Liputan6.com, Jakarta - Los Angeles Clippers menghadapi hukuman berat dari National Basketball Association (NBA) setelah hasil investigasi terkait kasus Kawhi Leonard diumumkan. Klub tersebut dijatuhi denda sebesar 30 juta dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp 490 Miliar dan kehilangan lima pilihan putaran pertama dalam draf pemain.
Sanksi ini dijatuhkan menyusul temuan bahwa Clippers dan Kawhi Leonard telah melanggar aturan penghindaran batas gaji (salary cap circumvention rules) yang tertuang dalam Perjanjian Perundingan Bersama (CBA) liga dengan Asosiasi Pemain Bola Basket Nasional (NBPA).
Advertisement
"NBA mengumumkan hari ini bahwa LA Clippers dan Kawhi Leonard telah dihukum karena melanggar aturan penghindaran batas gaji yang tercantum dalam Perjanjian Perundingan Bersama (CBA) liga dengan Asosiasi Pemain Bola Basket Nasional (NBPA)," demikian pernyataan resmi dari NBA pada Rabu (2/9/2026).
Denda Fantastis dan Pencabutan Hak Draft
Denda sebesar 30 juta dolar Amerika Serikat yang dikenakan kepada Los Angeles Clippers menandai salah satu sanksi finansial terbesar dalam sejarah NBA. Hukuman ini secara langsung berkaitan dengan skandal batas gaji yang melibatkan perekrutan bintang mereka, Kawhi Leonard.
Selain denda yang signifikan, Clippers juga harus merelakan lima pilihan putaran pertama mereka dalam draf pemain. Hak draft yang dicabut meliputi satu pilihan di setiap draf NBA dari tahun 2029 hingga 2033.
Pencabutan hak draft ini merupakan pukulan telak bagi strategi pembangunan tim jangka panjang, membatasi kemampuan klub untuk merekrut talenta muda di masa mendatang.
Skorsing Pemilik dan Bantahan Awal Klub
Tidak hanya klub, pemilik Los Angeles Clippers, Steve Ballmer, turut menerima sanksi pribadi berupa skorsing selama satu tahun dari semua aktivitas liga dan tim. Skorsing ini dijatuhkan karena Ballmer "secara sadar" berupaya membantu Leonard mendapatkan peluang pendapatan di luar lapangan dan menyetujui kesepakatan bisnis yang ia ketahui sebagai prasyarat bagi perusahaan Aspiration untuk membuat perjanjian dukungan dengan Leonard.
Selain itu, Presiden Operasional Bisnis Gillian Zucker juga diskors tanpa bayaran selama satu tahun, sementara Presiden Operasional Bola Basket Lawrence Frank diskors selama enam bulan karena keterlibatan mereka dalam skema tersebut. Kawhi Leonard sendiri diwajibkan membayar denda sebesar 700.000 dolar Amerika Serikat atas pelanggaran yang dilakukannya.
Sebelum pengumuman sanksi ini, pihak Clippers telah berulang kali menyatakan bahwa mereka tidak melakukan kesalahan apa pun dan berharap akan dibebaskan dari segala tuduhan. Namun, hasil investigasi NBA membuktikan sebaliknya, menguatkan komitmen liga untuk menindak tegas setiap pelanggaran, terlepas dari status atau ukuran tim yang terlibat.