Liputan6.com, Jakarta - Ketua Federal Reserve (the Fed) Kevin Warsh mengungkapkan kekhawatiran terhadap tingginya inflasi di Amerika Serikat (AS). Ia bahkan mengisyaratkan suku bunga bisa saja dinaikkan lagi jika belum ada kemajuan berarti dalam meredakan tekanan harga
Pernyataan yang banyak dinanti pasar ini disampaikan Warsh dalam simposium tahunan The Fed di Jackson Hole, Wyoming, Jumat, 28 Agustus waktu setempat, dilansir dari CNBC, Sabtu (29/8/2026).
Advertisement
Dalam pidato, Warsh sengaja menghindari kepastian soal forward guidance atau sinyal verbal mengenai arah kebijakan The Fed ke depan. Ia juga tidak memberi kejelasan soal reaction function, yakni indikator ekonomi yang bakal memicu perubahan suku bunga.
Meski begitu, Warsh mengakui inflasi di AS masih tinggi. "Meski data inflasi musim panas ini lebih baik dari perkiraan, itu belum menunjukkan bahwa tren dasarnya benar-benar membaik secara signifikan," ujarnya.
"Kita harus yakin bahwa inflasi inti sedang bergerak jelas menuju target kita, dengan kecepatan yang memadai. Jika tidak, artinya masih ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Itulah tugas, mandat, dan tanggung jawab kami,” ia menambahkan.
Pasar Saham Menguat, Yield Obligasi Melonjak
Usai pidato tersebut, pasar saham AS justru menguat. Sementara itu, imbal hasil obligasi Treasury melonjak cukup tajam. Obligasi tenor 2 tahun yang sensitif terhadap kebijakan The Fed naik hampir 8 basis poin atau 0,08% ke level 4,31%, tertinggi sejak akhir Juli.
Kata Ekonom
Para pelaku pasar pun ramai-ramai menaikkan perkiraan probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan kebijakan September menjadi 55,7%. Angka ini melonjak sekitar 20 poin persentase dibanding hari sebelumnya, menurut alat FedWatch milik CME Group.
Kepala Ekonom Navy Federal Credit Union Heather Long menilai, Warsh membuka peluang bagi kenaikan suku bunga The Fed. “Kenaikan kemungkinan besar tidak akan terjadi di September, tapi paling lambat Oktober atau Desember,” kata Long.
"Warsh secara eksplisit menyatakan bahwa data inflasi musim panas yang menggembirakan ini belum menunjukkan perbaikan yang 'berarti'. Pasar obligasi pun langsung merespons dengan memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga,” ia menambahkan.
Warsh menegaskan keyakinannya terhadap kredibilitas kebijakan The Fed. "Harga pasar mencerminkan keyakinan bahwa kami akan mewujudkan stabilitas harga. Dan saya pastikan, keyakinan itu benar," ujar dia.
Warsh Optimistis dengan Kondisi Ekonomi
Di luar kekhawatirannya soal inflasi, yang ia sebut sebagai fokus utama The Fed, Warsh justru terlihat cukup optimis terhadap kondisi perekonomian AS secara umum, yang menurutnya semakin menguat.
Ia kembali menyinggung manfaat kecerdasan buatan (AI) bagi perekonomian, serta menyebut belanja dunia usaha dan konsumen masih terjaga dengan baik. Soal perlambatan perekrutan tenaga kerja, Warsh menilai itu bukan tanda pelemahan ekonomi, melainkan akibat melandainya pasokan tenaga kerja.
Warsh juga memaparkan filosofi kebijakannya dalam pidato tersebut, tetapi tetap hati-hati agar tidak memberi sinyal soal langkah konkret untuk mencapai dwi-mandat The Fed: menjaga inflasi rendah sekaligus mendorong lapangan kerja penuh.
Warsh Tanggapi Kritik
"Hari ini saya berdiri di sini dengan komitmen untuk disiplin, bukan untuk sebuah keputusan," ujar Warsh di hadapan Federal Open Market Committee (FOMC).
Warsh Tanggapi Kritik Soal Kebijakan
Selama ini, Warsh kerap dikritik karena dianggap terlalu tertutup soal arah kebijakannya, di tengah inflasi yang masih jauh di atas target 2% The Fed. Ia memang dikenal menentang praktik forward guidance, yang menurutnya sudah terlalu lama "menuntun tangan" pasar—padahal pelaku pasar seharusnya cukup membaca data, bukan bergantung pada pernyataan The Fed.
Di awal pidatonya yang bertajuk "In Our Time", Warsh sempat bergurau. "Silakan sebut ini garis besar, sebut saja peta jalan, tapi jangan sebut ini forward guidance.”
Namun, pesan yang lebih luas dari pidato ini sebenarnya adalah soal perubahan cara pandang The Fed terhadap perannya di hadapan pasar dan publik.
Sejak menjabat pada Mei lalu, Warsh menyebut hari itu menandai hari ke-100 masa jabatannya sebagai Ketua The Fed. Selama itu, ia sudah membentuk lima gugus tugas untuk mengkaji berbagai fungsi bank sentral. Salah satu tema utama yang terus ia dorong adalah agar pasar tidak lagi terlalu bergantung pada setiap perkataan para pengambil kebijakan.
"The Fed berperan penting dalam perekonomian dan pasar. Dan alat-alat kebijakan kami sangat berpengaruh. Kami yang menentukan arah suku bunga jangka pendek. Dan pelaku pasar akan selalu menebak langkah kami selanjutnya," kata Warsh.
Warsh Bawa Arah Baru The Fed
"Tapi kami tidak seharusnya membiarkan pola pikir di mana pelaku pasar terus-menerus menggantungkan keputusan trading-nya semata-mata pada sinyal dari The Fed,” tegasnya.
Gaya Warsh ini berbeda dari pada pendahulunya, yang biasanya memanfaatkan momen Jackson Hole untuk memberi sinyal arah suku bunga atau mengumumkan perubahan besar pada kerangka kebijakan. atau memaparkan pendekatan baru dalam kebijakan moneter. Pada 2025, mantan Ketua The Fed Jerome Powell mengisyaratkan kemungkinan pemangkasan suku bunga, yang langsung memicu reli agresif di Wall Street.
Jabatan Warsh Tanpa Reaction Function
Dalam masa jabatan yang masih singkat, Warsh ingin membawa arah baru untuk kembali ke era The Fed sebelum krisis finansial—ketika pasar tidak diberi sinyal yang pasti, dan The Fed membatasi dalam menggerakkan pasar.
Meski para pelaku pasar sudah mulai terbiasa dengan absennya forward guidance, mereka masih berharap Warsh setidaknya mau memberikan reaction function—faktor yang akan memicu perubahan kebijakan. Namun, ia tetap enggan memberi kepastian soal itu.
"Jadi, kalau forward guidance dianggap tidak cocok untuk masa-masa normal, lalu bagaimana jika ketua The Fed yang baru berkomitmen—setidaknya—pada sebuah reaction function yang jelas? Tentunya, ia harus bisa menjelaskan arah suku bunga—misalnya, jika data ternyata datang terlalu panas atau terlalu dingin," ujarnya menanggapi kritik yang selama ini diterimanya.
Ia bahkan secara khusus mempertanyakan apakah The Fed sebaiknya menetapkan aturan baku yang harus diikuti.
Warsh Berkomitmen Bangun Model Unggul
Namun, Warsh menegaskan, pPengetahuan kita belum sejauh itu setidaknya belum untuk saat ini karena faktor-faktor yang paling relevan bagi kebijakan moneter yang tepat terus berubah seiring waktu.
"Selama saya menjabat sebagai Ketua, saya dan rekan-rekan akan berupaya membangun model yang lebih andal dan aturan yang lebih kokoh untuk memandu keputusan kebijakan. Kami menyadari bahwa akurasi dalam peramalan ekonomi masih sebatas cita-cita, belum tercapai sepenuhnya. Dengan begitu banyak perubahan cepat—baik dari sisi geopolitik, rantai pasok global, maupun teknologikita perlu bersikap rendah hati soal apa yang benar-benar kita ketahui dan tidak," ujarnya.
Warsh tidak menyinggung soal pengumuman terbaru dari Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengenai percepatan pembelian kembali (buyback) surat utang pemerintah—sebuah langkah yang tampak bertentangan dengan keinginan Warsh untuk mengurangi keterlibatan pemerintah dalam pasar.