Mendag Budi Harap Neraca Dagang Indonesia Surplus hingga Akhir 2026

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso berharap harga minyak dunia dapat terkendali sehingga neraca dagang terjaga.

oleh Thurfah Mahira AhnafDiterbitkan 02 September 2026, 19:15 WIB
Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso membeberkan perkembangan neraca dagang Indonesia di tengah gejolak geopolitik global. Ia menyebut neraca dagang Indonesia sempat mencatatkan defisit pada Mei dan Juni 2026, sebelum kembali surplus senilai US$ 120 juta atau Rp 2,1 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah 17.760) pada Juli 2026.

Defisit tersebut menghentikan rekor surplus neraca dagang Indonesia yang sebelumnya berlangsung selama 72 bulan berturut-turut. Ia berharap tren surplus dapat kembali bertahan hingga akhir tahun, bahkan berkelanjutan tanpa putus di tahun-tahun berikutnya.

"Januari-Juli, ekspor kita naik 4,43%. Harapan kami sampai seterusnya surplus lagi," ujar Budi, ketika ditanya di sela acara peluncuran Trade Corporate University, Rabu (2/9/2026).

Ia menegaskan pemerintah akan terus berupaya menjaga dan meningkatkan kinerja ekspor nasional di tengah dinamika tersebut, salah satunya lewat penguatan kapasitas SDM negosiator dagang melalui Trade Corporate University yang baru diluncurkan.

Budi menyebut salah satu pemicu defisit pada Mei-Juni adalah lonjakan harga minyak mentah dunia yang sempat berada di atas US$ 100 atau Rp 1,7 juta per barel. Kondisi ini menekan neraca perdagangan migas, meski neraca nonmigas disebutnya tetap mencatatkan surplus.

"Mudah-mudahan harga minyak ini terkontrol, karena kebutuhan nasional juga cukup besar. Kita defisit migasnya, tapi surplus nonmigas tetap jalan," kata Budi.

 

 

 

Ketegangan Geopolitik, Harga Komoditas Jadi Tak Tentu

Menteri Perdagangan Budi Santoso di Kementerian Perdagangan, Selasa (14/7/2026).

Budi turut menyinggung dampak ketegangan geopolitik yang membuat pola perdagangan dan harga komoditas dunia jadi tidak menentu. Ia mencontohkan, gejolak seperti krisis di Selat Hormuz sempat membuat Indonesia kesulitan mendapat pasokan tertentu, sehingga pemerintah harus mencari pemasok alternatif.

“Misalnya ketika ada krisis di Selat Hormuz kita kesulitan dapat nafta, tapi tiba-tiba kita harus mencari supplier-nya dimana, dan dapatlah Amerika,” ucap dia.

Selain itu, Budi turut menyinggung pertemuannya dengan Menteri Perdagangan India merupakan bagian dari upaya membuka akses pasar dan sumber pasokan baru di tengah pasar global yang bergejolak.

Ia juga menyebut nilai ekspor produk unggulan Indonesia tercatat naik sepanjang Januari-Juli 2026, meski dari sisi volume mengalami penurunan.

Ia menegaskan pemerintah akan terus berupaya menjaga dan meningkatkan kinerja ekspor nasional di tengah dinamika tersebut, salah satunya lewat penguatan kapasitas SDM negosiator dagang melalui Trade Corporate University yang baru diluncurkan.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya