Rupiah Menguat Lawan Dolar AS, Investor Mulai Beralih ke Mata Uang Asia

Rupiah menguat terhadap dolar AS seiring meningkatnya ekspektasi pelemahan dolar AS dan peluang perubahan kebijakan suku bunga The Fed.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 04 September 2026, 17:00 WIB
Karyawan menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di Jakarta. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah kembali menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Jumat. Penguatan rupiah didorong meningkatnya ekspektasi pelemahan dolar AS, apresiasi yen Jepang, serta pandangan dovish dari pejabat Federal Reserve (The Fed).

Pada Jumat (4/9/2026), rupiah menguat 37 poin atau 0,21 persen menjadi 17.642 per dolar AS pada akhir perdagangan. Pada perdagangan sebelumnya, rupiah berada di level 17.679 per dolar AS.

Sementara itu, rupiah juga tercermin menguat berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia. Pada Jumat, JISDOR berada di level 17.636 per dolar AS, menguat dari posisi sebelumnya 17.689 per dolar AS.

Chief Economist Permata Bank Josua Pardede mengatakan penguatan rupiah tidak terlepas dari meningkatnya ekspektasi pasar terhadap pelemahan dolar AS.

"Meningkatnya ekspektasi terhadap pelemahan dolar AS lebih lanjut, di tengah berlanjutnya apresiasi yen, turut mendukung tren penguatan rupiah," ujarnya dikutip dari Antara. 

Menurut Josua, investor juga mencermati peluang intervensi yen secara terkoordinasi serta kemungkinan kenaikan suku bunga Bank of Japan (BoJ).

Kedua faktor tersebut dinilai dapat semakin mengurangi permintaan terhadap dolar AS. Investor kemudian mulai mengalihkan sebagian aset dari dolar AS ke mata uang Asia dan negara-negara emerging markets.

Peralihan tersebut turut memberikan sentimen positif bagi rupiah di tengah dinamika pasar global.

Pernyataan Pejabat The Fed

Karyawan bank menunjukkan mata uang dolar Amerika Serikat (AS) di Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Selain pergerakan yen, sentimen dari Amerika Serikat juga ikut memberikan dorongan terhadap rupiah. Pernyataan dovish pejabat The Fed Christopher Waller menjadi salah satu perhatian investor.

Waller menyampaikan pandangan bahwa dirinya cenderung mendukung untuk mempertahankan stance kebijakan saat ini apabila inflasi terus mengalami moderasi.

Menurut Josua, pernyataan tersebut membuat pasar mengurangi ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) September 2026.

"Pernyataan dovish tersebut menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga pada pertemuan FOMC (Federal Open Market Committee) September 2026, sehingga semakin menekan permintaan terhadap dolar AS. Hingga pagi ini, probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan FOMC September 2026 yang tercermin di pasar hanya berada di sekitar 50 persen," ungkap Josua.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya