Bulog Ubah Skema Bantuan Pangan NTT, Desil 1-4 Jadi Perhatian

Bulog menjelaskan mengenai warga yang mungkin masuk desil 1-4 usai Gempa NTT.

oleh Immanuel ChristianDiterbitkan 01 September 2026, 20:10 WIB
Konferensi pers Update Bantuan Bencana NTT di Kantor Pusat Perum Bulog, Selasa (1/9/2026). (Foto: Liputan6.com/Immanuel Christian)

Liputan6.com, Jakarta - Perum Bulog membuka opsi penyaluran bantuan pangan secara kolektif kepada masyarakat terdampak bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT), termasuk warga yang kini masuk desil 1-4 akibat kehilangan kemampuan ekonomi setelah bencana.

Skema tersebut muncul karena kondisi bencana dapat mengubah status ekonomi masyarakat yang sebelumnya tidak masuk kelompok desil 1-4 menjadi kelompok yang membutuhkan bantuan pangan. Bulog akan menyerahkan bantuan secara kolektif melalui aparat desa setelah memperoleh persetujuan dan memastikan mekanisme tersebut sesuai aturan.

Dirut Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan pemerintah daerah dinilai lebih mengetahui warga yang paling membutuhkan bantuan dalam kondisi darurat bencana.

“Karena kondisi bencana, yang tadinya bukan termasuk desil 1-4 sekarang mungkin banyak yang masuk desil 1-4, karena mereka juga sekarang sudah susah semua,” kata Rizal dalam konferensi pers Update Bantuan Bencana NTT di Kantor Pusat Perum Bulog, Selasa (1/9/2026).

Rizal mengatakan Bulog biasanya menyalurkan bantuan pangan langsung kepada penerima berdasarkan data Kementerian Sosial. Namun, kondisi bencana membuat Bulog mempertimbangkan penyaluran melalui kepala daerah atau kepala desa agar bantuan dapat menjangkau warga yang paling membutuhkan.

Bulog akan terlebih dahulu melaporkan opsi penyaluran kolektif tersebut kepada pihak terkait sebelum menerapkannya. Bulog juga akan berkoordinasi dengan BPKP dan BPK untuk memastikan mekanisme penyaluran memenuhi ketentuan dan prosedur audit.

 

Siapkan Cadangan Beras

Direktur Utama Perum BULOG Letjen TNI (Purn) Ahmad Rizal Ramdhani. Pemerintah memastikan ketersediaan pangan nasional berada dalam kondisi aman hingga akhir tahun 2026. Dok Bulog

Rizal mengatakan masyarakat yang telah menerima bantuan bencana tetap dapat memperoleh bantuan pangan apabila namanya tercantum dalam data penerima. Kondisi ekonomi masyarakat setelah bencana menjadi pertimbangan dalam memastikan bantuan pangan tetap menjangkau kelompok rentan.

"Walaupun sudah dapat bantuan bencana alam, mereka juga dapat bantuan pangan yang sesuai dengan data,” ujar Rizal.

Bulog juga menyiapkan cadangan beras dalam jumlah besar untuk mengantisipasi kebutuhan selama masa tanggap darurat bencana di NTT. Ahmad mengatakan stok tersebut disiapkan hingga sekitar 10 kali lipat dari kebutuhan tanggap darurat yang sedang berlangsung.

“Beras kita banyak, jadi tidak perlu ragu dan bimbang. Kami menstokkan cadangan beras bantuan bencana ini 10 kali lipat,” kata Rizal.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya