Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah sementara Venezuela memberikan konsesi selama 100 tahun kepada North American Blue Energy Partners (NABEP), untuk mengelola 17 ladang minyak dengan total cadangan terbukti sekitar 65 miliar barel. NABEP tercatat sebagai produsen minyak swasta terbesar kedua di Venezuela dan didukung Amerika Serikat.
Gedung Putih menyebut perusahaan tersebut telah memberikan porsi kepemilikan saham sebesar 35% kepada Office of Strategic Capital di bawah Departemen Perang AS melalui perusahaan induknya. Kepemilikan itu diperkirakan dapat menghasilkan nilai dan dividen bagi Amerika Serikat hingga “ratusan miliar dolar”.
Advertisement
Melansir CNBC, Selasa (1/9/2026), Presiden Donald Trump pada Jumat pekan lalu, mengumumkan kesepakatan dengan Caracas yang akan memberikan Amerika Serikat kendali mayoritas atas 65 miliar barel minyak, atau sekitar 20% dari total cadangan minyak Venezuela yang sangat besar.
Berdasarkan data resmi, Amerika Serikat memiliki sekitar 46 miliar barel cadangan minyak terbukti hingga akhir 2024. Dalam lembar fakta yang diterbitkan pemerintah AS, Washington menyatakan akan memperoleh hak untuk membeli, dengan harga setara biaya produksi.
Di mana, sebanyak 20% dari hasil produksi yang dijamin dari seluruh ladang minyak yang saat ini maupun di masa depan dioperasikan NABEP. Kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya untuk membantu mengisi kembali cadangan minyak strategis Amerika Serikat.
Pemerintah AS juga memiliki hak penolakan pertama (right of first refusal) untuk membeli 80% produksi NABEP yang tersisa. Dengan demikian, Washington menjadi pembeli yang diprioritaskan untuk cadangan energi yang dihasilkan perusahaan tersebut.
Namun, para analis masih skeptis bahwa kesepakatan minyak bersejarah tersebut dapat secara signifikan meningkatkan produksi energi AS dan menurunkan harga bensin bagi masyarakat Amerika dalam waktu dekat.
Butuh Investasi US$ 100 Miliar
Diperlukan investasi yang sangat besar untuk mengekstraksi sumber daya minyak Venezuela yang melimpah. Produksi minyak negara tersebut saat ini masih jauh di bawah kapasitasnya akibat pengelolaan yang buruk selama puluhan tahun, minimnya investasi, serta sanksi.
Gedung Putih juga menyatakan NABEP berencana menginvestasikan hingga US$ 100 miliar untuk membangun infrastruktur minyak baru di Venezuela guna meningkatkan produksi.
Berdasarkan kesepakatan tersebut, perusahaan diperkirakan akan membayar royalti dan pajak kepada pemerintah Venezuela sebesar US$ 200 miliar selama 25 tahun pertama.