Liputan6.com, Washington D.C - Jaringan kereta bawah tanah Tremont Street di Boston, Amerika Serikat, resmi dibuka pada 1 September 1897. Pembukaan tersebut menjadi tonggak baru bagi masyarakat Boston karena untuk pertama kalinya mereka dapat bepergian menggunakan kereta di bawah tanah bersama penumpang lainnya.
Dikutip dari Boston.com, Selasa (1/9/2026), surat kabar The Boston Globe memberitakan pembukaan tersebut dengan antusias. Dalam pemberitaannya, media itu menulis bahwa kereta telah mulai beroperasi di jalur bawah tanah dan menyebut transportasi bawah tanah bukan lagi sekadar impian bagi Boston.
Advertisement
The Globe juga menggambarkan bagaimana suara mesin listrik diperkirakan akan mengubah terowongan bawah tanah menjadi ruang aktivitas baru di tengah kehidupan kota Boston yang semakin sibuk.
Media tersebut memberikan panduan kepada masyarakat yang ingin mencoba moda transportasi baru itu. Para calon penumpang diingatkan bahwa mereka harus turun ke bawah tanah untuk mencapai kereta dan terlebih dahulu membeli tiket bertanggal untuk dapat memasuki peron.
"Tanpa tiket, tidak bisa masuk," tulis The Globe.
Pembangunan tahap pertama jaringan Tremont Street Subway membutuhkan waktu sekitar dua setengah tahun. Rute awal tersebut dirancang untuk menghubungkan kawasan Park Street dengan stasiun Public Garden di Boylston Street.
Perjalanan di jalur baru itu diperkirakan hanya membutuhkan waktu sekitar empat menit. Kehadiran kereta bawah tanah diharapkan dapat membantu mengurangi kemacetan yang mulai menjadi persoalan di Boston.
"Long live the subway!" atau "Hore untuk kereta bawah tanah!" tulis The Globe menjelang peresmian.
Antusiasme masyarakat terhadap moda transportasi baru itu terlihat sehari setelah pembukaan. Dalam edisi 2 September 1897, The Globe menerbitkan kartun yang menggambarkan berbagai "pemandangan aneh" selama peresmian jaringan kereta bawah tanah.
Surat kabar tersebut memperkirakan sekitar 200 ribu hingga 250 ribu orang datang untuk mencoba sistem transportasi baru tersebut.
Namun, pengalaman perdana itu tidak sepenuhnya nyaman. The Globe melaporkan banyak penumpang merasa berdesakan dan tidak nyaman saat menggunakan kereta bawah tanah.
Kondisi tersebut menjadi gambaran awal mengenai tantangan yang kemudian akan dihadapi sistem transportasi bawah tanah seiring meningkatnya jumlah pengguna.