Perut Sinabung Bergejolak Lagi, Ini Penjelasan PVMBG

Setelah sempat terlelap selama empat tahun, Sinabung kembali bergejolak.

oleh Reza EfendiDiterbitkan 02 September 2026, 14:16 WIB
Erupsi gunung Sinabung

Liputan6.com, Jakarta - Ancaman bahaya dari Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, dipastikan belum mereda meski secara visual letusan besar tidak terlihat sepanjang hari ini, Rabu (2/9/2026).

Pemantauan ketat Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM justru mendeteksi sinyal kritis dari perut bumi, mulai dari munculnya embusan asap yang kian menebal dan menghitam, titik api di area puncak, hingga getaran tremor yang berlangsung secara terus-menerus tanpa henti sejak erupsi awal pekan ini.

Kondisi tersebut menjadi penanda kuat bahwa aktivitas vulkanisme di dalam tubuh Gunung Sinabung masih berada pada tingkat yang sangat tinggi. Setelah sempat terlelap dan tidak menunjukkan letusan selama empat tahun terakhir, kembalinya gejolak Sinabung diperkirakan oleh para ahli bukan akhir dari bencana, melainkan justru awal dari rangkaian dinamika magma baru yang menuntut kesiapsiagaan penuh dari seluruh lapisan masyarakat.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Rita Susilawati memberikan penegasan terkait perkembangan situasi terkini di kaki Gunung Sinabung.

"Gunung api Sinabung ini, per hari ini itu tidak ada erupsi ya, tapi kita masih mengamati ada asap, ada titik api juga, tremor masih teramati terus-menerus. Jadi ini kan belum menunjukkan bahwa menurun, justru kalau berdasarkan para ahli, kalau baru awal gitu setelah empat tahun berhenti erupsi, erupsi satu itu seperti baru awal, oleh karena itu ini perlu kewaspadaan, kesiapsiagaan masyarakat," kata Rita Susilawati.

Rita menjelaskan bahwa fenomena ini berkaitan erat dengan karakteristik dapur magma setiap gunung api yang berbeda satu sama lain dalam melepaskan energinya.

"Tiap gunung sekali lagi berbeda-beda. Ada yang mungkin dia itu diam dulu, kemudian erupsi, tetapi ada juga yang dia erupsinya terus-menerus, dilepaskan terus-menerus. Itulah memang yang terjadi, karena dapurnya itu ada aktivitas tersendiri. Karakteristiknya berbeda-beda, sistem magmanya berbeda-beda, sehingga itu yang menyebabkan dia bisa langsung erupsi terus-terusan, misalnya erupsi kemudian berhenti, sistem magma atau sistem vulkanisme di dalam tubuh gunung api tersebut," ungkapnya.

Lebih lanjut, Rita menyoroti rekaman kegempaan yang menunjukkan bahwa gejolak di bawah permukaan masih sangat aktif dan membesar secara mendadak.

"Kalau tremornya itu menerus, jadi dia tidak berhenti selama sejak letusan di tanggal 31 itu, sampai hari ini tidak berhenti, tapi amplitudonya sempat mengecil. Tetapi tadi sekitar jam 8 pagi itu, amplitudonya membesar lagi, dan itu ditandai dengan hembusan asapnya menebal, dan warnanya juga semakin menghitam. Kalau angka tepatnya ada di Magma, bisa dicek itu kegempaannya, tapi memang vulkaniknya masih tinggi, cukup tinggi dibandingkan biasanya ketika dia statusnya masih waspada," lanjut Rita.

Mengingat arah sebaran material dan ancaman guguran yang dominan mengarah ke sektor timur laut serta sangat bergantung pada pergerakan angin, pihak PVMBG mengimbau warga dan pengungsi untuk tidak mengabaikan potensi bahaya susulan dan tetap mematuhi seluruh panduan keselamatan dari otoritas setempat.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya