Liputan6.com, Lombok - Putri Mahkota Kerajaan Swedia, Victoria, mengunjungi Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), selama dua hari. Dalam kunjungannya, Victoria yang juga Duta Persahabatan UNDP melihat langsung upaya penguatan hubungan antara manusia dan alam sekaligus mendorong peluang ekonomi dan ketangguhan masyarakat.
Selama berada di Lombok, Putri Mahkota Victoria melihat bagaimana UNDP bekerja sama dengan pemerintah, masyarakat, dan berbagai mitra untuk memperkuat konservasi, menerjemahkannya menjadi peluang ekonomi, serta membangun masyarakat yang tangguh dan sejahtera.
Advertisement
Pada Sabtu (5/9/2026), Putri Mahkota Victoria selaku Duta Kehormatan UNDP mengunjungi UPTD Bale KITA di Kawasan Barat Islamic Center, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Bale KITA merupakan wadah dukungan pemerintah daerah bagi industri kreatif serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berbasis komunitas. Tempat ini turut mendorong promosi kerajinan, produk lokal, dan warisan budaya daerah.
Di lokasi tersebut, Victoria meninjau berbagai produk UMKM binaan Programme for Earthquake and Tsunami Infrastructure Reconstruction Assistance (PETRA), salah satu proyek UNDP.
Sejumlah produk yang diperkenalkan antara lain olahan camilan tradisional mete, madu hutan, dan keripik ubi. Produk-produk tersebut mengolah bahan pangan lokal menjadi komoditas bernilai tambah, yang diharapkan dapat memperkuat ketangguhan masyarakat pascabencana sekaligus mendukung perekonomian keluarga.
Victoria juga berdialog dengan para perajin dan pelaku usaha lokal. Pembicaraan tersebut membahas penguatan UMKM dalam membuka lapangan kerja, meningkatkan pendapatan keluarga, sekaligus menjaga kekayaan budaya setempat.
Kisah Petani Lombok Bangkit Pascagempa
Salah satu penerima manfaat program UNDP, Abdul Wahid, anggota Kelompok Tani Desa Sajang, mengungkapkan bahwa gempa bumi 2018 tidak hanya merusak bangunan, tetapi juga infrastruktur irigasi yang menjadi sumber pasokan air bagi lahan pertanian masyarakat.
Dalam kondisi tersebut, kehadiran UNDP dinilai memberikan harapan baru bagi para petani untuk kembali menjalankan aktivitas dan memulihkan perekonomian mereka.
“UNDP hadir membersamai kami memberikan semangat baru untuk bagaimana menatap kehidupan selanjutnya,” ujar Abdul.
Menurut dia, UNDP kemudian memberikan bantuan untuk memperbaiki irigasi yang rusak. Sekitar 800 meter jaringan irigasi yang sebelumnya mengalami kerusakan berhasil diperbaiki sehingga aliran air ke lahan pertanian menjadi lebih lancar.
Sebelum diperbaiki, petani harus menunggu cukup lama agar air dapat mencapai sawah. Setelah irigasi diperbaiki, kondisi tersebut berubah drastis. “Kurang dari hitungan menit air yang kami harapkan sudah bisa kami nikmati di dalam mengairi tanaman kami,” katanya.
Program tersebut juga memberikan kesempatan kepada masyarakat dan petani untuk ikut bekerja dalam proses perbaikan infrastruktur. Dengan demikian, mereka tidak hanya mendapatkan kembali akses terhadap irigasi, tetapi juga memperoleh tambahan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Hingga kini, irigasi yang diperbaiki melalui program tersebut masih dapat dimanfaatkan masyarakat dan dinilai membantu meningkatkan perekonomian warga.
“Terima kasih atas program yang diberikan, bantuan infrastruktur, baik dari segi bangunan, yang terlebih adalah kehadiran dari UNDP kepada kami. Sangat berarti ketika dalam suasana yang sangat tidak enak,” tutur Abdul.