Cerita Warga Sebesi Tak Goyah Dihujani Abu Anak Krakatau

Warga Pulau Sebesi memilih beraktivitas normal sambil membersihkan rumah mereka dari abu.

oleh Ardi MuntheDiterbitkan 07 September 2026, 14:12 WIB
Foto Erupsi Gunung Anak Krakatau saat menyemburkan lava pijar dan abu vulkanik. (Dok Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Dentuman Gunung Anak Krakatau terdengar berulang kali hingga membuat warga Pulau Sebesi, Kabupaten Lampung Selatan, waspada. Suara gemuruh yang muncul sejak Sabtu (5/9/2026) malam bahkan disebut warga menyerupai suara petir menjelang hujan.

Pulau Sebesi merupakan salah satu pulau berpenghuni yang berada paling dekat dengan gugusan Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Pulau itu secara administratif masuk dalam wilayah Desa Tejang, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan.

Di tengah aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau dan dampak hujan abu, warga Pulau Sebesi memilih tetap bertahan. Tidak ada warga yang mengungsi maupun meninggalkan pulau karena kepanikan.

Pemerintah Desa Tejang, Riko Iswanto mengatakan, sekitar 2.700 hingga hampir 3.000 warga yang tersebar di empat dusun di Pulau Sebesi masih menjalani aktivitas seperti biasa.

"Alhamdulillah masyarakat kami dari semenjak erupsi sampai sekarang masih bertahan di Sebesi. Tidak ada yang mengungsi," kata Riko dikonfirmasi Liputan6.com, Senin (7/9/2026).

Meski demikian, warga tetap diminta meningkatkan kewaspadaan. Abu vulkanik sempat cukup tebal menyelimuti Pulau Sebesi, terutama pada Sabtu malam hingga Minggu pagi.

Warga Memilih Tetap Bersih-Bersih Rumah

Foto Erupsi Gunung Anak Krakatau saat menyemburkan lava pijar dan abu vulkanik. (Dok Istimewa)

Menurut Riko, kondisi terparah dirasakan warga pada Sabtu malam atau malam Minggu. Saat itu, arah angin membawa abu vulkanik Gunung Anak Krakatau ke wilayah Pulau Sebesi dan sejumlah desa di Kecamatan Rajabasa.

Abu bahkan masuk ke rumah-rumah warga dan mengotori sejumlah fasilitas umum. Sejak pagi, warga harus kembali membersihkan rumah dan lingkungan dari material abu vulkanik.

"Yang paling parah itu malam Minggu. Abu langsung ke rumah warga dan memang mengotori semuanya. Sampai pagi warga pada bersih-bersih," tuturnya.

Riko mengatakan, aktivitas erupsi dan sebaran abu kini mulai berkurang dibandingkan beberapa hari sebelumnya. Namun, dampak debu masih dirasakan sebagian warga saat beraktivitas di luar rumah.

"Mungkin karena erupsinya sudah mulai tidak seperti kemarin atau arah anginnya saat ini belum ke arah Sebesi. Alhamdulillah, hari ini debunya sudah mulai tidak seberapa," katanya.

 

Dentuman Seperti Suara Petir

Selain hujan abu, warga Pulau Sebesi juga mendengar dentuman dari aktivitas Gunung Anak Krakatau. Suara tersebut paling terasa pada malam hari dan sempat terdengar berulang kali dari Sabtu malam hingga Minggu.

Riko menggambarkan suara dentuman tersebut seperti suara gemuruh atau petir menjelang hujan.

"Memang terus-terusan. Kayak mau hujan, suara gledeg-gledeg, suara gemuruh," ungkapnya.

Dentuman tersebut terutama terdengar oleh warga yang sedang menjalankan ronda malam dan berada di sejumlah titik di Pulau Sebesi.

Meski dentuman cukup jelas terdengar, Riko memastikan hingga kini warga tidak merasakan adanya getaran akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau.

"Kalau getaran alhamdulillah tidak merasakan. Mudah-mudahan jangan sampai, karena kalau getaran dirasakan tentu bisa menambah kepanikan warga. Cuma dentuman memang terdengar," katanya.

Aktivitas Nelayan dan Petani Tetap Normal

Di tengah hujan abu dan dentuman Gunung Anak Krakatau, kehidupan warga Pulau Sebesi masih berjalan normal. Nelayan tetap melaut dan memancing, sementara warga lainnya tetap bekerja di kebun.

Riko mengatakan, masyarakat sudah terbiasa hidup berdampingan dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Meski tidak panik, warga tetap mengikuti informasi resmi dari pemerintah.

"Untuk aktivitas bekerja tidak mengurangi. Masyarakat normal, ada yang ke kebun, mancing juga biasa saja. Mereka tidak panik, tapi tetap waspada dan mengikuti informasi dari pemerintah," ujarnya.

Namun, kegiatan belajar mengajar di Pulau Sebesi untuk sementara mengikuti kebijakan pemerintah dengan sistem pembelajaran daring dari rumah.

 

Warga Pulau Sebesi Minta Kacamata Pelindung

Bantuan yang sejauh ini diterima warga Pulau Sebesi berupa masker. Namun, warga juga berharap pemerintah dapat menyediakan kacamata pelindung transparan untuk melindungi mata dari paparan abu vulkanik.

Menurut Riko, kebutuhan akan kacamata menjadi salah satu permintaan yang paling banyak disampaikan masyarakat.

"Kalau masker masih bisa terjangkau, tapi masyarakat banyak yang meminta kacamata. Hampir semua masyarakat yang saya temukan minta kacamata transparan untuk melindungi mata dari debu," pintanya.

Ia mengakui, abu vulkanik yang tersisa masih cukup mengganggu kenyamanan warga saat berada di luar rumah. Kondisi tersebut juga diperparah dengan musim kemarau yang membuat debu semakin mudah beterbangan.

"Kalau keluar rumah memang sebenarnya harus pakai kacamata. Kemarin lebih parah, sekarang sudah mulai berkurang, tapi dampaknya masih dirasakan. Sebagian masyarakat masih pakai kacamata kalau bepergian," katanya.

 

Belum Ada Laporan Warga Sakit

Di tengah dampak hujan abu vulkanik, hingga kini belum ada laporan warga Pulau Sebesi yang mengalami gangguan kesehatan seperti batuk atau sesak napas akibat paparan abu.

"Kalau dampak kesehatan, alhamdulillah sepengetahuan saya belum ada. Belum ada laporan warga batuk-batuk, sakit atau gangguan kesehatan akibat abu Krakatau," ujar Riko.

Ia berharap kondisi Gunung Anak Krakatau segera membaik dan masyarakat tetap tenang dengan mengandalkan informasi resmi dari pemerintah.

Riko juga meminta warga tidak mudah percaya dengan video atau informasi di media sosial yang belum diketahui kebenarannya. Menurut dia, sejumlah video lama terkait erupsi Krakatau kembali beredar dan berpotensi memicu kepanikan.

"Kami berharap masyarakat tidak mudah terprovokasi atau percaya dengan video-video yang belum jelas kebenarannya. Kami ini wilayah yang paling dekat, jadi informasi seperti itu mudah membuat masyarakat panik," katanya.

Selain meminta masyarakat tetap tenang dan waspada, warga Pulau Sebesi berharap pemerintah segera memenuhi kebutuhan perlindungan, terutama kacamata untuk menghadapi paparan abu vulkanik.

"Mudah-mudahan segera membaik dan kami semua dalam lindungan Allah SWT. Harapan masyarakat juga pemerintah bisa tanggap, terutama kebutuhan kacamata untuk warga," tandasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya