Cerita Warga Melihat Detik-detik Erupsi Anak Krakatau

Ia menyaksikan kilatan petir dan dentuman keras, mendorongnya untuk segera kembali ke dermaga demi keselamatan.

oleh Ardi MuntheDiterbitkan 05 September 2026, 14:15 WIB
Tangkapan layar rekaman video erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) pada Sabtu (5/9/2026) dini hari yang direkam Eghie Febriansyah. (Foto. Liputan6.com/Istimewa).

Liputan6.com, Jakarta - Erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) kembali terjadi pada Sabtu (5/9/2026) dini hari. Aktivitas vulkanik tersebut disaksikan langsung sejumlah warga yang tengah berada di perairan sekitar gunung api tersebut.

Salah seorang saksi, Eghie Febriansyah, mengaku sedang memancing bersama sejumlah rekannya ketika erupsi terjadi.

Saat tiba di lokasi, kondisi Gunung Anak Krakatau belum memperlihatkan aktivitas erupsi.

"Awalnya belum ada erupsinya, masih kabut hitam. Nah, pas jam 11-an lewat baru terjadi erupsinya," ujar Eghie saat dikonfirmasi, Sabtu (5/9/2026).

Eghie menuturkan, erupsi Gunung Anak Krakatau tidak hanya terlihat secara visual. Aktivitas tersebut juga disertai suara dentuman yang terdengar dari lokasi mereka memancing.

Ia mengaku mendengar lebih dari sekali dentuman saat erupsi berlangsung. "Tiga kali, kurang lebih," katanya.

Selain suara dentuman, Eghie bersama rekan-rekannya juga melihat kilatan menyerupai petir serta semburan material panas dari arah Gunung Anak Krakatau.

"Itu kami lihatnya lebih dari sekitar 5 kilometer (area inti GAK)," ujarnya.

Melihat aktivitas erupsi tersebut, Eghie dan rekan-rekannya langsung memutuskan meninggalkan perairan sekitar Gunung Anak Krakatau.

Mereka bahkan tidak mencari lokasi lain untuk melanjutkan aktivitas memancing. Demi keselamatan, rombongan memilih kembali ke dermaga malam itu juga.

"Langsung keluar dari area situ, enggak cari spot lain lagi. Daripada terjadi apa-apa di situ, akhirnya kita keluar dan putusin untuk balik ke dermaga malam itu," jelas Eghie.

 

Kondisi Cuaca buruk

Keputusan tersebut juga dipengaruhi kondisi cuaca di perairan yang dinilai kurang bersahabat.

Eghie menyebut angin saat itu cukup kencang. Sementara gelombang diperkirakan mencapai ketinggian 4 hingga 5 meter.

"Angin lumayan kencang, ombak juga lumayan," sambungnya.

Eghie menuturkan keberadaan dirinya bersama rekan-rekan di sekitar perairan Gunung Anak Krakatau bukan bagian dari agenda rutin komunitas memancing.

Mereka datang untuk rekreasi sekaligus menghabiskan waktu bersama teman-teman kantor.

Menurut Eghie, dirinya juga tidak sering melakukan aktivitas memancing di sekitar perairan Gunung Anak Krakatau. Karena itu, erupsi yang disaksikannya secara langsung tersebut menjadi pengalaman pertama.

"Enggak sering kok. Itu juga rekreasi. Gak begitu sering. Betul, pertama kali kejadian," kata Eghie.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya