Soft Saving: Menabung Santai demi Nikmati Hidup Sekarang, Aman atau Bahaya?

Soft saving jadi tren finansial Gen Z: belanja dulu, tabung sisanya. Tapi tren ini juga simpan risiko dana darurat yang keropos.

oleh Asnida RianiDiterbitkan 31 Agustus 2026, 11:10 WIB
Ilustrasi soft saving. (Unsplash/Micheile Henderson)

Liputan6.com, Jakarta - Tren finansial bernama soft saving belakangan populer di kalangan Gen Z, menawarkan cara pandang lebih santai dalam mengatur keuangan. Filosofi ini menekankan kesejahteraan finansial bukan semata soal menumpuk kekayaan, melainkan kemampuan menikmati penghasilan hari ini sambil tetap menjaga keseimbangan finansial jangka panjang.

Semangat "hidup untuk hari ini, kurangi kekhawatiran soal esok" menjadi inti dari cara pandang baru ini. Soft saver berusaha menyeimbangkan persiapan untuk pengeluaran mendatang, seperti liburan atau upgrade kendaraan, dengan kehidupan yang terasa terpenuhi di masa sekarang.

Ciri utama pendekatan ini terletak pada urutan prioritas belanja terlebih dahulu, baru menabung sisa penghasilan yang tersisa, tanpa aturan ketat soal jumlah nominal yang harus konsisten setiap bulan. Dan Browne, perencana keuangan di Smith & Pinching, menjelaskan cara kerja soft saving lewat simulasi angka konkret.

"Biasanya seseorang akan mencari jumlah yang nyaman untuk disisihkan. Dalam waktu setahun, tabungan tersebut bisa terkumpul menjadi liburan yang menyenangkan, mobil, atau pakaian bermerek," ujar Browne, melansir The Independent, Senin (31/8/2026).

Soft saving berbeda dari metode menabung tradisional yang biasanya memiliki tujuan spesifik dan menuntut disiplin ketat mengencangkan ikat pinggang. Penabung tradisional cenderung menyetor jumlah tetap secara rutin ke dana pensiun atau rekening investasi, serta menyisihkan bonus kerja untuk kebutuhan darurat di masa depan.

Soft saving justru tidak selalu memiliki tujuan akhir yang jelas, lebih berfokus menyisihkan sisa uang setelah kebutuhan dan keinginan hari ini terpenuhi. Popularitas tren ini di kalangan Gen Z tidak lepas dari pola asuh yang menanamkan kebiasaan menabung sejak kecil.

2 Faktor Pendorong Popularitas Soft Saving

Ilustrasi soft saving. (Foto: Unsplash)

Generasi muda kini merasa tetap bertanggung jawab secara finansial tanpa harus menunda hidup demi tujuan yang terasa sulit dicapai, seperti kepemilikan rumah. Dua faktor utama mendorong popularitas soft saving belakangan ini.

Biaya hidup yang jauh lebih tinggi, mulai dari suku bunga KPR, biaya sewa, hingga harga pangan, membuat pencapaian milestone finansial tradisional seperti membeli rumah terasa lebih sulit dibandingkan generasi sebelumnya.

Pergeseran sikap yang lebih luas terhadap uang dan pekerjaan turut berperan, mengingat banyak generasi muda tumbuh selama masa pandemi dengan pola pikir bahwa masa depan penuh ketidakpastian, sehingga menjalani hidup hari ini menjadi prioritas.

 

Manfaat sampai Risiko

Ilustrasi soft saving. (Gambar: Ali Mkumbwa/Unsplash)

Manfaat utama soft saving terletak pada kebebasan menikmati momen penting kehidupan tanpa rasa bersalah berlebihan, termasuk pengalaman traveling yang berkesan.

Generasi yang tumbuh di tengah pandemi cenderung memahami betapa cepat keadaan bisa berubah drastis, sehingga memilih mengalokasikan sebagian penghasilan untuk pengalaman hidup dibandingkan menundanya demi tabungan jangka panjang semata.

Risiko soft saving tidak bisa diabaikan begitu saja. Pendekatan ini berpotensi menjadi pembenaran untuk pengeluaran berlebihan, sekaligus meninggalkan seseorang tanpa persiapan memadai menghadapi kebutuhan mendesak.

Soft saver cenderung tidak mengumpulkan kekayaan untuk kebutuhan masa depan seperti uang muka rumah maupun dana darurat, sementara fleksibilitas yang ditawarkan sering berujung pada inkonsistensi menabung.

 

Versi Lebih Sehat

Ilsuttrasi soft saving | unsplash.com

Otomatisasi tabungan sebenarnya menawarkan solusi atas masalah konsistensi ini, karena dana yang otomatis terpotong saat gajian tiba membuat seseorang secara efektif membayar dirinya sendiri lebih dulu.

Akses instan terhadap tabungan turut berisiko menghilangkan potensi bunga, mengingat sejumlah bank menawarkan bunga hingga delapan persen dengan syarat dana mengendap selama 12 bulan, dan bunga tersebut hilang apabila ditarik lebih awal.

Versi soft saving yang lebih sehat tetap menyertakan komponen menabung rutin untuk dana darurat maupun persiapan pensiun, meski tanpa memaksimalkan seluruh potensi dana tersebut.

Kebiasaan menabung dalam bentuk apa pun tetap dinilai lebih baik dibandingkan tidak menabung sama sekali, asalkan tidak sepenuhnya mengabaikan kebutuhan finansial jangka panjang.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya