BIN Tanggapi Kabar WNI jadi Target Perekrutan Tentara Rusia

8 WNI yang menjadi tentara Rusia diduga korban iming-imingi pekerjaan dengan gaji menggiurkan.

oleh Ady AnugrahadiDiterbitkan 02 September 2026, 15:58 WIB
Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Muhammad Herindra (Foto: Ady Anugrahadi/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta - Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Muhammad Herindra, akan mendalami informasi terkait warga negara Indonesia (WNI) yang diduga menjadi target perekrutan untuk bergabung dengan militer Rusia. Intelijen Rusia menyebut 8 WNI sudah menjadi bagian dari militer mereka.

“Entar kita dalemin lebih lanjut ya,” kata Herindra di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (2/9/2026).

Herindra juga memastikan persoalan tersebut menjadi perhatian BIN. Saat ditanya apakah perekrutan WNI itu menjadi atensi intelijen, dia menjawab tegas.

“Pastilah," ujarnya.

Namun, Herindra belum memberikan keterangan lebih jauh mengenai jumlah WNI yang menjadi target perekrutan maupun apakah terdapat tambahan target selain delapan WNI yang sebelumnya disebut dalam informasi terkait kasus tersebut. Dia juga belum menjelaskan apakah BIN telah mengidentifikasi daerah tertentu yang menjadi konsentrasi perekrutan WNI.

 

Modus Rekrut WNI

BIN Dalami Informasi WNI Jadi Target Perekrutan Tentara Rusia

Sebelumnya, Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad mengungkapkan warga negara Indonesia (WNI) diduga direkrut untuk menjadi tentara Rusia dengan modus tawaran pekerjaan sebagai satuan pengamanan (satpam) dan tenaga administrasi.

Informasi tersebut diperoleh dari otoritas intelijen Indonesia. Para WNI ditawari pekerjaan dengan iming-iming gaji besar sebelum akhirnya dikirim untuk menjadi tentara.

“Jadi kami mendapatkan informasi dari otoritas intelijen kita bahwa perekrutan tentara itu kemudian dilakukan oleh negara pihak ketiga, yang kemudian membuat seolah-olah itu adalah lowongan satuan pengamanan ataupun kemudian tenaga administrasi yang diiming-imingi oleh gaji yang besar,” kata Dasco usai menghadiri Rapat Paripurna DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (1/9/2026).

Menurut Dasco, WNI yang tertarik dengan tawaran tersebut mendaftarkan diri melalui lowongan pekerjaan yang disediakan. Namun, mereka kemudian dikirim untuk bergabung sebagai tentara.

“Nah, para WNI ini kemudian mendaftar, lalu kemudian dari situ akhirnya dikirim untuk menjadi tentara. Begitu informasi yang kami dapat,” ujarnya.

Dasco mengatakan pemerintah Indonesia telah mengambil langkah antisipasi untuk mencegah perekrutan tersebut.

Otoritas intelijen bersama Kementerian Luar Negeri telah berkoordinasi dan mengirimkan utusan ke sejumlah negara yang berkaitan dengan proses perekrutan tersebut.

“Dan pada saat ini, otoritas intelijen dan Kementerian Luar Negeri sudah melakukan antisipasi, berkoordinasi, dan kemudian mengirimkan utusan kepada negara-negara tersebut,” kata Dasco.

 

Identitas 8 WNI

Sebelumnya, Dinas Intelijen Luar Negeri Ukraina (SZRU) mengungkap identitas delapan warga negara Indonesia (WNI) yang direkrut Rusia untuk berperang melawan Ukraina. Dalam pernyataannya, SZRU mengatakan Rusia terus merekrut warga asing untuk terlibat dalam perang melawan Ukraina. Indonesia menjadi negara terbaru yang menjadi sasaran perekrutan tersebut.

"Kremlin kini mencari orang-orang dari Indonesia untuk dikirim ke medan perang. Rusia terus secara sistematis melibatkan warga negara asing dalam perang melawan Ukraina," bunyi pernyataan itu.

Delapan WNI yang teridentifikasi dalam dokumen yang diperoleh SZRU adalah:

1. Erwanda, lahir 5 Agustus 1988

2. Muhammad Syaripudin, lahir 3 Agustus 1994

3. Putra Pratama Yuda, lahir 9 Agustus 1997

4. Hudri Fadli Ngangun, lahir 17 September 1978

5. M. Hadi Maulana, lahir 7 April 1987

6. Dwi Kencana Haryanto, lahir 14 Juli 1983

7. Wahyu Oktavian Iskandar, lahir 22 Oktober 1985

8. Helmi Hakim Nugraha, lahir 27 November 1983

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya