per ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember menguat 0,6% ke level US$ 4.464,30 per ons.
Advertisement
Direktur perdagangan logam High Ridge Futures, David Meger, mengatakan bahwa kondisi pasar belakangan cukup mendukung pergerakan harga emas. Salah satunya karena dolar AS berada di bawah tekanan.
"Dalam beberapa waktu terakhir, ada sedikit skenario yang mendukung pasar emas karena dolar berada di bawah tekanan," kata Meger.
Indeks dolar AS berada di dekat level terendah dalam dua pekan. Kondisi tersebut membuat emas yang dihargai dalam dolar AS menjadi lebih murah bagi investor yang menggunakan mata uang lain.
Pergerakan pasar juga dipengaruhi lonjakan harga minyak yang menembus US$ 100 per barel di tengah konflik yang semakin meluas di Timur Tengah.
Menanti Data Inflasi
Kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan tekanan inflasi. Kondisi ini juga dapat memengaruhi imbal hasil obligasi karena pasar memperkirakan kebijakan moneter akan lebih diarahkan untuk mengendalikan inflasi.
"Pada kali ini, harga yang lebih tinggi (minyak) memberikan dorongan inflasi, tetapi penyebabnya, yaitu gangguan pada angkutan dan rantai pasokan, menyebabkan kenaikan imbal hasil obligasi karena secara keseluruhan kebijakan moneter lebih berfokus pada pengendalian inflasi dibandingkan sebelumnya," kata Kepala Analisis Pasar StoneX, Rhona O’Connell.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun sempat naik ke level tertinggi sejak November 2023 sebelum kembali turun.
Selanjutnya, perhatian investor tertuju pada data Producer Price Index (PPI) AS yang akan dirilis Kamis dan data inflasi konsumen pada Jumat. Kedua laporan tersebut dinantikan untuk melihat apakah The Fed akan menaikkan suku bunga guna meredam tekanan harga.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar memperkirakan sekitar 60% peluang kenaikan suku bunga dalam pertemuan kebijakan The Fed pekan depan.