Anak Krakatau Erupsi Menerus, Jauhi Radius 3 Kilometer

Masyarakat diimbau tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat erupsi Gunung Anak Krakatau.

oleh Nanda Perdana PutraDiterbitkan 05 September 2026, 12:19 WIB
Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda kembali meningkat. (Liputan6.com/Istimewa).

Liputan6.com, Jakarta - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM mengimbau masyarakat, pengunjung, dan wisatawan tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat erupsi Gunung Anak Krakatau.

Gunung Anak Krakatau di Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, mengalami erupsi menerus sejak pukul 23.07 WIB. Aktivitas tersebut disertai kondisi lava fountain atau lava air mancur.

Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Kabupaten Lampung Selatan, Suwarno, mengatakan erupsi masih berlangsung hingga laporan pengamatan terakhir dibuat.

Berdasarkan laporan Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau, Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), periode Jumat (4/9) pukul 18.00-24.00 WIB, aktivitas erupsi masih tercatat.

“Durasi letusan masih menerus sampai laporan ini dibuat,” kata Suwarno.

Ia menjelaskan, erupsi menerus telah berlangsung sekitar 1 jam 30 menit sejak pukul 23.07 WIB. Kondisi tersebut diinterpretasikan sebagai lava fountain atau lava air mancur.

“Asap kawah berwarna kelabu hingga hitam teramati dengan intensitas sedang hingga tebal, mencapai ketinggian sekitar 100-400 meter di atas puncak kawah. Pos Pengamatan Gunung api Anak Krakatau mencatat enam kali gempa letusan dengan amplitudo 19-70 milimeter dan durasi 29-3.153 detik,” katanya.

Selain gempa letusan, Pos Pengamatan juga mencatat delapan kali gempa hembusan dengan amplitudo 12-27 milimeter dan durasi 20-43 detik.

Kemudian, tercatat 39 kali gempa frekuensi rendah dengan amplitudo 7-31 milimeter dan durasi 6-19 detik, serta 35 kali gempa hybrid/fase banyak dengan amplitudo 7-43 milimeter dan durasi 7-20 detik.

Tremor menerus (microtremor) juga masih terekam dengan amplitudo 1-60 milimeter dan dominan pada 25 milimeter.

 

Status Gunung Anak Krakatau

Aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda kembali meningkat. (Liputan6.com/Istimewa).

Suwarno menyebut peningkatan aktivitas vulkanik yang terjadi pada awal Juli menjadi dasar Badan Geologi menaikkan status Gunung Anak Krakatau dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga).

Meski demikian, aktivitas gunung api tersebut masih dapat dipantau dengan penerapan langkah mitigasi sesuai rekomendasi PVMBG.

Sejalan dengan kondisi tersebut, masyarakat, wisatawan, dan nelayan diminta mematuhi rekomendasi keselamatan dengan tidak beraktivitas dalam radius yang telah ditetapkan dari pusat erupsi. Pembatasan itu dilakukan untuk mengantisipasi risiko akibat erupsi maupun lontaran material vulkanik.

Nelayan yang beraktivitas di sekitar perairan Selat Sunda juga diminta memantau perkembangan informasi resmi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau. Kondisi cuaca juga perlu diperhatikan sebelum nelayan melaut.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya