Banjir Bandang Nepal Tewaskan 1.225 Orang, Akses Bantuan Terkendala

Dari jumlah 1.225, sebanyak 1.204 di antaranya adalah korban jiwa yang tercatat di Nepal.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 04 September 2026, 07:00 WIB
Warga setempat berjalan melewati rumah-rumah yang terendam lumpur akibat banjir bandang di Devighat, Kotamadya Bidur, Distrik Nuwakot, Nepal, Kamis, 27 Agustus 2026. (AFP/ Prabin Ranabhat)

Liputan6.com, Kathmandu - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Kamis (3/9/2026) memperingatkan bahwa upaya menjangkau para penyintas banjir bandang Nepal menghadapi tantangan besar. 

Sebanyak 1.225 orang tewas dan 4.757 lainnya masih hilang di wilayah Nepal dan China sejak runtuhan gletser di pegunungan memicu bencana pada 26 Agustus. Jumlah tersebut berdasarkan data korban yang dirilis kedua negara pada Kamis.

"Ini benar-benar luar biasa, baik besarnya bencana maupun tingkat kerusakannya," kata Koordinator Residen PBB Lila Pieters Yahia kepada wartawan di Kathmandu, seperti dilaporkan CNA.

Lebih dari 800 warga negara asing dari sedikitnya 34 negara termasuk di antara mereka yang masih hilang. Mereka antara lain wisatawan dan peziarah yang berada di Nepal serta Tibet, China.

Di Kathmandu, keluarga sejumlah warga asing yang hilang mendatangi rumah sakit dan kamar jenazah untuk mencari informasi mengenai keberadaan kerabat mereka.

"Saya putus asa. Sudah berhari-hari," kata Sanjeev Rai (53), warga negara Amerika Serikat (AS) yang terbang ke Nepal untuk mencari istrinya.

Sang istri termasuk di antara sekitar 75 warga AS yang masih hilang.

Di China, keluarga menyebarkan foto orang-orang yang hilang melalui media sosial dengan harapan mendapatkan kabar.

"Cepatlah pulang. Orang tuamu sangat merindukanmu. Kami membutuhkanmu," tulis seorang perempuan di salah satu platform media sosial populer sambil mengunggah foto kerabatnya, seorang polisi, bersama istrinya.

Pemerintah China menerapkan kontrol ketat terhadap akses media dan arus informasi. Wartawan asing juga menghadapi pembatasan untuk melakukan peliputan di Tibet.

 

Akses Sangat Sulit

Tim penyelamat menggunakan alat berat untuk menjangkau rumah-rumah yang terendam air setelah banjir bandang di sepanjang Sungai Trishuli di distrik Nuwakot, Nepal, Rabu, 26 Agustus 2026. (Foto AP/Niranjan Shrestha)

Banjir menerjang kawasan pegunungan dan menghancurkan jalan, jembatan, serta bendungan pembangkit listrik tenaga air.

Permukiman di sekitar pusat bencana masih terputus dari dunia luar. PBB bersama pemerintah Nepal berupaya mengirimkan bantuan darurat ke daerah-daerah yang terdampak paling parah.

"Aksesnya sangat, sangat, sangat sulit," kata Pieters Yahia.

Menurut dia, badan-badan PBB telah menyalurkan air, perlengkapan sanitasi, makanan, dan obat-obatan.

"Itulah kebutuhan yang paling mendesak, terutama bagi masyarakat yang berada di pusat bencana."

Menteri Luar Negeri Nepal Shisir Khanal, dalam pengarahan kepada para diplomat di Kathmandu pada Kamis, menyebut bencana tersebut sebagai "tsunami Himalaya".

"Berdasarkan apa yang saya lihat langsung, kondisi di lapangan jauh lebih parah daripada yang terlihat dalam gambar," katanya. "Ini bukan banjir biasa."

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Nepal Lok Bahadur Poudel Chhetri menuturkan negaranya membutuhkan bantuan khusus dari luar negeri, termasuk drone berdaya angkut besar dan jembatan sementara. Nepal juga membutuhkan kantong jenazah serta perangkat tes DNA untuk membantu mengidentifikasi korban tewas.

Selain itu, Nepal membutuhkan sistem kontrol lalu lintas udara bergerak dan seismometer pita lebar untuk memantau getaran tanah.

Lebih dari 21.000 personel keamanan Nepal dikerahkan dalam operasi pencarian, penyelamatan, dan penyaluran bantuan.

Tim penyelamat Nepal, dibantu para ahli dari India, China, dan Korea Selatan, terus mencari korban yang dikhawatirkan terjebak di dalam terowongan pembangkit listrik tenaga air. Namun, pencarian berulang kali menemui jalan buntu dan sejauh ini belum ada korban yang dipastikan ditemukan dalam keadaan hidup.

Kementerian Energi Nepal mengatakan sebuah komite akan dibentuk untuk berkoordinasi dengan tim penyelamat sekaligus memberikan bantuan yang diperlukan kepada keluarga para pekerja pembangkit listrik tenaga air yang masih hilang.

Pieters Yahia mengatakan PBB dan pemerintah Nepal tengah membahas penggunaan helikopter dan drone kargo untuk menyalurkan bantuan ke daerah-daerah yang sulit dijangkau.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya