Likuiditas dan Modal Tetap Kuat, BRI Siap Lanjutkan Pertumbuhan Bisnis secara Sehat

Likuiditas dan permodalan BRI tetap kuat pada Triwulan II 2026, menjadi fondasi untuk mendorong intermediasi dan pertumbuhan ekonomi nasional.

oleh Wuri AnggariniDiterbitkan 07 September 2026, 10:18 WIB
Ilustrasi Gedung BRI. Foto: BRI

Liputan6.com, Jakarta - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI membukukan kinerja positif hingga Triwulan II 2026. Pencapaian ini ditopang oleh likuiditas yang memadai, struktur pendanaan yang semakin berkualitas, serta tingkat permodalan yang kokoh.

Fundamental tersebut menjadi pijakan bagi BRI untuk melanjutkan pertumbuhan bisnis secara sehat. Pada saat yang sama, perseroan dapat terus menjalankan fungsi intermediasi dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Direktur Finance & Strategy BRI Achmad Royadi menyampaikan, kondisi likuiditas BRI tetap berada pada level yang memadai. Hal tersebut diungkapkan dalam Press Conference Kinerja Keuangan BRI Triwulan II 2026 di Kantor Pusat BRI, Jakarta.

Rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) konsolidasi entitas bank tercatat sebesar 90,8 persen. Angka tersebut masih berada pada level ideal bagi BRI dalam menjalankan fungsi intermediasi.

Dari sisi permodalan, Capital Adequacy Ratio (CAR) BRI pada Triwulan II 2026 mencapai 21,5 persen. Posisi ini memberikan fondasi yang kuat bagi perseroan untuk menjaga keberlanjutan pertumbuhan bisnis.

“Dengan likuiditas yang terkelola dengan baik dan permodalan yang tetap kuat, BRI memiliki fondasi yang memadai untuk melanjutkan pertumbuhan secara sehat dan berkelanjutan, dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian serta menjaga keseimbangan antara pertumbuhan, kualitas aset, likuiditas, dan profitabilitas,” ujar Achmad Royadi.

Dana Murah Meningkat, Struktur Pendanaan BRI Semakin Berkualitas

Direktur Finance & Strategy BRI Achmad Royadi. Foto: BRI

Kondisi likuiditas BRI turut ditopang oleh struktur pendanaan yang semakin berkualitas. Hingga akhir Triwulan II 2026, Dana Pihak Ketiga (DPK) BRI mencapai Rp1.581 triliun atau tumbuh 6,7% secara year-on-year (yoy). Pertumbuhan tersebut diiringi dengan peningkatan komposisi dana murah, tercermin dari rasio CASA yang meningkat dari 65,5% menjadi 67,6%.

Likuiditas yang terjaga dan struktur pendanaan yang semakin berkualitas memberikan ruang bagi BRI untuk menjalankan fungsi intermediasi secara optimal. Di sisi lain, permodalan yang kuat memberikan kapasitas bagi Perseroan untuk mendukung ekspansi bisnis dengan tetap menjaga ketahanan terhadap risiko.

Di tengah pertumbuhan tersebut, BRI tetap mengedepankan kualitas penyaluran kredit dan pengelolaan risiko secara disiplin. Hal ini tercermin dari kualitas aset yang terus membaik, dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) turun dari 3,07% pada 2025 menjadi 2,9% pada Triwulan II 2026. Tren tersebut sejalan dengan strategi pengelolaan risiko BRI melalui penerapan selective growth, penguatan early warning system pada segmen ritel, serta optimalisasi fungsi collection dan recovery.

Kinerja positif juga terlihat pada indikator risiko kredit yang terus membaik. Rasio Loan at Risk (LaR) turun dari 9,6% pada akhir 2025 menjadi 9,1% pada akhir Triwulan II 2026. Penurunan tersebut mencerminkan kualitas booking kredit baru yang semakin baik. Sejalan dengan itu, Cost of Credit (CoC) turun dari 3,4% pada akhir 2025 menjadi 3,1% pada akhir Triwulan II 2026.

Fundamental Kuat Topang Pertumbuhan Kredit dan Laba BRI

Fundamental yang terjaga tersebut turut menopang penguatan kinerja BRI sepanjang Triwulan II 2026. Total aset BRI mencapai Rp2.352 triliun atau tumbuh 11,7% secara year-on-year (yoy), terutama ditopang oleh akselerasi kredit yang tumbuh 16,2% menjadi Rp1.646 triliun. Kombinasi pertumbuhan bisnis dan perbaikan fundamental tersebut turut mendorong laba bersih BRI mencapai Rp31,2 triliun atau tumbuh 17,5% yoy.

Kekuatan fundamental tersebut memberikan ruang bagi BRI untuk terus menjalankan fungsi intermediasi, terutama pada segmen UMKM yang menjadi core business Perseroan. Fokus pada UMKM tidak hanya menjadi bagian dari upaya memperluas inklusi keuangan, tetapi juga berjalan beriringan dengan dukungan BRI terhadap berbagai agenda prioritas pemerintah.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya